DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Blogwalking saya minggu lalu membuat saya “tersasar” di video youtube ini. Video berdurasi 5 menit-an ini membawa permenungan bagi saya akan apa yang sedang terjadi di negara kita saat ini.

Video ini membawa pesan akan perbedaan termasuk rasialisme. Menurut kbbi.web.id, rasialisme adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul. Di video tersebut terdapat beberapa orang yang diajak untuk mengikuti tes DNA Journey untuk melihat sejatinya mereka berasa dari Negara/suku mana.

Berdasarkan penjelasan dari video tersebut, DNA didapatkan dari kedua orang tua, di mana kedua orang tua kita juga mendapatkan DNA dari orang tuanya, dan begitu seterusnya. Yang menarik adalah banyak di antara mereka yang kaget dengan hasil tes tersebut.

Ada seorang yang sangat bangga berasal dari Inggris, tetapi sangat membenci Jerman. Tak disangka di DNA nya terdapat Jerman di dalamnya. Ada yang sangat yakin berasal 100% dari Islandia dan menganggap Negaranya lah yang paling hebat dibandingkan dengan Negara lain, tetapi ternyata Ia memiliki DNA gabungan Eropa Timur, Spanyol, Portugal, Italia, hingga Yunani. Ada yang membenci Turki (pemerintahan), tetapi ternyata memiliki DNA Turki, dan lain sebagainya (ada beberapa video lainnya yang memuat tiap individu yang dites). Mereka tertegun sembari berpikir, “bagaimana mungkin Saya membenci Negara yang merupakan bagian dari diri Saya sendiri?”

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Kembali lagi ke konteks Negara kita. Ketika kita mengatakan “Saya asli Jawa”, “Saya dari Papua”, “Saya murni Batak”, “Saya keturunan Cina”, apakah kita yakin bahwa kita 100% berasal dari daerah tersebut? Seperti yang diterangkan di atas, DNA didapatkan dari kedua orang tua, di mana kedua orang tua kita juga mendapatkan DNA dari orang tuanya, dan begitu seterusnya. Dengan latar belakang sejarah di mana Indonesia pernah dijajah oleh beberapa Negara ratusan tahun lamanya, ditambah dengan keanekaragaman suku yang ada, tentu generasi saat ini “hampir dapat dipastikan” kita memiliki DNA yang berkombinasi.

Mengambil contoh yang ekstrem. Jika Saya mengejek teman dari suku tertentu, apakah Saya yakin bahwa di dalam DNA saya tidak terdapat suku yang sedang Saya ejek? Atau jangan-jangan, Saya sedang mengejek suku saya sendiri?

Contoh ekstrem yang lain. Seandainya tes tersebut dapat mengcapture agama seseorang. Ternyata DNA saya mengatakan bahwa tidak 100% dari diri DNA Saya memeluk Agama yang Saya yakini saat ini (mungkin didapat dari kakek, atau kakeknya kakek, atau kakeknya kakeknya kakek, who knows?). Jangan-jangan Agama orang lain yang selama ini Saya anggap salah (dan mungkin Saya ejek), justru berada di dalam DNA Saya…

Postingan video tersebut menjadi viral tahun lalu, hanya saja baru Saya lihat tahun ini. Terlepas dari apakah video tersebut hanya iklan (dibuat-buat) atau 100% asli, video tersebut mengajarkan kita untuk tidak menjadi seorang yang rasis, karena pada dasarnya kita adalah manusia yang beragam baik dari Negara, suku, budaya, hingga Agama. Toh pada intinya adalah saling menghargai. Bersyukurlah kita mengenal semboyan “Bhinneka Tuggal Ika“. Let’s kick rasicm out of the world!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*bagi yang ingin nonton dengan subtitle, silahkan ke sini

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

*sumber foto: AmericanExpress

 

Kekerasan dalam Pendidikan, Sampai Kapan?

