Short Story from IATSS Recruitment Process

Thank God!

After all the selection processes, i passed the final interview with another 3 amazing young leaders to represent Indonesia, and will join the IATSS Youth Leadership Program at Japan in the Q3 2018 for 2 months. (I will share the detail of recruitment process later 🙂 )

I met 9 amazing youth people in the final interview. And found out that they are really inspiring! Its glad to meet and learn from them as well.

This slideshow requires JavaScript.

 

I also met the legendary Prof Prapti Sumarmo, Ridwan Gunawan (was one of the top leader in Astra group), and Prof Toshihiro Hiraoka from Nagoya University as the panelist. It is an honour to be assessed by them in this program.

Fyi, last year i also applied for this program. However, i failed even in the 1st selection process.

For those who want to know more detail about the program, click here: http://www.iatssforum.jp/en/

God is good all the time!

#IATSS #Youth #Leadership #Program #Japan #AMDG

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Menikmati Proses-Nya

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Hikmah Kontroversi Arcandra: Indonesia Butuh Talent Pool?

My First ‘Kelas Inspirasi’ Experience

“Selamat Pagi! Pagi..Pagi.. Luar Biasa.. Mantap!”

“Tepuk semangat! Prok..prok..prok..”

Pada 20 November 2017 yang lalu saya berkesempatan untuk bergabung sebagai volunteer Kelas Inspirasi Bekasi 4 (yes 4! Tandanya sudah memasuki tahun yang ke 4) yang bertempat di SDN Kayuringin Jaya XXIII. Bergabung bersama 22 volunteers lainnya, kami mengemban misi untuk sharing pengalaman dan memperkenalkan profesi masing-masing kepada adik-adik di SD tersebut.

Mengenai Kelas Inspirasi (KI) sendiri, dikutip dari websitenya http://kelasinspirasi.org/,
Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi.

Selanjutnya para profesional ini disebut relawan pengajar. Relawan pengajar berinteraksi di sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja dan memberi motivasi untuk meraih cita-cita bagi para siswa. Interaksi relawan pengajar dengan warga sekolah dilakukan untuk membuka ruang komunikasi dan kolaborasi antar keduanya melalui pengalaman mengunjungi, dan mengajar, dan berinteraksi selama hari inspirasi termasuk masa persiapannya.

Kegiatan Kelas Inspirasi yang pertama diadakan pada 25 April 2012 di 25 lokasi SD di Jakarta. Tujuan awal dari KI adalah menjadi gerbang keterlibatan para profesional dengan realita dunia pendidikan dasar di lingkungannya, serta Indonesia pada umumnya. Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.

Kelas Inspirasi Bekasi #4

Kembali lagi ke Kelas Inspirasi Bekasi 4 di SDN Kayuringin Jaya XXIII. Melihat banyaknya anak-anak berpakaian putih merah membuat atmosfer sekolah dasar menjadi sangat kental. Hawa tersebut membawa saya flash back. Teringat dulu SD pindah-pindah tempat, dari Timor Leste ke Medan, terus ke Bekasi. Teringat dulu cukup susah mempunyai teman yang ‘tetap’. Teringat dulu punya banyak mimpi, mulai dari pemain bola, terus direvisi menjadi dokter, terus revisi lagi menjadi bos alias pengusaha. Revisi terus berasa skripsi! 😀

Baca juga Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

Kami memulai Hari Inspirasi dengan upacara bendera yang berlangsung dengan khidmat. Semua petugas upacara yang berasal dari kelas 6 SD berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. *tepuk salut!

Selepas upacara, kami melakukan opening yang berisi pengenalan tepuk-tepuk dan perkenalan para relawan. Setelah itu, kelas dimulai. Para relawan mulai masuk ke kelas masing-masing.

Kelas pertama yang saya masuki adalah kelas 2 A. Pada awalnya terlihat cukup tenang. Mereka dengan telaten mengikuti instruksi untuk dipasangkan name tag yang berisikan nama dan cita-cita (jangan heran kalau cita-cita mereka sangat beragam, mulai dari dokter, pilot, polisi, hingga yang kekinian seperti youtuber dan selebgram!). Setelah name tag telah selesai semua diisi, barulah ‘kehebohan terjadi’. Dipimpin oleh seorang anak laki-laki, mereka berlari di kelas, teriak-teriak, seolah-seolah meminta perhatian. Di tahap ini, jurus tepuk-tepuk dan bernyanyi sangat ampuh. Mereka jadi lebih mudah dikontrol dan ‘terlihat’ lebih kalem 😀

This slideshow requires JavaScript.

