Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Menikmati Proses-Nya

pexels-photo-192555

“Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini membuat kita seringkali menginginkan sesuatu dengan instan. Tanpa berproses, maunya langsung berhasil dan sukses.” Petikan kalimat dari kotbah hari Minggu oleh Rm Antonius Sarto Mitakda, SVD ini sedikit ‘menampar’. Di saat zaman yang sudah begitu canggih dan maju, semua dapat dibilang sudah serba cepat. Mau menghubungi kerabat yang jauh, bisa langsung telpon bahkan bisa video call. Tidak perlu lagi mengirimkan surat seperti dulu. Mau transfer uang, tinggal datang ke ATM. Tidak perlu lagi berkirim wesel yang membuat kita memaksa kita mengunggu dulu beberapa hari sebelum uang benar-benar sampai di tangan.

“Begitu pula dengan keberhasilan. Mau cepat kaya, mau cepat sukses. Ya jadinya korupsi. Anak sekolah mau nilainya bagus, tanpa kerja keras untuk belajar. Hasilnya ya nyontek supaya tujuan tercapai,” tambah Rm Sarto dalam kotbahnya.

BACA JUGA Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Harus diakui bahwa inilah yang terjadi sekarang. Semangat ‘instan’ merebak dimana-mana. Para orang tua berkompetisi. Ingin anaknya ‘terlihat’ lebih pintar dari teman-teman sebayanya, maka dibebanilah si anak dengan kursus yang berbagai macam bentuknya. Mahasiswa yang ingin cepat lulus, mengambil jalan pintas dengan membayar jasa tulis skripsi. Karyawan yang ingin cepat promosi, menjilat kanan-kiri tanpa terlihat kinerja yang telah dilakukan. Orang yang ingin menjadi pejabat publik, sibuk melakukan pencitraan tapi tak terlihat apa yang sudah dilakukan sejauh ini. Seringkali kita lupa akan proses, sehingga hanya mengharapkan hasil yang cepat dan instan.

Pernah bekerja di pabrik membuat saya menyadari betapa penting “proses” terhadap sebuah output yang baik. Menyepelekan proses sama saja seperti menyimpan bom waktu. Tinggal menunggu customer datang dan marah-marah. Imbasnya order dari customer tak lagi datang dan dampak paling parah adalah tutupnya pabrik. Kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Proses seperti apa yang akan kita lakukan agar output-pun menjadi suatu hal yang baik?

Work in your “time zone”. Your Colleagues, friends, younger ones might “seem” to go ahead of you. May be some might “seem” behind you. Everyone is in this world running their own race on their own lane in their own time. God has a different plan for everybody. Time is the difference.

Early success doesn’t mean a happy life. You could open a company at 25, you could also go bankrupt at 30 if the company dissolves. You could find success at 40, and perhaps you’d be more well-equipped to handle it then. Whatever happens, happens for a reason. 

Maybe that lost job was not right for you. Maybe you are meant to hone your skills for something great later. There is no right time. We get things when we are ready for them. When it doesn’t happen for you, it means it’s not supposed to happen right now. No point worrying yourself sick and envying another.  

Spend your time polishing your personality, acquiring new skills, learning a new language – create the person you want to be in future. Create the personality that will match your success. Work towards your goal at your own pace. Everybody has their own timeline. What if you are meant to do something worthwhile in some years when you are older and wiser, but you were too busy feeling bad about yourself and drowning your woes in alcohol. Imagine the regret. 

Opportunities never cease to come. If today is not your day, it could be tomorrow. Don’t stop living your life just because it isn’t happening.

Menikmati proses-Nya berarti bersedia berpasrah diri kepada-Nya dan dengan terus melakukan upaya terbaik. Karena sesungguhnya tidak ada kesuksesan
tanpa doa dan kerja keras.

(EA)

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Masih Jalan di Tempat?