risktekdiktiAwal tahun ini kita agak digegerkan dengan berita yang menghias media,baik online maupun cetak. Mulai dari isu pilkada, agama, pergerakan KPK, hingga berita dari dunia pendidikan. Dan harus jujur, mostly berita-berita tersebut mengandung nada negatif. Yang menarik perhatian Saya adalah berita duka dari dunia pendidikan. Saya bukan seorang guru, bukan seorang dosen, bahkan jauh juga jika dibilang seorang edukator. Tetapi berita ini cukup menyesakkan dada, di mana 1 orang mahasiswa STIP dan 3 orang mahasiswa Unisi (UII) meninggal karena ‘diduga’ adanya unsur kekerasan dari senior-seniornya. Turut berduka cita untuk semua korban, semoga dilapangkan jalannya menuju Surga, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin. Dan, salut untuk Pak Harsoyo yang dengan gentle mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Rektor UII.

Pertanyaan klasik. Mau sampai kapan kekerasan menghiasi dunia pendidikan yang seharusnya penuh dengan kegembiraan, semangat, dan impian? Mau sampai kapan kita mendengar jatuhnya korban karena ‘digembleng’ oleh seniornya?

Saya teringat akan seorang teman yang bercerita bagaimana dia mengubah culture dari suatu ekstrakurikuler yang dia ikuti di sekolah. Dia memperkenalkan Sistem Among, yang merupakan salah satu cara pelaksanaan pendidikan di Kepramukaan. Sistem Among tidak lain dan tidak bukan adalah gagasan dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Tentu kita tidak asing jika mendengar, “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KASRO, TUT WURI HANDAYANI“. Konsep sederhana dari Ki Hajar Dewantara ini yang dewasa ini ‘mungkin’ sudah terlupakan.

pelajar-indonesia

ING NGARSO SUNG TULODO : Di depan memberi teladan
ING MADYA MANGUN KASRO : Di tengah membangun kemauan/semangat
TUT WURI HANDAYANI : Di belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik untuk kemandirian

Saya membayangkan para senior di sekolah/kampus mempraktekkan konsep Sistem Among ini.

Ketika tampil di depan juniornya, mereka berlomba-lomba memberikan teladan yang positif serta menunjukkan prestasi mereka…
Ketika sedang bersama di tengah-tengah juniornya, para senior ini membangun kemauan dan semangat bersama para junior….
dan dari belakang, para senior ini memberikan dorongan serta pengaruh yang baik untuk kemandirian para junior…

Para senior ini sesungguhnya dapat menjadi motivator dan inspirator bagi para junior. Tentu akan harmonis ketika melihat para junior ‘digembleng’ dengan cara seperti ini oleh para senior. Dan pada akhirnya sang junior, yang nanti akan menjadi senior, berlomba-lomba untuk tampil di depan junior mereka nantinya, dengan menampilkan teladan serta prestasi yang mereka punya. Ah, semoga bukan hanya mimpi…

PR besar menanti para pejuang, praktisi, dan pemerhati pendidikan untuk menghilangkan kekerasan yang seolah sudah menggurita di tubuh pendidikan kita. Semangat teman!

Sebagai sarana menegur diri… Apa yang bisa Saya lakukan?
Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

*sumber foto: here, here

Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

orang-hebat

2017 sudah mulai menginjak minggu ke 2. Aktifitas rutin sudah mulai dilakukan kembali. Tak heran jalanan yang pada akhir Desember lalu terlihat begitu lenggang, kini menjadi penuh sesak oleh para pencari nafkah dan pencari ilmu.