Beda halnya dengan kelas kedua yang saya masuki, yaitu kelas 6 B. Banyak di antara mereka yang merupakan petugas upacara. (Mungkin karena diberikan tanggung jawab sebagai petugas, tingkat maturity mereka terlihat berbeda dengan yang lain). Berbicara dengan mereka sangat asyik dan terlihat nyambung.

This slideshow requires JavaScript.

Kelas berikutnya yaitu kelas 3 dan 4 (digabungin aja ceritanya karena sama-sama rame!). Mungkin karena ini ‘masa peralihan’, tingkat ramenya ternyata lebih-lebih. Cara saya untuk menangkap atensi mereka adalah dengan menciptakan kompetisi dengan kelas lain. “Tadi pagi, Bapak masuk ke kelas 2. Ternyata suara mereka selevel ini nih (sambil tangan mengumpamakan levelnya). Masa kalian kamu kalah sama kelas 2?” Dengan pertanyaan seperti itu, “otak kompetisi” mereka seolah bekerja. Setiap kali bernyanyi dan tepuk-tepuk, suara mereka menggelegar. Setelah itu saya tambah lagi, “Ayo, kita bikin suara yang lebih keras supaya terdengar sampai ke Tambun dan Cikarang!” Dan ditimpali oleh seorang anak, “Iya Pak. Sampai ke Meikar*a ya!” Tertawa anak-anak pun menjadi pecah. Saya pun tak ketinggalan tertawa dan geleng-geleng kepala menyaksikan anak seusia mereka sudah tau kawasan pemukiman seperti itu. Kalau saya dulu taunya cuma power ranger sama detective conan :p

This slideshow requires JavaScript.

Apalagi yang saya lakukan di kelas? Selain mengenalkan konsep HRD (yang tentunya bukan perkara mudah), tepuk-tepuk dan bernyanyi, saya banyak story telling. Dan ini ampuh! Anak-anak suka mendengar cerita. Tak ketinggalan juga diikuti dengan mimik wajah dan body language. Saya sampai ‘jungkir balik’ hanya demi membuat fokus mereka tetap ke saya dan pastinya, FUN! Bagaimana caranya?

Salah satunya games ‘tangkap badak’. Dimana jari telunjuk kanan mereka diumpakan sebagai badak dan tangan kiri mereka bertugas sebagai perangkap badan teman sebelah kirinya. Setiap kali ada kata ‘badak’, baru lah perangkap bekerja dan mereka juga perlu menyelamatkan badaknya sendiri. Nah, sepanjang bercerita, intonasi suara perlu berubah-ubah. Ketika mengucapkan kata ‘memasuki rawa-rawa’, maka suara perlu direndahkan. Ketika mengatakan ‘senapan disiapkan’, maka tangan kita perlu berubah menjadi senapan. Ketika mengatakan kata ‘DOR’, maka suara perlu ditinggikan dan kaki dihentakan di lantai. Jadilah, suasana yang rame dan FUN!

Atau bisa juga, bercerita menggunakan cita-cita mereka. Kalau ada yang mau jadi dokter, tanyakan apa tugas dokter. Lalu dari situ berceritalah ~

Baca juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Di akhir sesi, semua anak perlu menuliskan kembali cita-citanya, menempelkannya di poster, dan poster tersebut di tempel di kelas.

Sebagai penutup hari inspirasi, anak-anak termasuk relawan, kepsek, dan guru berkumpul di lapangan. Ada perform Qasidahan dan Pencak Silat dari anak-anak, sementara para relawan menampilkan flash mob lagu Naura “setinggi langit” yang diikuti oleh seluruh anak-anak.

Overall, it was a fascinating experience. Dijamin nagih! Bukan hanya anak-anaknya yang belajar, tetapi kita juga. Belajar bagaimana kepolosan, kejujuran, dan memiliki semangat tinggi. Karena terkadang semakin beranjak dewasa, kita lupa mempertahankan hal-hal tersebut. 😊

This slideshow requires JavaScript.

Anyway, see you again kids! Mengutip lirik lagu Naura, “Aku bisa jadi apa saja, setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya”. Yuk, sama-sama mengejar mimpi!

“Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain”
(B.J. Habibie)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

Baca juga Pendidikan = Mesin Percetakan

Baca juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

*photos are taken by the volunteers (Kak Firda dan Kak Niki yang kece badai!)

