Fun Week at Manulife Singapore

Last week I had a chance to visit our office at Singapore. It was a great experience to see how Manulife in other countries operate and doing the business. Beside that, the project that I was working on is also very excited! We did an end user testing on one of our HR portal and system that will be used by employees globally to enhance and manage their career.

Being the observer of the test was such a priceless experience for me. I love to see how people’s reaction and asking questions – also sometimes they give the ideas and solutions to improve the system!

I also had a chance to meet my very 1st line manager, Audrey Ledbetter and the lovely ‘Schneider Electric Learning Services Team’, Maria Grace and Wei Kian. It was great to see them again since our last face to face was 2 years ago in Thailand.

Oh ya, I didn’t forget to capture some moments and visit some of places there! Here they are:

This slideshow requires JavaScript.

Thanks Manulife!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Jadi Bintang Iklan Kantor!

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

 

Advertisements

DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Blogwalking saya minggu lalu membuat saya “tersasar” di video youtube ini. Video berdurasi 5 menit-an ini membawa permenungan bagi saya akan apa yang sedang terjadi di negara kita saat ini.

Video ini membawa pesan akan perbedaan termasuk rasialisme. Menurut kbbi.web.id, rasialisme adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul. Di video tersebut terdapat beberapa orang yang diajak untuk mengikuti tes DNA Journey untuk melihat sejatinya mereka berasa dari Negara/suku mana.

Berdasarkan penjelasan dari video tersebut, DNA didapatkan dari kedua orang tua, di mana kedua orang tua kita juga mendapatkan DNA dari orang tuanya, dan begitu seterusnya. Yang menarik adalah banyak di antara mereka yang kaget dengan hasil tes tersebut.

Ada seorang yang sangat bangga berasal dari Inggris, tetapi sangat membenci Jerman. Tak disangka di DNA nya terdapat Jerman di dalamnya. Ada yang sangat yakin berasal 100% dari Islandia dan menganggap Negaranya lah yang paling hebat dibandingkan dengan Negara lain, tetapi ternyata Ia memiliki DNA gabungan Eropa Timur, Spanyol, Portugal, Italia, hingga Yunani. Ada yang membenci Turki (pemerintahan), tetapi ternyata memiliki DNA Turki, dan lain sebagainya (ada beberapa video lainnya yang memuat tiap individu yang dites). Mereka tertegun sembari berpikir, “bagaimana mungkin Saya membenci Negara yang merupakan bagian dari diri Saya sendiri?”

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Kembali lagi ke konteks Negara kita. Ketika kita mengatakan “Saya asli Jawa”, “Saya dari Papua”, “Saya murni Batak”, “Saya keturunan Cina”, apakah kita yakin bahwa kita 100% berasal dari daerah tersebut? Seperti yang diterangkan di atas, DNA didapatkan dari kedua orang tua, di mana kedua orang tua kita juga mendapatkan DNA dari orang tuanya, dan begitu seterusnya. Dengan latar belakang sejarah di mana Indonesia pernah dijajah oleh beberapa Negara ratusan tahun lamanya, ditambah dengan keanekaragaman suku yang ada, tentu generasi saat ini “hampir dapat dipastikan” kita memiliki DNA yang berkombinasi.

Mengambil contoh yang ekstrem. Jika Saya mengejek teman dari suku tertentu, apakah Saya yakin bahwa di dalam DNA saya tidak terdapat suku yang sedang Saya ejek? Atau jangan-jangan, Saya sedang mengejek suku saya sendiri?

Contoh ekstrem yang lain. Seandainya tes tersebut dapat mengcapture agama seseorang. Ternyata DNA saya mengatakan bahwa tidak 100% dari diri DNA Saya memeluk Agama yang Saya yakini saat ini (mungkin didapat dari kakek, atau kakeknya kakek, atau kakeknya kakeknya kakek, who knows?). Jangan-jangan Agama orang lain yang selama ini Saya anggap salah (dan mungkin Saya ejek), justru berada di dalam DNA Saya…

Postingan video tersebut menjadi viral tahun lalu, hanya saja baru Saya lihat tahun ini. Terlepas dari apakah video tersebut hanya iklan (dibuat-buat) atau 100% asli, video tersebut mengajarkan kita untuk tidak menjadi seorang yang rasis, karena pada dasarnya kita adalah manusia yang beragam baik dari Negara, suku, budaya, hingga Agama. Toh pada intinya adalah saling menghargai. Bersyukurlah kita mengenal semboyan “Bhinneka Tuggal Ika“. Let’s kick rasicm out of the world!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*bagi yang ingin nonton dengan subtitle, silahkan ke sini

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

*sumber foto: AmericanExpress

 

7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

PK Movie Poster.jpg

PK Movie – via http://www.koimoi.com

Malam ini saya habiskan untuk menonton film PK (2014) untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya saya putuskan untuk mencoba menulis beberapa insights yang saya dapat dari film tersebut.

Film yang dibintangi oleh Aamir Khan (PK) dan Anushka Sharma (Jaggu) ini menceritakan tentang datangnya seorang alien dari planet lain, yang diutus untuk melakukan penelitian di bumi. Tetapi baru saja mendarat di bumi, kalung remote control, yang merupakan perangkat penting untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, dicuri orang. Untuk mendapatkan remote control itu kembali, PK – yang diperankan oleh Aamir Khan, melakukan berbagai macam cara termasuk beradaptasi dengan kehidupan di bumi hingga mempelajari Agama yang dianut oleh manusia.

So, setelah menonton film tersebut, ini adalah 7 insights yang saya dapatkan dari film PK:

  1. Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main dengan agama

Jerry, bos Jaggu di kantor, sangat menentang ide dari Jaggu untuk mengangkat PK menjadi bahan berita. Rupanya Ia memiliki pengalaman ditembak oleh para pendukung Tapaswi ketika mulai membuat program untuk menyerang Pemuka Agama tersebut yang sepertinya anti kritik dan menganggap dirinya lah yang paling benar. Di akhir percakapan dengan Jaggu, Ia berkata, “Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main/membuat ribut dengan agama”. Nah…

  1. Tuhan ada banyak?

Menarik melihat bagaimana PK mencari Tuhan. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Ia mencoba satu demi satu agama untuk mencari Tuhan mana yang mampu mengembalikan remote control nya. Dan yang lebih membingungkannya adalah semua jenis Tuhan ini memiliki aturan yang berbeda satu sama lain. Ada Tuhan yang suka dengan air kelapa, ada yang suka dengan wine, ada yang tidak memperbolehkan wine. Cara menyembah Tuhan pun berbeda-beda. Dalam hati mungkin PK bertanya, ”Ah, jadi Tuhan itu ada berapa sih?” 😀

tapaswi-pk

Tapaswi – via http://www.keepo.me

  1. Tuhan punya manajer yang bisa salah sambung?

Yang saya tangkap, bahasa manajer di sini adalah orang-orang yang bertindak sebagai penerus “kata-kata” Tuhan untuk diteruskan kepada umatnya. Dalam hal ini berarti para pemuka dan tokoh agama. Dalam film PK kita dapat menemukan istilah “wrong number”, yang menurut pemahaman saya adalah ada kemungkinan para pemuka dan tokoh agama ini salah mengartikan pesan yang dikirim oleh Tuhan, sehingga apa yang diucapkan dan diajarkan oleh mereka ini tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, dan sayangnya ajaran salah tersebut ditelan mentah-mentah oleh umatnya.

Mari kita berdoa.. Semoga para Pemuka Agama kita tidak ‘salah sambung’ ya. Kebayang kan kalau ajaran yang salah diteruskan ke umat? PK seolah mengajak kita juga untuk bersikap kritis terhadap ajaran para Pemuka Agama.. toh Mereka juga manusia yang bisa khilaf kan? 🙂

  1. Menilai agama dari pakaian luar

Ada 1 scene di mana PK mengajak beberapa orang untuk ke tempat Tapaswi. Orang-orang tersebut sudah memakai pakaian khas agama-agama tertentu. Tapaswi diminta untuk menebak agama dari masing-masing orang tersebut. Dan hasilnya, TETOT! Salah semua..

Pakaian di film PK tersebut tentu hanya simbolis yang menceritakan bahwa terkadang kita juga seringkali menilai seseorang dari luarnya saja, bahkan penilaian kita hingga ke tingkat religiuitasnya. PK mengajarkan kita bahwa penampilan luar sebagai penilaian terhadap agama sifatnya tidak absolut dan bisa dimanipulasi.

  1. Tuhan tidak perlu dilindungi

Ketika one on one dengan PK, ada ucapan dari PK ditanggapi Tapaswi, “Saya akan melindungi Tuhan Saya”. Dan PK menjawab, “Dunia ini kecil jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Dan kamu, hidup di tempat kecil seperti ini mengatakan bahwa kamu ingin melindungi Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta? Dia tidak butuh dilindungi. Dia mampu melindungi dirinya sendiri, Tuhan itu tidak perlu dilindungi. Siapa lah kita manusia sampai berani maju untuk melindungi Tuhan?”

jaggu-dan-sarfaaraz

Jaggu dan Sarfaaraz – via http://www.dailymotion.com

  1. Generalisasi Kultur, Budaya, dan Agama

Menjelang akhir dari film, Jaggu diminta menelpon mantan kekasihnya yang Muslim asal Pakistan, Sarfaaraz. Dan terkuak lah bahwa ternyata Sarfaaraz tidak kabur dan melarikan diri seperti yang dikatakan Tapaswi di awal-awal film. Adanya stigma bahwa orang yang beragama Muslim itu tidak baik, membuat keluarga Jaggu takut meminta masukan dari Tapaswi. Sayangnya, wrong number!

 Seringkali di kehidupan nyata kita juga begini. Kita memukul rata sifat dan kepribadian orang karena kultur, budaya dan agamanya. Berapa kali kita mendengar kalau “Orang Batak itu ngomongnya keras”, “Orang Indonesia timur itu kasar-kasar”, “Orang Jawa itu sopan banget”, “Orang Cina itu pelit”, dll. Belum lagi generalisasi dari sisi Agama. Pernah mendengar,” Wah dia tuh agama XX, pasti dia YY”, “Dia tuh agamanya AB, gak mungkin punya sifat CD”, dan bahayanya, kita kerap kali memukul rata itu semua karena wrong number seperti di poin 3.

2 Gods.png

  1. Dan pada akhirnya.. Tuhan itu ada 2

Di scene akhir PK menjelaskan bahwa ada 2 jenis Tuhan. Yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua, dan satu lagi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia (dalam hal ini Tapaswi yang merupakan Pemuka Agama). PK dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang diciptakan oleh Tapaswi ini adalah cerminan dari Tapaswi itu sendiri, yaitu pembohong, memberikan janji palsu, senang ketika dipuji, memperkaya diri, dan membiarkan yang miskin terlantar.

Dengan diberikannya akal budi dari lahir, tentu kita diberikan kebebasan untuk memilih Tuhan mana yang semestinya kita sembah dan Tuhan mana yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jika bingung memilih Tuhan yang mana, maka temuilah pemuka agama.. Tapi make sure, bahwa pemuka agama ini memang orang yang tepat. Jangan sampai pemuka agama ini wrong number!

Yap, itulah sedikit coret-coretan yang saya dapat dari film PK. Setiap orang tentu punya insight masing-masing. Bagi yang belum menonton, saran saya untuk menonton dengan pikiran yang open mind dan semangat yang positif.

Selamat memaknai malam!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Perbedaan itu Indah

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Kekerasan dalam Pendidikan, Sampai Kapan?

risktekdiktiAwal tahun ini kita agak digegerkan dengan berita yang menghias media,baik online maupun cetak. Mulai dari isu pilkada, agama, pergerakan KPK, hingga berita dari dunia pendidikan. Dan harus jujur, mostly berita-berita tersebut mengandung nada negatif. Yang menarik perhatian Saya adalah berita duka dari dunia pendidikan. Saya bukan seorang guru, bukan seorang dosen, bahkan jauh juga jika dibilang seorang edukator. Tetapi berita ini cukup menyesakkan dada, di mana 1 orang mahasiswa STIP dan 3 orang mahasiswa Unisi (UII) meninggal karena ‘diduga’ adanya unsur kekerasan dari senior-seniornya. Turut berduka cita untuk semua korban, semoga dilapangkan jalannya menuju Surga, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin. Dan, salut untuk Pak Harsoyo yang dengan gentle mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Rektor UII.

Pertanyaan klasik. Mau sampai kapan kekerasan menghiasi dunia pendidikan yang seharusnya penuh dengan kegembiraan, semangat, dan impian? Mau sampai kapan kita mendengar jatuhnya korban karena ‘digembleng’ oleh seniornya?

Saya teringat akan seorang teman yang bercerita bagaimana dia mengubah culture dari suatu ekstrakurikuler yang dia ikuti di sekolah. Dia memperkenalkan Sistem Among, yang merupakan salah satu cara pelaksanaan pendidikan di Kepramukaan. Sistem Among tidak lain dan tidak bukan adalah gagasan dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Tentu kita tidak asing jika mendengar, “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KASRO, TUT WURI HANDAYANI“. Konsep sederhana dari Ki Hajar Dewantara ini yang dewasa ini ‘mungkin’ sudah terlupakan.

pelajar-indonesia

ING NGARSO SUNG TULODO : Di depan memberi teladan
ING MADYA MANGUN KASRO : Di tengah membangun kemauan/semangat
TUT WURI HANDAYANI : Di belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik untuk kemandirian

Saya membayangkan para senior di sekolah/kampus mempraktekkan konsep Sistem Among ini.

Ketika tampil di depan juniornya, mereka berlomba-lomba memberikan teladan yang positif serta menunjukkan prestasi mereka…
Ketika sedang bersama di tengah-tengah juniornya, para senior ini membangun kemauan dan semangat bersama para junior….
dan dari belakang, para senior ini memberikan dorongan serta pengaruh yang baik untuk kemandirian para junior…

Para senior ini sesungguhnya dapat menjadi motivator dan inspirator bagi para junior. Tentu akan harmonis ketika melihat para junior ‘digembleng’ dengan cara seperti ini oleh para senior. Dan pada akhirnya sang junior, yang nanti akan menjadi senior, berlomba-lomba untuk tampil di depan junior mereka nantinya, dengan menampilkan teladan serta prestasi yang mereka punya. Ah, semoga bukan hanya mimpi…

PR besar menanti para pejuang, praktisi, dan pemerhati pendidikan untuk menghilangkan kekerasan yang seolah sudah menggurita di tubuh pendidikan kita. Semangat teman!

Sebagai sarana menegur diri… Apa yang bisa Saya lakukan?
Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

*sumber foto: here, here

Terima Kasih, Timnas!

timnas1

Terima kasih Timnas AFF 2016!

Harapan sempat membumbung tinggi ketika di kandang sendiri timnas berhasil memetik kemenangan 2-1. Tetapi 2 gol yang dicetak pemain Thailand di kandangnya memupuskan harapan masyarakat Indonesia untuk melihat tim nasionalnya meraih piala AFF untuk pertama kalinya.

Walaupun (lagi-lagi) menempati pos runner up, menarik untuk melihat bagaimana perjuangan timnas dalam gelaran AFF tahun ini. Dimulai dengan baru aktifnya persepakbolaan Indonesia setelah dibanned oleh FIFA selama kurang lebih 1.5 tahun – sehingga tak heran aroma pesimis hinggap di timnas dalam menghadapi AFF 2016-, persiapan yang mepet (3 bulan), hanya melakukan 4 kali uji coba, hingga setiap klub hanya diperbolehkan mengirim max 2 pemain. Tak lupa pula, menjelang AFF bergulir, timnas kehilangan salah satu pemain, Irfan Bachdim. Melihat hal tersebut, hasil yang diraih timnas tentu tak dapat dipandang sebelah mata. Nah, ada 3 hal positif yang dapat kita petik dari timnas di edisi AFF 2016 ini.

  1. Diremehkan bukan berarti kalah

Melihat persiapan timnas yang begitu minim, tak heran banyak pihak yang meragukan timnas akan melangkah jauh. Boro-boro masuk final, untuk lolos putaran grup yang dijuluki grup neraka saja, sepertinya merupakan suatu hal yang mustahil. Tetapi disinilah mental tim patut diapresiasi. Walaupun awalnya keteteran, timnas membuktikan bahwa dengan fighting spirit yang luar biasa, final pun dapat digapai. Walaupun awalnya diremehkan, hasil di lapangan dapat berbicara.

  1. Berbeda tetapi satu jua
    timnas2

Di saat Negara kita dihujani isu-isu berbau agama, timnas justru memberikan contoh bagaimana bentuk ideal dari Indonesia . Lahir di Indonesia berarti sudah harus ‘menerima nasib’ bahwa terdapat banyak perbedaan, mulai dari suku, ras, hingga agama. Seperti diketahui, timnas diisi oleh pemain dan tim pelatih dari berbagai latar belakang. Dikutip dari bola.com, komposisi skuat Garuda merata, mulai dari Sumatera hingga Papua atau bahkan Belanda. Kiper nomor tiga Timnas Indonesia, Teja Paku Alam berasal dari Painan (Sumatera Barat). Sementara itu kapten Tim Merah-Putih, Boaz Solossa berasal dari Sorong, Papua. Di sisi lain Stefano Lilipaly kelahiran Utrecht, Belanda. Zulham Zamrun dan Rizky Rizaldi Pora berdarah Ternate, Maluku Utara. Sedangkan Evan Dimas asal Surabaya serta Bayu Gatra dan Andik Vermansah asal Jember, Jawa Timur. Begitupula pemain-pemain lain yang berkampung halaman berbeda pulau. Begitupun dengan Agama. Mereka terdiri dari agama yang berbeda-beda, tetapi tetap berjuang sebagai satu tim. Tidak terbayang, apa jadinya jika mereka mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tersebut?

  1. Persistence

Hal menarik lain dari timnas AFF tahun ini adalah bagaimana kegigihan mereka dalam setiap pertandingan. Jujur saja, semua pertandingan timnas di AFF tahun ini begitu menarik untuk ditonton. Kita boleh diserang terus, kita boleh kebobolan dulu, tetapi itu tidak berarti kita langsung kalah. Terlihat dalam turnamen beberapa kali timnas dalam posisi tertinggal, tetapi mampu untuk membalikkan keadaan. Saya penasaran apa yang diucapkan oleh Alfred Riedl kepada para pemain ketika timnas dalam posisi tertinggal ya?…

Nah itu dia 3 hal positif yang dapat kita ambil dari timnas selama Piala AFF 2016 berlangsung. Terlepas dari ‘gagal’ nya tim menjadi juara, perjuangan timnas patut dan layak diacungin jempol. Terima kasih, timnas!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumber foto: My facebook’s homepage

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

 

Hikmah Kontroversi Arcandra: Indonesia Butuh Talent Pool?

Archandra-Tahar27 Juli 2016. Presiden Jokowi mengegerkan masyarakat Indonesia dengan melakukan reshuffle kabinetnya. Perombakan kabinet yang kedua ini memunculkan beberapa muka baru, salah satunya Arcandra Tahar (AT), yang menduduki posisi menteri ESDM. Akan tetapi hanya berselang 20 hari, rekor baru tercipta.  15 Agustus 2016, Presiden memberhentikan dengan hormat AT dari posisi yang sebelumnya ditempati oleh Sudiman Said. Pemberitaan jika AT telah menjadi warga negara Amerika menjadi alasan utama pencopotannya

Yang menarik di sini adalah apakah hal tersebut murni kesalahan Presiden, Wapres, dan timnya yang tidak detail memeriksa latar belakang para calon menteri? Sebagai orang awam di dunia politik dan pemerintahan, saya tertarik untuk melihat dari kaca mata yang berbeda.

Seperti diberitakan, AT adalah seorang eksekutif yang memiliki gelar Ph.D, bahkan sebelum menjadi Menteri ESDM, AT adalah Presiden Petroneering di Amerika Serikat. AT bahkan memiliki hak paten mengenai desain offshore. Tidak heran jika Presiden ‘kepincut’ meminang AT untuk menjadi perpanjangan tangannya untuk mengurus energi dan sumber daya mineral di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa bisa AT ‘lolos’ dan menjadi seorang Warga Negara Asing? Apakah hal ini tidak bisa dicegah? Melihat sosok AT, yang pernah diminta bantuan oleh Jokowi dalam menarik kembali Blok Masela agar dikuasai Indonesia, bukankah seharusnya Indonesia menjaga talentnya agat tidak berpindah ke lain hati?

Saya yakin bahwa di luar sana banyak WNI yang hebat dan luar biasa. Mereka adalah pakar dan ahli di bidang mereka masing-masing. Mereka adalah talent dan masa depan Indonesia. Mirisnya, ada kemungkinan besar mereka seperti AT. Berkarir lama di luar negeri, hingga “tak sadar” melepaskan status WNI mereka dan memiliki paspor dari negara lain. Yang terungkap sekarang baru AT, apakah di luar sana ada AT-AT yang lain? Sebagai negara yang belum mengakui status dwi kenegaraan, hal tersebut tentu dapat “mengancam” Indonesia itu sendiri.

Saya bermimpi jika kita mampu memetakan para talent kita yang tersebar di seluruh mancanegara..

Saya bermimpi jika kita memiliki daftar talent yang pakar dan ahli di bidangnya masing-masing..  

Saya bermimpi jika daftar talent tersebut dibuat dalam satu skema talent pool..

Saya bermimpi dalam talent pool tersebut, berisi para talent yang dimaintain relasinya, dimonitor perkembangannya, dan diapresiasi hasil karyanya..

Saya bermimpi jika para talent tersebut “dirawat” dan “didoktrin” untuk berbakti pada Negeri..

Saya bermimpi jika para talent tersebut tidak melepas status WNI nya..

Saya bermimpi jika para talent tersebut kembali dan membantu Indonesia untuk menjadi lebih baik..

Saya bermimpi presiden yang akan datang dapat menyusun succession planning dari talent pool tersebut..

Saya bermimpi jika suatu saat Indonesia membutuhkan seorang yang hebat di suatu bidang, kita cukup dapat melihat daftar tersebut, memanggil mereka untuk berkarya, dan tentunya tidak ada lagi polemik yang terjadi seperti sekarang.

Semoga, Amin.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Indonesia Butuh Kementerian Sumber Daya Manusia

Baca Juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

Baca Juga Bagaimana dengan SDM di Indonesia?

*sumber foto: here

Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

TK SD SMP SMAAwal minggu ini terasa begitu ramai dengan komentar masyarakat terkait wacana penerapan full day school (FDS) bagi pelajar, khususnya SD dan SMP. Sebagai seorang awam di dunia pendidikan, hanya hanya dapat memberi komentar terkait hal ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menilai pendidikan dasar dan menengah masih keteteran menghadapi pesatnya kemajuan zaman. Untuk membenahi hal tersebut, FDS dipercaya menjadi salah satu solusinya. Gagasan ini pun (katanya) sudah disetujui oleh Presiden dan Wapres, dan akan memasuki tahap pilot project.

Yang menarik di sini adalah sering berubahnya sistem dan kurikulum pendidikan seiring dengan pergantian orang nomor 1 di kementerian tersebut. Masih teringat di zaman saya ada istilah KBK (Kurikulum berbasis kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Kurikulum 2013, bahkan menurut info di sini, sudah ada 11 kali pergantian kurikulum. Ketika perubahan tersebut dalam rangka sebuah continuous improvement tentu tak masalah. Yang menjadi masalah adalah apakah SDM kita dapat dengan baik mengadopsi perubahan yang begitu cepat terjadi? Atau justru SDM kita malah kaget dan shock dengan perubahan tersebut? Kalau sudah seperti itu, yang mengkhawatirkan justru muncul resistensi untuk menerima perubahan.

Meminjam ilmu manajemen perubahan dari Kotter, perubahan dimulai ketika ada sang pemimpin mampu untuk menciptakan sense of urgency untuk melakukan perubahan. Pertanyaannya adalah, apakah perubahan yang terjadi di dunia pendidikan ini adalah sesuatu yang memang urgent untuk dilakukan, atau apakah ini hanya menjadi “produk” sang menteri ketika menjabat? Kalaupun memang urgent untuk diadakannya perubahan, apakah sang menteri mampu untuk mengkomunikasikan sense of urgency kepada seluruh elemen di dunia pendidikan seluruh Indonesia? Apakah para guru, murid, dan orang tua merasakan sense of urgency yang sama? Ketika tahap awal dari manajemen perubahan ini tidak tergenapi, jangan heran ketika masuk di tahap implementasi, banyak resistensi yang muncul.

Pro dan kontra dalam perubahan pasti selalu ada. Tantangannya adalah mengkomunikasikan dan membuktikan bahwa perubahan tersebut memang membawa ke arah yang lebih baik. Termasuk di dunia pendidikan Indonesia. Apakah perubahan-perubahan yang terjadi merupakan suatu keberlanjutan dari sistem sebelumnya? Apakah ada konsistensi dan benang merah dari sistem sebelumnya ke sistem yang baru? Atau apakah perubahan tersebut memang hanya sebuah “produk”? Sambil merenung, terbersit tagline iklan sebuah produk, “buat anak kok coba-coba?”

“There is nothing wrong with change, if it is in the right direction”
(Winston Churcill)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pendidikan = Mesin Percetakan

Baca Juga Inikah Sistem Pendidikan Kita?

Baca Juga Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

*sumber foto: here