Awal minggu ini di kantor, ada aktifitas rutin tahunan di mana semua karyawan berkumpul untuk mendengarkan evaluasi bisnis tahun lalu hingga target serta strategi di tahun baru ini. Untuk menghangatkan acara, panitia mengundang Komika yang sedang naik daun, Cak Lontong. Tak heran, muka-muka serius dari awal acara berubah menjadi gelak tawa seakan lupa akan target-target yang baru saja “diberikan” oleh top manajemen.

cak-lontong

Selfie dengan Cak Lontong

“Saya ini mulai semua dari bawah. Setelah SMA, Saya mau kuliah. Ibu Saya bilang, Kamu mau Kuliah? Ya Udayana. Yaudah, abis itu saya gak kuliah,” Ucap Cak Lontong dalam salah satu materinya. Penonton heran. Loh, Ibunya saja menyarankan untuk kuliah di Udayana, yang notabene merupakan salah satu Universitas Top di Indonesia, tepatnya di Bali. “Ya Saya gak jadi kuliah. Wong, Ibu Saya bilang, Uda(h) ya Na(k), Uda(h) ya Na(k),” Tambah Cak Lontong sambil memperagakan gerakan elusan seorang Ibu kepada anaknya. Sontak pecahlah ruangan dengan tawa dari penoton.

Pikiran Saya langsung tertuju pada kalimat-kalimat awal komedian yang populer dengan kata “Mikir” ini. Dan benar. Cak Lontong, yang dalam pikiran Saya adalah seorang komika yang hebat, tidak mendapatkan popularitas, ketenaran, dan kesuksesannya dengan instan. Jalannya panjang dan berliku. Otak Saya langsung merecall teman-teman Saya yang juga Saya cap sebagai orang hebat. Ah, tiba-tiba Saya merasa minder. Mereka terlalu hebat, bahkan ada yang dapat Saya katakan sebagai seorang yang jenius. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka hebat? Kenapa mereka bisa sehebat itu?

Bahkan seorang Albert Einstein pernah beberapa kali tidak naik kelas. Harland Sanders baru menemukan KFC di usia tuanya. Seorang seperti Habibie mengalami jatuh bangun sebagai seorang engineer. Pesepakbola Messi pernah dianggap terlalu ‘cebol’ untuk menjadi pemain bola. Seorang sukses semacam Deddy Corbuzier juga tak lancar dalam awal-awal sekolahnya. Begitu pun dengan teman-teman Saya yang hebat itu. Mereka tidak terlahir dengan cap “HEBAT”. Mereka tidak terlahir dengan cap “JENIUS”.

Apakah dari lahir Einstein langsung dibilang sebagai anak yang jenius? Apakah Harland Sanders dari lahir adalah seorang chef yang hebat? Apakah dari lahir seorang Habibie dapat membuat pesawat terbang? Apakah dari lahir Messi sudah jago mengolah bola? Apakah dari lahir Deddy Corbuzier mendapatkan predikat sebagai mentalist terbaik? Apakah Cak Lontong dari lahir mendapatkan predikat sebagai seorang komika yang sukses? Apakah dari lahir orang-orang hebat itu pintar? The answers are no!

lionel-messi

Lionel Messi dulu sempat dicap terlalu kecil untuk pemain bola

Mereka mendapat cap “HEBAT”, “PINTAR”, atau bahkan “JENIUS”, setelah mereka berhasil membuat suatu karya. Karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Karena itulah mereka mendapat cap tersebut. Tapi nyatanya, itu semua dihasilkan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Juga bukan dengan terlahir sebagai anak pintar. There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sedikit tamparan bagi Saya yang kerap kali melihat mereka sembari bergumam, “Ah, enak sekali hidup mereka. Nyari duitnya gampang banget ya”. Yang sering kali Saya lupakan adalah di balik kehebatan mereka, bersembunyi kata “consistent” dan “persistent”. Kembali Saya teringat para manager dan bos-bos yang pernah Saya temui. Ah, patternnya kurang lebih sama. Mereka tidak lahir dengan jabatan yang mereka emban. Ada perjuangan yang konsisten dan gigih yang tidak Saya tahu di balik kesuksesan mereka sekarang.

Malam sudah semakin larut. 2 kata tersebut masih jadi PR tersendiri bagi Saya. Kehebatan orang-orang tersebut, termasuk teman-teman Saya, paling tidak memberi Saya inspirasi. Semoga begitu juga dengan Anda.

Once again..
 There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*artikel ini adalah terusan dari artikel : Masih Jalan di Tempat?