Fun Week at Manulife Singapore

Last week I had a chance to visit our office at Singapore. It was a great experience to see how Manulife in other countries operate and doing the business. Beside that, the project that I was working on is also very excited! We did an end user testing on one of our HR portal and system that will be used by employees globally to enhance and manage their career.

Being the observer of the test was such a priceless experience for me. I love to see how people’s reaction and asking questions – also sometimes they give the ideas and solutions to improve the system!

I also had a chance to meet my very 1st line manager, Audrey Ledbetter and the lovely ‘Schneider Electric Learning Services Team’, Maria Grace and Wei Kian. It was great to see them again since our last face to face was 2 years ago in Thailand.

Oh ya, I didn’t forget to capture some moments and visit some of places there! Here they are:

This slideshow requires JavaScript.

Thanks Manulife!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Jadi Bintang Iklan Kantor!

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

 

Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Memetik Pelajaran dari Kemenangan Barcelona atas PSG

Barcelona 6-1 PSGAmbisi yang hampir mustahil diemban oleh pasukan Luis Enrique kala menjamu PSG di Nou Camp tengah pekan yang lalu. Kekalahan 4-0 di Paris membuat Lionel Messi cs diharuskan meraih kemenangan dengan margin 5 gol agar tetap dapat berkompetisi di Liga Champion tahun ini.

Tak disangka, kemenangan 6-1 berhasil dikunci oleh Barcelona, membuat mereka menjadi klub pertama yang berhasil lolos dari babak gugur Liga Champion walaupun kalah 4-0 di pertemuan pertama. Suporter Barcelona berteriak histeris, sementara supporter PSG tertunduk lemas.

Menarik melihat apa yang disajikan oleh Luis Enrique di pertandingan tersebut, bahkan (boleh dikatakan) sebelum pertandingan juga. Tak ada rasa pesimis di kubu Barca. “Jika mereka bisa mencetak 4 gol, maka kami juga bisa mencetak 6 gol,” ucap sang juru taktik. Di lain pihak, kubu PSG juga enggan menyalahkan wasit yang memberikan 2 penalti bagi kubu lawan. Kelengahan mereka di awal babak pertama dan menit-menit akhir pertandingan berdampak fatal dalam perjalanan mereka di Liga Champion tahun ini. 3 pelajaran dapat kita petik dari pertandingan tersebut:

Messi Barcelona Vs PSG

  1. Terkadang bisa di atas, terkadang bisa di bawah

Kekalahan telak 4-0 yang dialami pada pertemuan pertama di Paris seperti menghempaskan Barcelona kembali untuk berpijak di bumi. Sementara PSG terlihat perkasa dan terbang tinggi dengan kemenangan yang diraih.

Dalam pertandingan akhir pecan ini, PSG kembali lagi terbang setelah Edison Cavani mencetak gol tandang bagi PSG, tetapi dalam sekejap itu semua berbalik. Barcelona kembali lagi ‘terbang’, sementara PSG ‘dipaksa’ kembali untuk kembali ke bumi. Hidup terkadang memang bisa sekeras itu…

  1. 7 menit yang mengubah

Gol tandang yang dicetak Edison Cavani sebenarnya menjadi bekal yang sangat berharga bagi PSG. Skor saat itu menjadi 3-1. Hal tersebut membuat Barca harus mengejar 3 gol lagi untuk lolos. Sayangnya, kelengahan dalam 7 menit akhir laga memupus harapan Thiago Silva, dkk. Neymar menjadi kartu Asnya. 2 gol dan 1 assist-nya dalam kurun waktu 7 menit membuat Barcelona melakukan come back dan menginjakkan kakinya di perempat final tahun ini.

Menjadi terlena layaknya PSG atau memanfaatkan waktu yang walaupun sudah begitu mepet layaknya Barcelona, menjadi pilihan kita masing-masing…

  1. Never ever give up

Perjuangan yang hampir mustahil berbuah manis. Dalam sejarahnya, belum pernah ada klub yang mampu membalikkan keadaan setelah kalah 4-0 pada pertemuan pertama. But, Barca did it! Pengaruh besar dari pelatih yang tetap memandang optimis laga kedua juga ambil bagian dari keberhasilan tersebut. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lusi Enrique memandang pertandingan dengan pesimis? Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lionel Messi tidak memandang pertandingan dengan optimis yang tinggi?

Yuk, belajar dari Barcelona!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Terima Kasih, Timnas!

Baca Juga Belajar dari Juventus

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

*sumber foto: dailymailindiatimes