7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

PK Movie Poster.jpg

PK Movie – via http://www.koimoi.com

Malam ini saya habiskan untuk menonton film PK (2014) untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya saya putuskan untuk mencoba menulis beberapa insights yang saya dapat dari film tersebut.

Film yang dibintangi oleh Aamir Khan (PK) dan Anushka Sharma (Jaggu) ini menceritakan tentang datangnya seorang alien dari planet lain, yang diutus untuk melakukan penelitian di bumi. Tetapi baru saja mendarat di bumi, kalung remote control, yang merupakan perangkat penting untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, dicuri orang. Untuk mendapatkan remote control itu kembali, PK – yang diperankan oleh Aamir Khan, melakukan berbagai macam cara termasuk beradaptasi dengan kehidupan di bumi hingga mempelajari Agama yang dianut oleh manusia.

So, setelah menonton film tersebut, ini adalah 7 insights yang saya dapatkan dari film PK:

  1. Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main dengan agama

Jerry, bos Jaggu di kantor, sangat menentang ide dari Jaggu untuk mengangkat PK menjadi bahan berita. Rupanya Ia memiliki pengalaman ditembak oleh para pendukung Tapaswi ketika mulai membuat program untuk menyerang Pemuka Agama tersebut yang sepertinya anti kritik dan menganggap dirinya lah yang paling benar. Di akhir percakapan dengan Jaggu, Ia berkata, “Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main/membuat ribut dengan agama”. Nah…

  1. Tuhan ada banyak?

Menarik melihat bagaimana PK mencari Tuhan. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Ia mencoba satu demi satu agama untuk mencari Tuhan mana yang mampu mengembalikan remote control nya. Dan yang lebih membingungkannya adalah semua jenis Tuhan ini memiliki aturan yang berbeda satu sama lain. Ada Tuhan yang suka dengan air kelapa, ada yang suka dengan wine, ada yang tidak memperbolehkan wine. Cara menyembah Tuhan pun berbeda-beda. Dalam hati mungkin PK bertanya, ”Ah, jadi Tuhan itu ada berapa sih?” 😀

tapaswi-pk

Tapaswi – via http://www.keepo.me

  1. Tuhan punya manajer yang bisa salah sambung?

Yang saya tangkap, bahasa manajer di sini adalah orang-orang yang bertindak sebagai penerus “kata-kata” Tuhan untuk diteruskan kepada umatnya. Dalam hal ini berarti para pemuka dan tokoh agama. Dalam film PK kita dapat menemukan istilah “wrong number”, yang menurut pemahaman saya adalah ada kemungkinan para pemuka dan tokoh agama ini salah mengartikan pesan yang dikirim oleh Tuhan, sehingga apa yang diucapkan dan diajarkan oleh mereka ini tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, dan sayangnya ajaran salah tersebut ditelan mentah-mentah oleh umatnya.

Mari kita berdoa.. Semoga para Pemuka Agama kita tidak ‘salah sambung’ ya. Kebayang kan kalau ajaran yang salah diteruskan ke umat? PK seolah mengajak kita juga untuk bersikap kritis terhadap ajaran para Pemuka Agama.. toh Mereka juga manusia yang bisa khilaf kan? 🙂

  1. Menilai agama dari pakaian luar

Ada 1 scene di mana PK mengajak beberapa orang untuk ke tempat Tapaswi. Orang-orang tersebut sudah memakai pakaian khas agama-agama tertentu. Tapaswi diminta untuk menebak agama dari masing-masing orang tersebut. Dan hasilnya, TETOT! Salah semua..

Pakaian di film PK tersebut tentu hanya simbolis yang menceritakan bahwa terkadang kita juga seringkali menilai seseorang dari luarnya saja, bahkan penilaian kita hingga ke tingkat religiuitasnya. PK mengajarkan kita bahwa penampilan luar sebagai penilaian terhadap agama sifatnya tidak absolut dan bisa dimanipulasi.

  1. Tuhan tidak perlu dilindungi

Ketika one on one dengan PK, ada ucapan dari PK ditanggapi Tapaswi, “Saya akan melindungi Tuhan Saya”. Dan PK menjawab, “Dunia ini kecil jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Dan kamu, hidup di tempat kecil seperti ini mengatakan bahwa kamu ingin melindungi Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta? Dia tidak butuh dilindungi. Dia mampu melindungi dirinya sendiri, Tuhan itu tidak perlu dilindungi. Siapa lah kita manusia sampai berani maju untuk melindungi Tuhan?”

jaggu-dan-sarfaaraz

Jaggu dan Sarfaaraz – via http://www.dailymotion.com

  1. Generalisasi Kultur, Budaya, dan Agama

Menjelang akhir dari film, Jaggu diminta menelpon mantan kekasihnya yang Muslim asal Pakistan, Sarfaaraz. Dan terkuak lah bahwa ternyata Sarfaaraz tidak kabur dan melarikan diri seperti yang dikatakan Tapaswi di awal-awal film. Adanya stigma bahwa orang yang beragama Muslim itu tidak baik, membuat keluarga Jaggu takut meminta masukan dari Tapaswi. Sayangnya, wrong number!