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

Baca Juga Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

Sumber foto: here, here

Hidup Sesuai Kemampuan

transaksi-rupiah

“Ah, anak itu. Gayanya banyak sekali. Update foto-foto gaulnya di medsos, jalan-jalan, terus makan di tempat mewah. Padahal Saya tahu persis gajinya berapa. Penasaran, bagaimana cara dia mengatur uangnya ya? Atau Cuma banyak gaya aja tuh anak.” Ucap seorang HR Manager.

“Ya, mungkin saja dia punya sampingan, jadi uang jajannya banyak,” jawab Saya sekenanya.

Begitulah dunia zaman sekarang. Gaya hidup mewah dimana-mana dan diumbar oleh sang pelaku dengan bangga. Tak masalah jika memang sang pelaku memiliki penghasilan yang besar, toh zaman sekarang luxury business sedang menjadi tren (bahkan di Eropa ada beberapa mata kuliah yang berfokus pada  luxury business management).

Bagaimana dengan orang-orang yang justru sebaliknya (penghasilan tak seberapa tapi gayanya wah)? Mereka kadang tak peduli kondisi keuangan yang gali lobang, tutup lobang. Penampilan yang keren menjadi sasaran dan target utama. “Yang penting gaya gue keren,” begitu katanya. Golongan ini adalah orang yang sangat mengikuti perkembangan tren sehingga life style pun mengikuti tren yang memang sedang happening. Yang menjadi masalah adalah kehidupan mewah yang diekspos ini hanya untuk memenuhi standar pergaulan semata, padahal penghasilan tak seberapa. Kalau istilah sekarang, mereka ini adalah golongan BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), memiliki kemauan yang banyak, tetapi kemampuan (finansial) sangat terbatas.

Sebagai sarana menegur diri, semoga kita dijauhkan dari sifat golongan orang-orang BPJS. Seperti judul di atas, ada baiknya hidup sesuai kemampuan, bukan kemauan.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*Bagi yang mau tahu tentang luxury business management, ini adalah insight mengenai luxury business dari konsultan Bain and Co:
http://www.bain.com/Images/BAIN_REPORT_Global_Luxury_2015.

BACA JUGA Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

BACA JUGA Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

BACA JUGA Apa Gunanya Sekolah?

Sumber foto: here

 

 

Perlukah S2?

sarjanaaPerlukah S2?

Pertanyaan klasik yang sering saya jumpai ketika sedang membawa sesi sharing atau training untuk adik-adik yang masih SMA ataupun mahasiswa S1. Banyak dari mereka menganggap bahwa dengan memiliki gelar S2, maka masa depan mereka terjamin cerah dan kesuksesan dapat mudah diraih. Pertanyaannya, benarkah begitu?

Hingga sekarang, saya melihat bahwa tidak ada garis linear antara gelar akademis dengan masa depan yang cerah. It depends on you! Tidak ada jaminan bahwa dengan gelar S2 hingga S3 maka karir akan melejit. Hal tersebut sama dengan memiliki gelar S1 bukan berarti kita akan terjamin diterima bekerja di perusahaan. Oh iya, banyak kok orang dengan S1 yang sukses luar biasa, bahkan ada yang (hanya) berijazah SMA!

Lantas, siapakah yang membutuhkan gelar S2? Jika kita memang tertarik dengan dunia akademis dan research, maka gelar S2 terasa tepat, bahkan mungkin sampai S3. Begitupun jika kita merasa masih membutuhkan tambahan ilmu dan pengetahuan. Mendaftar S2 dapat menjadi solusinya.

Yang menjadi kurang tepat adalah ketika kita mendaftar S2 hanya karena gaya-gayaan, mengikuti teman, hanya untuk mengisi waktu kosong karena nganggur, atau bahkan disuruh orang tua. Saya jadi teringat tulisan Hasanudin Abdurakhman di kompas, “tanpa tujuan yang tegas dan spesifik, melanjutkan kuliah S2 hanya akan memperpanjang masa status mahasiswa.”

Kembali lagi ke paragraf awal. Sekalipun sudah memegang gelar, baik S1, S2, maupun S3, manfaat dari gelar tersebut hanya akan kita rasakan jika memang kita mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat, serta terus ‘haus’ untuk belajar. Tak ada jaminan, tak ada garansi. Semua kembali lagi pada diri kita.

Salam Damai,

Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

Baca Juga Hikmah Kontroversi Arcandra: Indonesia Butuh Talent Pool?

Baca Juga Inikah Sistem Pendidikan Kita?

*sumber foto: here

 

Pembelajaran dari Switzerland Got Talent

Malam ini di newsfeed FB saya muncul 1 video yang dishare oleh seorang teman. Melihat judul video tersebut, saya pun meluangkan waktu untuk membuka video tersebut. Ah, ternyata worth it! Sepertinya memang video lama, tetapi menariknya, pesan dari video tersebut cukup dalam.

Ini link videonya di youtube:

Video tersebut berisi salah satu sesi audisi Got Talent, yang belakangan saya ketahui berasal dari Swiss. Di satu sisi bahasa tersebut memang tidak saya pahami, tetapi alur ceritanya sudah tergambar. Di video ini seolah-olah ‘menampar’ kita.

Bagi para orang tua, video ini mengajarkan agar kita tidak menuntut anak kita untuk bisa melakukan hal A,B, ataupun C dalam waktu instan. Terkadang kita memaksa mereka untuk sudah bisa bicara, fasih berbahasa Inggris ataupun berhitung. Lebih parah lagi jika sudah kita bandingkan dengan anak orang lain. Toh anak-anak sudah memiliki bakat di dalam diri mereka, hanya untuk mengeluarkannya memang butuh waktu.

Bagi para fresh graduate, video ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menapaki karir. Tidak bisa semuanya serba cepat dan instan. Seperti pelukis di atas, walaupun semua judges sudah berkata NO, Ia tetap dengan ‘PeDe’ berkarya, hingga waktu yang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagi para line manager, bersabarlah dalam membimbing dan mengembangkan anak buah. Tidak semua anak buah dapat mengeluarkan talent nya dalam waktu singkat. Terbayangkan jika anak buah kita seperti sang pelukis di atas? Di saat kita sudah mereject mereka, ternyata talent sesungguhnya baru dapat kita lihat. Eh, keburu dicaplok perusahaan lain deh 😀

Bagi para entertainer, video ini mengajarkan kita untuk terus konsisten dalam berkarya. Akan banyak ‘angin’ yang berhembus, akan banyak haters yang muncul, toh sepanjang karya yang diberikan bersifat positif, orang lain tentu dapat melihat hasilnya.

Bagi para pejabat publik, video ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja. Kita perlu melihat secara keseluruhan sebelum memberikan pendapat dan berkoar-koar, terlebih jika hal tersebut mengatasnamakan rakyat. Jangan sampai kita seperti para judges yang menyesal karena telah memutuskan menolak sang pelukis sebelum melihat hasilnya secara keseluruhan.

Bagi para pengajar, bersabarlah dalam mendidik. Kemampuan setiap anak murid anda berbeda-beda. Talenta yang mereka punyai pun berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa anak yang memiliki bakat di musik untuk memiliki nilai sempurna di pelajaran Matematika,begitu pun sebaliknya. Bersabarlah. Waktu akan menunjukkan talenta mereka, dan di saat itulah peran anda akan semakin dibutuhkan.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil…

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga 7 Keberanian

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

 

 

Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

kuliah-sambil-kerjaJika ada kesempatan, tentu setiap orang ingin mendapatkan pendidikan yang baik bahkan banyak orang berlomba-lomba untuk mengeyam pendidikan setinggi-tingginya hingga bangku kuliah. Ada yang mengejar beasiswa, ada yang menabung terlebih dahulu, ada yang menggunakan uang orang tua, ada pula yang memilih untuk kuliah sambil bekerja. Nah, sedikit sharing di poin terakhir, untuk kalian yang sedang/pernah/akan memilih opsi kuliah sambil bekerja. Ini dia. Kita mulai dari yang dukanya dulu:

‘DUKA’

  1. Ngejar KPI di kantor atau deadline tugas ya?

    Hasil gambar

    KPI Vs Tugas via http://Nisrina.co.id

Well, ini klasik, tetapi sesungguhnya ini yang terjadi. Orang-orang yang memilih kuliah sambil bekerja secara tidak langsung memiliki 2 kewajiban utama yang harus dipenuhi, yaitu sebagai karyawan dan juga sebagai mahasiswa. Di kantor, bos sudah menagih kerjaan-kerjaan sebagai bagian dari KPI (Key Performance Indicator), di sisi lain, dosen juga memberi tugas yang ternyata “cukup” banyak dan menyita waktu.

  1. Ngantuk beraaat!

    Hasil gambar

    Ngantuk di saat kerja via http://www.indogetjob.com

Biasanya, waktu kuliah orang-orang yang sambil kerja ini adalah di malam hari dan juga di weekend (biasanya weekdays hingga pukul 21.00 dan full day untuk weekend). Mau tak mau tugas dikerjakan di malam hari, apalagi tugas yang dikerjakan biasanya tugas kelompok. Karena susah mencari waktu dan tempat mengerjakan, alhasil biasanya malam hari selepas kuliahlah menjadi waktu yang paling tepat untuk mengerjakan tugas. Tempatnya pun tak jauh-jauh, ya di kampus! Tak heran ketika paginya masuk kantor, orang-orang ini akan datang dengan mata sayu yang ditemani dengan seringnya menguap.

  1. Weekend terhampas

Seperti yang Saya sebutkan di poin nomor 2, biasanya waktu perkuliahan orang-orang yang sambil bekerja ini adalah di malam hari dan weekend (ada yang hari Sabtu, dan ada juga yang di hari Minggu). Alhasil, waktu untuk keluarga, teman-teman, hingga pasangan perlu diatur sedemikian rupa agar tetap balance. Belum lagi jika masih harus mengerjakan tugas di periode weekend. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? 😀

 Sekarang kita masuk ke part ‘SUKA’

  1. Membuka Jejaring

    Hasil gambar

    Membuka jaringan via http://chainimage.com/

Hal positif pertama dari kuliah sambil kerja adalah kita membuka jaringan kita. Jika selama ini kita hanya memiliki teman profesi di kantor, dengan kuliah sambil kerja, kita memiliki teman profesi dari kantor lain. Ada Manager dari PT A, ada GM dari PT. B, ada Owner perusahaan, dll. Seru kan?

  1. Implementasi langsung di kantor

    Hasil gambar

    Implementasi langsung via http://iniod.com/

Jika selama ini kuliah identik dengan teori-teori, beda halnya jika kita memilih kuliah sambil bekerja. Teori-teori yang ada di kampus dapat kita implementasikan langsung di kantor. Atau minimal, kita bisa langsung tahu bagaimana penerapan teori tersebut di lapangan. 🙂

  1. Hemat Umur

Nah ini salah satu keuntungan mereka yang memilih kuliah sambil bekerja. Alih-alih memilih fokus kuliah saja, kuliah sambil kerja bisa membawa keuntungan dengan ‘periode waktu kerja dapat kita hitung sebagai pengalaman kerja kita’. Misal: Si A kuliah sambil kerja selama 2 tahun hingga lulus S2, maka si A memiliki 2 tahun pengalaman kerja dan juga mengantongi gelar master.

Yap, itu dia sekilas suka dan dukanya kuliah sambil kerja. Yang pasti, untuk yang akan memilih kuliah sambil kerja, silahkan diatur waktu sebaik mungkin agar 2 kewajiban ini dapat terlaksana dengan baik. Toh, segala pilihan pasti ada konsekuensinya, kan?

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Threshold Competitor – A Business Game

Baca Juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

Baca Juga Inikah Sistem Pendidikan Kita?