Baca Juga Memetik Pelajaran dari Kemenangan Barcelona atas PSG

Memetik Pelajaran dari Kemenangan Barcelona atas PSG

Barcelona 6-1 PSGAmbisi yang hampir mustahil diemban oleh pasukan Luis Enrique kala menjamu PSG di Nou Camp tengah pekan yang lalu. Kekalahan 4-0 di Paris membuat Lionel Messi cs diharuskan meraih kemenangan dengan margin 5 gol agar tetap dapat berkompetisi di Liga Champion tahun ini.

Tak disangka, kemenangan 6-1 berhasil dikunci oleh Barcelona, membuat mereka menjadi klub pertama yang berhasil lolos dari babak gugur Liga Champion walaupun kalah 4-0 di pertemuan pertama. Suporter Barcelona berteriak histeris, sementara supporter PSG tertunduk lemas.

Menarik melihat apa yang disajikan oleh Luis Enrique di pertandingan tersebut, bahkan (boleh dikatakan) sebelum pertandingan juga. Tak ada rasa pesimis di kubu Barca. “Jika mereka bisa mencetak 4 gol, maka kami juga bisa mencetak 6 gol,” ucap sang juru taktik. Di lain pihak, kubu PSG juga enggan menyalahkan wasit yang memberikan 2 penalti bagi kubu lawan. Kelengahan mereka di awal babak pertama dan menit-menit akhir pertandingan berdampak fatal dalam perjalanan mereka di Liga Champion tahun ini. 3 pelajaran dapat kita petik dari pertandingan tersebut:

Messi Barcelona Vs PSG

  1. Terkadang bisa di atas, terkadang bisa di bawah

Kekalahan telak 4-0 yang dialami pada pertemuan pertama di Paris seperti menghempaskan Barcelona kembali untuk berpijak di bumi. Sementara PSG terlihat perkasa dan terbang tinggi dengan kemenangan yang diraih.

Dalam pertandingan akhir pecan ini, PSG kembali lagi terbang setelah Edison Cavani mencetak gol tandang bagi PSG, tetapi dalam sekejap itu semua berbalik. Barcelona kembali lagi ‘terbang’, sementara PSG ‘dipaksa’ kembali untuk kembali ke bumi. Hidup terkadang memang bisa sekeras itu…

  1. 7 menit yang mengubah

Gol tandang yang dicetak Edison Cavani sebenarnya menjadi bekal yang sangat berharga bagi PSG. Skor saat itu menjadi 3-1. Hal tersebut membuat Barca harus mengejar 3 gol lagi untuk lolos. Sayangnya, kelengahan dalam 7 menit akhir laga memupus harapan Thiago Silva, dkk. Neymar menjadi kartu Asnya. 2 gol dan 1 assist-nya dalam kurun waktu 7 menit membuat Barcelona melakukan come back dan menginjakkan kakinya di perempat final tahun ini.

Menjadi terlena layaknya PSG atau memanfaatkan waktu yang walaupun sudah begitu mepet layaknya Barcelona, menjadi pilihan kita masing-masing…

  1. Never ever give up

Perjuangan yang hampir mustahil berbuah manis. Dalam sejarahnya, belum pernah ada klub yang mampu membalikkan keadaan setelah kalah 4-0 pada pertemuan pertama. But, Barca did it! Pengaruh besar dari pelatih yang tetap memandang optimis laga kedua juga ambil bagian dari keberhasilan tersebut. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lusi Enrique memandang pertandingan dengan pesimis? Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lionel Messi tidak memandang pertandingan dengan optimis yang tinggi?

Yuk, belajar dari Barcelona!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Terima Kasih, Timnas!

Baca Juga Belajar dari Juventus

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

*sumber foto: dailymailindiatimes

Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

the-oscars-logo

Memenangkan ajang paling prestisius layaknya Piala Oscar / Academy Award tentu menjadi mimpi bagi semua insan perfilman. Bahkan jika melihat pidato-pidata para pemenang Oscar, tak sedikit yang menyebut bahwa memenangkan Piala Oscar adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Menarik mencermati isi pidato para pemenang Oscar (dan juga kompetisi-kompetisi sejenis lainnya). Ada 4 poin yang biasa ditemukan – dan juga menjadi bahan refleksi- :

  1. Berterima kasih kepada Tuhan

Ini adalah hal pertama yang paling sering kita jumpai dalam pidato kemenangan seseorang.

Now, first off, I want to thank God. ‘Cause that’s who I look up to. He has graced my life with opportunities that I know are not of my hand or any other human hand. (Matthew McConaughey – The Best Actor Oscar 2013)

God, I love you. Hallelujah. Thank you, Father God, for putting me through what you put me through, but I’m here and I’m happy (Cuba Gooding Jr – The Best Supporting Actor 1997)

Poin refleksi: Jika kita sendiri tidak mengajak Tuhan untuk berkerja sama dalam pekerjaan kita, mungkinkah kita mengucapkan terima kasih pada Nya?

  1. Berterima kasih kepada keluarga, kolega, dan semua pihak yang membantu

Poin nomor dua ini juga yang paling sering kita dengar. Para pemenang Oscar akan mengucapkan nama-nama keluarga, teman, serta semua pihak yang membantu dalam kelancaran film. Biasanya penyebutan nama-nama ini yang paling memakan banyak durasi.

Poin refleksi: Sudah sejauh mana kita berterima kasih untuk peran-peran invisible yang dijalani oleh keluarga serta teman-teman kita? Dan sejauh mana kita menyadari kehadiran mereka? Karena mereka memiliki kontribusi tersendiri…

  1. Menceritakan Perjuangan

I just said to Matt, ‘Losing would suck and winning would be really scary” Ben Affleck kepada Matt ketika memenangi Best Original Screen Play 1997

Ini adalah poin yang paling menarik. Seusai mengucapkan terima kasih, biasanya para pemenang akan menceritakan bagaimana perjuangan mereka. Cukup banyak aktor dan aktris yang berkali-kali menjadi nominasi tetapi tidak menjadi pemenang. Salah satunya Leonardo Di Caprio yang telah 3 kali masuk nominasi sebelum akhirnya berhasil menyabet Aktor terbaik tahun 2016 di nominasinya yang ke 4.

leonardo-di-caprio-oscar

Hal yang sama kurang lebih terjadi pada Ben Affleck. Setelah memenangi Best Original Screen Play dengan film Good Will Hunting tahun 1997, kebintangannya sempat memudar dengan 6 kali mendapat nominasi Golden Raspberry Award (penghargaan bagi film-film buruk) untuk kategori Worst Actor. Tetapi karya terus dihasilkan. Dan, sepertinya Ia memang cocok di belakang layar, terbukti dengan terpilihnya film yang Ia sutradarai, Argo, sebagai Best Picture di tahun 2013.

 Poin refleksi: Mungkin kita sekarang berada pada tahap ini. Tahap di mana kesulitan dan kesusahan muncul tanpa diundang. Kegagalan seolah menjadi teman yang akrab. Sayangnya, menyerah tidak ada di kamus seorang pemenang Oscar seperti Leonardo Di Caprio dan Ben Affleck. Mereka terus menghasilkan karya yang luar biasa. Andai saja mereka menyerah, tentu penghargaan sekelas Oscar tidak pernah mereka dapatkan.

  1. Mengenai Mimpi

When I look down at this golden statue, may it remind me and every little child that no matter where you’re from, your dreams are valid.” (Lupita Nyong’o – The Best Supporting Actress Oscar 2014)

I think I was probably eight years old and staring into the bathroom mirror. And this (holding up her statuette) would’ve been a shampoo bottle. Well, it’s not a shampoo bottle now! (Kate Winslett – Best Actress Oscar 2008)

Tak sedikit pula banyak para pemenang Oscar yang menceritakan akan mimpinya memenangi ajang bergengsi ini. Dan, mereka menceritakannya dikombinasi dengan poin nomor 3! Pidatonya jadi tambah maknyus!

Poin refleksi: Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

————————————————————————————————————–

“Saya bukanlah seorang aktor, aktris, maupun penggiat film. Saya tak perlu bermimpi memenangkan Piala Oscar.” Yes betul. Tetapi ada banyak kompetisi di luar sana yang dapat kita menangi sesuai jalur karir dan passion masing-masing. Senang menulis, bisa menjadi the best writer, sekarang menjadi seorang praktisi keuangan, suatu saat dapat menjadi the best CFO, sekarang menjadi seorang pengusaha UMKM, beberapa tahun kemudian dapat menjadi the best CEO in the Year, dan lain sebagainya.

Untuk itu mari kita mulai persiapkan pidato kemenangan kita dengan menggunakan 4 poin di atas tadi. Pelan-pelan kita eksekusi satu-satu poin refleksi di atas.

Dan… Bayangkan beberapa tahun dari sekarang, kita akan menyusun sebuah pidato kemenangan dengan dimulai mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga dan kolega, menceritakan pahit manisnya perjuangan, hingga bercerita mengenai mimpi yang menjadi nyata…

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Kekuatan Mimpi ala Judy Hoops “Zootopia”

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

*sumber foto: here, here

7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

PK Movie Poster.jpg

PK Movie – via http://www.koimoi.com

Malam ini saya habiskan untuk menonton film PK (2014) untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya saya putuskan untuk mencoba menulis beberapa insights yang saya dapat dari film tersebut.

Film yang dibintangi oleh Aamir Khan (PK) dan Anushka Sharma (Jaggu) ini menceritakan tentang datangnya seorang alien dari planet lain, yang diutus untuk melakukan penelitian di bumi. Tetapi baru saja mendarat di bumi, kalung remote control, yang merupakan perangkat penting untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, dicuri orang. Untuk mendapatkan remote control itu kembali, PK – yang diperankan oleh Aamir Khan, melakukan berbagai macam cara termasuk beradaptasi dengan kehidupan di bumi hingga mempelajari Agama yang dianut oleh manusia.

So, setelah menonton film tersebut, ini adalah 7 insights yang saya dapatkan dari film PK:

  1. Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main dengan agama

Jerry, bos Jaggu di kantor, sangat menentang ide dari Jaggu untuk mengangkat PK menjadi bahan berita. Rupanya Ia memiliki pengalaman ditembak oleh para pendukung Tapaswi ketika mulai membuat program untuk menyerang Pemuka Agama tersebut yang sepertinya anti kritik dan menganggap dirinya lah yang paling benar. Di akhir percakapan dengan Jaggu, Ia berkata, “Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main/membuat ribut dengan agama”. Nah…

  1. Tuhan ada banyak?

Menarik melihat bagaimana PK mencari Tuhan. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Ia mencoba satu demi satu agama untuk mencari Tuhan mana yang mampu mengembalikan remote control nya. Dan yang lebih membingungkannya adalah semua jenis Tuhan ini memiliki aturan yang berbeda satu sama lain. Ada Tuhan yang suka dengan air kelapa, ada yang suka dengan wine, ada yang tidak memperbolehkan wine. Cara menyembah Tuhan pun berbeda-beda. Dalam hati mungkin PK bertanya, ”Ah, jadi Tuhan itu ada berapa sih?” 😀

tapaswi-pk

Tapaswi – via http://www.keepo.me

  1. Tuhan punya manajer yang bisa salah sambung?

Yang saya tangkap, bahasa manajer di sini adalah orang-orang yang bertindak sebagai penerus “kata-kata” Tuhan untuk diteruskan kepada umatnya. Dalam hal ini berarti para pemuka dan tokoh agama. Dalam film PK kita dapat menemukan istilah “wrong number”, yang menurut pemahaman saya adalah ada kemungkinan para pemuka dan tokoh agama ini salah mengartikan pesan yang dikirim oleh Tuhan, sehingga apa yang diucapkan dan diajarkan oleh mereka ini tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, dan sayangnya ajaran salah tersebut ditelan mentah-mentah oleh umatnya.

Mari kita berdoa.. Semoga para Pemuka Agama kita tidak ‘salah sambung’ ya. Kebayang kan kalau ajaran yang salah diteruskan ke umat? PK seolah mengajak kita juga untuk bersikap kritis terhadap ajaran para Pemuka Agama.. toh Mereka juga manusia yang bisa khilaf kan? 🙂

  1. Menilai agama dari pakaian luar

Ada 1 scene di mana PK mengajak beberapa orang untuk ke tempat Tapaswi. Orang-orang tersebut sudah memakai pakaian khas agama-agama tertentu. Tapaswi diminta untuk menebak agama dari masing-masing orang tersebut. Dan hasilnya, TETOT! Salah semua..

Pakaian di film PK tersebut tentu hanya simbolis yang menceritakan bahwa terkadang kita juga seringkali menilai seseorang dari luarnya saja, bahkan penilaian kita hingga ke tingkat religiuitasnya. PK mengajarkan kita bahwa penampilan luar sebagai penilaian terhadap agama sifatnya tidak absolut dan bisa dimanipulasi.

  1. Tuhan tidak perlu dilindungi

Ketika one on one dengan PK, ada ucapan dari PK ditanggapi Tapaswi, “Saya akan melindungi Tuhan Saya”. Dan PK menjawab, “Dunia ini kecil jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Dan kamu, hidup di tempat kecil seperti ini mengatakan bahwa kamu ingin melindungi Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta? Dia tidak butuh dilindungi. Dia mampu melindungi dirinya sendiri, Tuhan itu tidak perlu dilindungi. Siapa lah kita manusia sampai berani maju untuk melindungi Tuhan?”

jaggu-dan-sarfaaraz

Jaggu dan Sarfaaraz – via http://www.dailymotion.com

  1. Generalisasi Kultur, Budaya, dan Agama

Menjelang akhir dari film, Jaggu diminta menelpon mantan kekasihnya yang Muslim asal Pakistan, Sarfaaraz. Dan terkuak lah bahwa ternyata Sarfaaraz tidak kabur dan melarikan diri seperti yang dikatakan Tapaswi di awal-awal film. Adanya stigma bahwa orang yang beragama Muslim itu tidak baik, membuat keluarga Jaggu takut meminta masukan dari Tapaswi. Sayangnya, wrong number!

 Seringkali di kehidupan nyata kita juga begini. Kita memukul rata sifat dan kepribadian orang karena kultur, budaya dan agamanya. Berapa kali kita mendengar kalau “Orang Batak itu ngomongnya keras”, “Orang Indonesia timur itu kasar-kasar”, “Orang Jawa itu sopan banget”, “Orang Cina itu pelit”, dll. Belum lagi generalisasi dari sisi Agama. Pernah mendengar,” Wah dia tuh agama XX, pasti dia YY”, “Dia tuh agamanya AB, gak mungkin punya sifat CD”, dan bahayanya, kita kerap kali memukul rata itu semua karena wrong number seperti di poin 3.

2 Gods.png

  1. Dan pada akhirnya.. Tuhan itu ada 2

Di scene akhir PK menjelaskan bahwa ada 2 jenis Tuhan. Yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua, dan satu lagi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia (dalam hal ini Tapaswi yang merupakan Pemuka Agama). PK dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang diciptakan oleh Tapaswi ini adalah cerminan dari Tapaswi itu sendiri, yaitu pembohong, memberikan janji palsu, senang ketika dipuji, memperkaya diri, dan membiarkan yang miskin terlantar.

Dengan diberikannya akal budi dari lahir, tentu kita diberikan kebebasan untuk memilih Tuhan mana yang semestinya kita sembah dan Tuhan mana yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jika bingung memilih Tuhan yang mana, maka temuilah pemuka agama.. Tapi make sure, bahwa pemuka agama ini memang orang yang tepat. Jangan sampai pemuka agama ini wrong number!

Yap, itulah sedikit coret-coretan yang saya dapat dari film PK. Setiap orang tentu punya insight masing-masing. Bagi yang belum menonton, saran saya untuk menonton dengan pikiran yang open mind dan semangat yang positif.

Selamat memaknai malam!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Perbedaan itu Indah

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

orang-hebat

2017 sudah mulai menginjak minggu ke 2. Aktifitas rutin sudah mulai dilakukan kembali. Tak heran jalanan yang pada akhir Desember lalu terlihat begitu lenggang, kini menjadi penuh sesak oleh para pencari nafkah dan pencari ilmu.

Awal minggu ini di kantor, ada aktifitas rutin tahunan di mana semua karyawan berkumpul untuk mendengarkan evaluasi bisnis tahun lalu hingga target serta strategi di tahun baru ini. Untuk menghangatkan acara, panitia mengundang Komika yang sedang naik daun, Cak Lontong. Tak heran, muka-muka serius dari awal acara berubah menjadi gelak tawa seakan lupa akan target-target yang baru saja “diberikan” oleh top manajemen.

cak-lontong

Selfie dengan Cak Lontong

“Saya ini mulai semua dari bawah. Setelah SMA, Saya mau kuliah. Ibu Saya bilang, Kamu mau Kuliah? Ya Udayana. Yaudah, abis itu saya gak kuliah,” Ucap Cak Lontong dalam salah satu materinya. Penonton heran. Loh, Ibunya saja menyarankan untuk kuliah di Udayana, yang notabene merupakan salah satu Universitas Top di Indonesia, tepatnya di Bali. “Ya Saya gak jadi kuliah. Wong, Ibu Saya bilang, Uda(h) ya Na(k), Uda(h) ya Na(k),” Tambah Cak Lontong sambil memperagakan gerakan elusan seorang Ibu kepada anaknya. Sontak pecahlah ruangan dengan tawa dari penoton.

Pikiran Saya langsung tertuju pada kalimat-kalimat awal komedian yang populer dengan kata “Mikir” ini. Dan benar. Cak Lontong, yang dalam pikiran Saya adalah seorang komika yang hebat, tidak mendapatkan popularitas, ketenaran, dan kesuksesannya dengan instan. Jalannya panjang dan berliku. Otak Saya langsung merecall teman-teman Saya yang juga Saya cap sebagai orang hebat. Ah, tiba-tiba Saya merasa minder. Mereka terlalu hebat, bahkan ada yang dapat Saya katakan sebagai seorang yang jenius. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka hebat? Kenapa mereka bisa sehebat itu?

Bahkan seorang Albert Einstein pernah beberapa kali tidak naik kelas. Harland Sanders baru menemukan KFC di usia tuanya. Seorang seperti Habibie mengalami jatuh bangun sebagai seorang engineer. Pesepakbola Messi pernah dianggap terlalu ‘cebol’ untuk menjadi pemain bola. Seorang sukses semacam Deddy Corbuzier juga tak lancar dalam awal-awal sekolahnya. Begitu pun dengan teman-teman Saya yang hebat itu. Mereka tidak terlahir dengan cap “HEBAT”. Mereka tidak terlahir dengan cap “JENIUS”.

Apakah dari lahir Einstein langsung dibilang sebagai anak yang jenius? Apakah Harland Sanders dari lahir adalah seorang chef yang hebat? Apakah dari lahir seorang Habibie dapat membuat pesawat terbang? Apakah dari lahir Messi sudah jago mengolah bola? Apakah dari lahir Deddy Corbuzier mendapatkan predikat sebagai mentalist terbaik? Apakah Cak Lontong dari lahir mendapatkan predikat sebagai seorang komika yang sukses? Apakah dari lahir orang-orang hebat itu pintar? The answers are no!

lionel-messi

Lionel Messi dulu sempat dicap terlalu kecil untuk pemain bola

Mereka mendapat cap “HEBAT”, “PINTAR”, atau bahkan “JENIUS”, setelah mereka berhasil membuat suatu karya. Karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Karena itulah mereka mendapat cap tersebut. Tapi nyatanya, itu semua dihasilkan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Juga bukan dengan terlahir sebagai anak pintar. There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sedikit tamparan bagi Saya yang kerap kali melihat mereka sembari bergumam, “Ah, enak sekali hidup mereka. Nyari duitnya gampang banget ya”. Yang sering kali Saya lupakan adalah di balik kehebatan mereka, bersembunyi kata “consistent” dan “persistent”. Kembali Saya teringat para manager dan bos-bos yang pernah Saya temui. Ah, patternnya kurang lebih sama. Mereka tidak lahir dengan jabatan yang mereka emban. Ada perjuangan yang konsisten dan gigih yang tidak Saya tahu di balik kesuksesan mereka sekarang.

Malam sudah semakin larut. 2 kata tersebut masih jadi PR tersendiri bagi Saya. Kehebatan orang-orang tersebut, termasuk teman-teman Saya, paling tidak memberi Saya inspirasi. Semoga begitu juga dengan Anda.

Once again..
 There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*artikel ini adalah terusan dari artikel : Masih Jalan di Tempat?

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

Baca Juga Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

Sumber foto: here, here

Hidup Sesuai Kemampuan

transaksi-rupiah

“Ah, anak itu. Gayanya banyak sekali. Update foto-foto gaulnya di medsos, jalan-jalan, terus makan di tempat mewah. Padahal Saya tahu persis gajinya berapa. Penasaran, bagaimana cara dia mengatur uangnya ya? Atau Cuma banyak gaya aja tuh anak.” Ucap seorang HR Manager.

“Ya, mungkin saja dia punya sampingan, jadi uang jajannya banyak,” jawab Saya sekenanya.

Begitulah dunia zaman sekarang. Gaya hidup mewah dimana-mana dan diumbar oleh sang pelaku dengan bangga. Tak masalah jika memang sang pelaku memiliki penghasilan yang besar, toh zaman sekarang luxury business sedang menjadi tren (bahkan di Eropa ada beberapa mata kuliah yang berfokus pada  luxury business management).

Bagaimana dengan orang-orang yang justru sebaliknya (penghasilan tak seberapa tapi gayanya wah)? Mereka kadang tak peduli kondisi keuangan yang gali lobang, tutup lobang. Penampilan yang keren menjadi sasaran dan target utama. “Yang penting gaya gue keren,” begitu katanya. Golongan ini adalah orang yang sangat mengikuti perkembangan tren sehingga life style pun mengikuti tren yang memang sedang happening. Yang menjadi masalah adalah kehidupan mewah yang diekspos ini hanya untuk memenuhi standar pergaulan semata, padahal penghasilan tak seberapa. Kalau istilah sekarang, mereka ini adalah golongan BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), memiliki kemauan yang banyak, tetapi kemampuan (finansial) sangat terbatas.

Sebagai sarana menegur diri, semoga kita dijauhkan dari sifat golongan orang-orang BPJS. Seperti judul di atas, ada baiknya hidup sesuai kemampuan, bukan kemauan.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*Bagi yang mau tahu tentang luxury business management, ini adalah insight mengenai luxury business dari konsultan Bain and Co:
http://www.bain.com/Images/BAIN_REPORT_Global_Luxury_2015.

BACA JUGA Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

BACA JUGA Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

BACA JUGA Apa Gunanya Sekolah?

Sumber foto: here