 Seringkali di kehidupan nyata kita juga begini. Kita memukul rata sifat dan kepribadian orang karena kultur, budaya dan agamanya. Berapa kali kita mendengar kalau “Orang Batak itu ngomongnya keras”, “Orang Indonesia timur itu kasar-kasar”, “Orang Jawa itu sopan banget”, “Orang Cina itu pelit”, dll. Belum lagi generalisasi dari sisi Agama. Pernah mendengar,” Wah dia tuh agama XX, pasti dia YY”, “Dia tuh agamanya AB, gak mungkin punya sifat CD”, dan bahayanya, kita kerap kali memukul rata itu semua karena wrong number seperti di poin 3.

2 Gods.png

  1. Dan pada akhirnya.. Tuhan itu ada 2

Di scene akhir PK menjelaskan bahwa ada 2 jenis Tuhan. Yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua, dan satu lagi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia (dalam hal ini Tapaswi yang merupakan Pemuka Agama). PK dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang diciptakan oleh Tapaswi ini adalah cerminan dari Tapaswi itu sendiri, yaitu pembohong, memberikan janji palsu, senang ketika dipuji, memperkaya diri, dan membiarkan yang miskin terlantar.

Dengan diberikannya akal budi dari lahir, tentu kita diberikan kebebasan untuk memilih Tuhan mana yang semestinya kita sembah dan Tuhan mana yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jika bingung memilih Tuhan yang mana, maka temuilah pemuka agama.. Tapi make sure, bahwa pemuka agama ini memang orang yang tepat. Jangan sampai pemuka agama ini wrong number!

Yap, itulah sedikit coret-coretan yang saya dapat dari film PK. Setiap orang tentu punya insight masing-masing. Bagi yang belum menonton, saran saya untuk menonton dengan pikiran yang open mind dan semangat yang positif.

Selamat memaknai malam!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Perbedaan itu Indah

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Advertisements

3 Hal Positif Piala Dunia

2014 FIFA World Cup Image 18Demam bola sedang menjangkit di mana-mana. Tidak memandang usia, jenis kelamin, ataupun profesi, semua orang membicarakan sepak bola, termasuk orang yang tidak menyukai sepak bola :D. Perguliran piala dunia memang terbilang menarik. Perhelatan sepak bola 4 tahunan tersebut entah kenapa menjadi magnet kuat, sudah bukan hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi bisnis. Logo-logo dari brand ternama terpampang ‘indah’ di lapangan, iklan TV, hingga kaos para pemain. Sikut menyikut di lapangan bola menyisakan drama bagi para penggemar. Ada yang bahagia, tentu juga ada yang bercucuran air mata.

Di tengah ramainya piala dunia, saya merangkum ada sisi-sisi positif yang didapat dari piala dunia. Berikut 3 hal positif yang didapat dari pergelaran piala dunia:

1. Komunikasi

Pemerintah Brazil menargetkan 3,7 juta turis mendatangi negaranya selama perhelatan piala dunia. Tanpa memandang suku ataupun ras, begitu banyak orang berkumpul di sana untuk menonton piala dunia. Tak ketinggalan, di Indonesia juga. Di warung-warung hingga cafe, diadakan acara nonton bareng (nobar) selama turnamen berlangsung. Seperti yang saya sebutkan di atas, tanpa memandang usia, jenis kelamin, profesi, ataupun suku, mereka membicarakan dan menonton hal yang sama: sepak bola. Kesamaan akan hal tersebut menciptakan komunikasi. Mulai yang tadinya tidak kenal menjadi kenal. Bahkan di cafe-cafe, ketika nobar pembicaraan yang dimulai dari sepak bola bisa berujung ke hal-hal yang pribadi. Di lift kantor dan di sekolah/kampus yang diperbincangkan pun tak jauh dari sepak bola. Begitu pula di pangkalan ojek. Ya, komunikasi tercipta begitu ada kesamaan.

2. Menerima kekalahan dengan fair

Piala dunia menjadi pembelajaran yang menarik. Ketika seorang pemain di kartu merah oleh wasit, tentu akan ditanggapi reaksi pembelaan oelh rekan satu timnya. Tetapi yang menjadi unik adalah pada akhirnya mereka menerima dan mempercayakan FIFA untuk me-review nya. Tidak ada aksi brutal layaknya yang beberapa kali kita saksikan di liga negara kita sendiri. Bahkan hingga kalah secara dramatis di menit terakhir karena wasit memberikan penalti kepada lawan, kalah karena merasa ‘dicurangi’, merasa pemain lawan seharusnya di beri hukuman kartu tetapi wasit bergeming, hal-hal tersebut mereka terima. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada keributan.

3. Nasionalisme

Pada saat pergelaran Piala Dunia seperti ini mendadak rasa nasionalisme, baik negara yang bertanding maupun tidak, menjadi meningkat (tajam). Bagi masyarakat yang negaranya bertanding, mereka habis-habisan mendukung negaranya. Tak terbayangkan betapa puasnya masyarakat Kosta Rika melihat penampilan tim kesayangannya. Semua dukungannya seolah terbayarkan. Begitu pula bagi masyarakat yang negaranya tidak bertanding. Mereka memimpikan negaranya bertanding di kegiatan sepak bola terbesar di dunia tersebut. Tak terkecuali di Indonesia. Tentu kita mengharapkan suatu saat nanti lagu Indoenesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Amin.

Itulah 3 hal positif yang saya dapat saya rangkum selama perhelatan Piala Dunia. Tentu masih banyak lagi. Silahkan ditambahkan. 🙂

 

Semoga bermanfaat.
Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral