7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

PK Movie Poster.jpg

PK Movie – via http://www.koimoi.com

Malam ini saya habiskan untuk menonton film PK (2014) untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya saya putuskan untuk mencoba menulis beberapa insights yang saya dapat dari film tersebut.

Film yang dibintangi oleh Aamir Khan (PK) dan Anushka Sharma (Jaggu) ini menceritakan tentang datangnya seorang alien dari planet lain, yang diutus untuk melakukan penelitian di bumi. Tetapi baru saja mendarat di bumi, kalung remote control, yang merupakan perangkat penting untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, dicuri orang. Untuk mendapatkan remote control itu kembali, PK – yang diperankan oleh Aamir Khan, melakukan berbagai macam cara termasuk beradaptasi dengan kehidupan di bumi hingga mempelajari Agama yang dianut oleh manusia.

So, setelah menonton film tersebut, ini adalah 7 insights yang saya dapatkan dari film PK:

  1. Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main dengan agama

Jerry, bos Jaggu di kantor, sangat menentang ide dari Jaggu untuk mengangkat PK menjadi bahan berita. Rupanya Ia memiliki pengalaman ditembak oleh para pendukung Tapaswi ketika mulai membuat program untuk menyerang Pemuka Agama tersebut yang sepertinya anti kritik dan menganggap dirinya lah yang paling benar. Di akhir percakapan dengan Jaggu, Ia berkata, “Jika ingin tinggal di Negara ini, jangan main-main/membuat ribut dengan agama”. Nah…

  1. Tuhan ada banyak?

Menarik melihat bagaimana PK mencari Tuhan. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Ia mencoba satu demi satu agama untuk mencari Tuhan mana yang mampu mengembalikan remote control nya. Dan yang lebih membingungkannya adalah semua jenis Tuhan ini memiliki aturan yang berbeda satu sama lain. Ada Tuhan yang suka dengan air kelapa, ada yang suka dengan wine, ada yang tidak memperbolehkan wine. Cara menyembah Tuhan pun berbeda-beda. Dalam hati mungkin PK bertanya, ”Ah, jadi Tuhan itu ada berapa sih?” 😀

tapaswi-pk

Tapaswi – via http://www.keepo.me

  1. Tuhan punya manajer yang bisa salah sambung?

Yang saya tangkap, bahasa manajer di sini adalah orang-orang yang bertindak sebagai penerus “kata-kata” Tuhan untuk diteruskan kepada umatnya. Dalam hal ini berarti para pemuka dan tokoh agama. Dalam film PK kita dapat menemukan istilah “wrong number”, yang menurut pemahaman saya adalah ada kemungkinan para pemuka dan tokoh agama ini salah mengartikan pesan yang dikirim oleh Tuhan, sehingga apa yang diucapkan dan diajarkan oleh mereka ini tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, dan sayangnya ajaran salah tersebut ditelan mentah-mentah oleh umatnya.

Mari kita berdoa.. Semoga para Pemuka Agama kita tidak ‘salah sambung’ ya. Kebayang kan kalau ajaran yang salah diteruskan ke umat? PK seolah mengajak kita juga untuk bersikap kritis terhadap ajaran para Pemuka Agama.. toh Mereka juga manusia yang bisa khilaf kan? 🙂

  1. Menilai agama dari pakaian luar

Ada 1 scene di mana PK mengajak beberapa orang untuk ke tempat Tapaswi. Orang-orang tersebut sudah memakai pakaian khas agama-agama tertentu. Tapaswi diminta untuk menebak agama dari masing-masing orang tersebut. Dan hasilnya, TETOT! Salah semua..

Pakaian di film PK tersebut tentu hanya simbolis yang menceritakan bahwa terkadang kita juga seringkali menilai seseorang dari luarnya saja, bahkan penilaian kita hingga ke tingkat religiuitasnya. PK mengajarkan kita bahwa penampilan luar sebagai penilaian terhadap agama sifatnya tidak absolut dan bisa dimanipulasi.

  1. Tuhan tidak perlu dilindungi

Ketika one on one dengan PK, ada ucapan dari PK ditanggapi Tapaswi, “Saya akan melindungi Tuhan Saya”. Dan PK menjawab, “Dunia ini kecil jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Dan kamu, hidup di tempat kecil seperti ini mengatakan bahwa kamu ingin melindungi Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta? Dia tidak butuh dilindungi. Dia mampu melindungi dirinya sendiri, Tuhan itu tidak perlu dilindungi. Siapa lah kita manusia sampai berani maju untuk melindungi Tuhan?”

jaggu-dan-sarfaaraz

Jaggu dan Sarfaaraz – via http://www.dailymotion.com

  1. Generalisasi Kultur, Budaya, dan Agama

Menjelang akhir dari film, Jaggu diminta menelpon mantan kekasihnya yang Muslim asal Pakistan, Sarfaaraz. Dan terkuak lah bahwa ternyata Sarfaaraz tidak kabur dan melarikan diri seperti yang dikatakan Tapaswi di awal-awal film. Adanya stigma bahwa orang yang beragama Muslim itu tidak baik, membuat keluarga Jaggu takut meminta masukan dari Tapaswi. Sayangnya, wrong number!

 Seringkali di kehidupan nyata kita juga begini. Kita memukul rata sifat dan kepribadian orang karena kultur, budaya dan agamanya. Berapa kali kita mendengar kalau “Orang Batak itu ngomongnya keras”, “Orang Indonesia timur itu kasar-kasar”, “Orang Jawa itu sopan banget”, “Orang Cina itu pelit”, dll. Belum lagi generalisasi dari sisi Agama. Pernah mendengar,” Wah dia tuh agama XX, pasti dia YY”, “Dia tuh agamanya AB, gak mungkin punya sifat CD”, dan bahayanya, kita kerap kali memukul rata itu semua karena wrong number seperti di poin 3.

2 Gods.png

  1. Dan pada akhirnya.. Tuhan itu ada 2

Di scene akhir PK menjelaskan bahwa ada 2 jenis Tuhan. Yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua, dan satu lagi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia (dalam hal ini Tapaswi yang merupakan Pemuka Agama). PK dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang diciptakan oleh Tapaswi ini adalah cerminan dari Tapaswi itu sendiri, yaitu pembohong, memberikan janji palsu, senang ketika dipuji, memperkaya diri, dan membiarkan yang miskin terlantar.

Dengan diberikannya akal budi dari lahir, tentu kita diberikan kebebasan untuk memilih Tuhan mana yang semestinya kita sembah dan Tuhan mana yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jika bingung memilih Tuhan yang mana, maka temuilah pemuka agama.. Tapi make sure, bahwa pemuka agama ini memang orang yang tepat. Jangan sampai pemuka agama ini wrong number!

Yap, itulah sedikit coret-coretan yang saya dapat dari film PK. Setiap orang tentu punya insight masing-masing. Bagi yang belum menonton, saran saya untuk menonton dengan pikiran yang open mind dan semangat yang positif.

Selamat memaknai malam!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Perbedaan itu Indah

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Kekerasan dalam Pendidikan, Sampai Kapan?

risktekdiktiAwal tahun ini kita agak digegerkan dengan berita yang menghias media,baik online maupun cetak. Mulai dari isu pilkada, agama, pergerakan KPK, hingga berita dari dunia pendidikan. Dan harus jujur, mostly berita-berita tersebut mengandung nada negatif. Yang menarik perhatian Saya adalah berita duka dari dunia pendidikan. Saya bukan seorang guru, bukan seorang dosen, bahkan jauh juga jika dibilang seorang edukator. Tetapi berita ini cukup menyesakkan dada, di mana 1 orang mahasiswa STIP dan 3 orang mahasiswa Unisi (UII) meninggal karena ‘diduga’ adanya unsur kekerasan dari senior-seniornya. Turut berduka cita untuk semua korban, semoga dilapangkan jalannya menuju Surga, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin. Dan, salut untuk Pak Harsoyo yang dengan gentle mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Rektor UII.

Pertanyaan klasik. Mau sampai kapan kekerasan menghiasi dunia pendidikan yang seharusnya penuh dengan kegembiraan, semangat, dan impian? Mau sampai kapan kita mendengar jatuhnya korban karena ‘digembleng’ oleh seniornya?

Saya teringat akan seorang teman yang bercerita bagaimana dia mengubah culture dari suatu ekstrakurikuler yang dia ikuti di sekolah. Dia memperkenalkan Sistem Among, yang merupakan salah satu cara pelaksanaan pendidikan di Kepramukaan. Sistem Among tidak lain dan tidak bukan adalah gagasan dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Tentu kita tidak asing jika mendengar, “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KASRO, TUT WURI HANDAYANI“. Konsep sederhana dari Ki Hajar Dewantara ini yang dewasa ini ‘mungkin’ sudah terlupakan.

pelajar-indonesia

ING NGARSO SUNG TULODO : Di depan memberi teladan
ING MADYA MANGUN KASRO : Di tengah membangun kemauan/semangat
TUT WURI HANDAYANI : Di belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik untuk kemandirian

Saya membayangkan para senior di sekolah/kampus mempraktekkan konsep Sistem Among ini.

Ketika tampil di depan juniornya, mereka berlomba-lomba memberikan teladan yang positif serta menunjukkan prestasi mereka…
Ketika sedang bersama di tengah-tengah juniornya, para senior ini membangun kemauan dan semangat bersama para junior….
dan dari belakang, para senior ini memberikan dorongan serta pengaruh yang baik untuk kemandirian para junior…

Para senior ini sesungguhnya dapat menjadi motivator dan inspirator bagi para junior. Tentu akan harmonis ketika melihat para junior ‘digembleng’ dengan cara seperti ini oleh para senior. Dan pada akhirnya sang junior, yang nanti akan menjadi senior, berlomba-lomba untuk tampil di depan junior mereka nantinya, dengan menampilkan teladan serta prestasi yang mereka punya. Ah, semoga bukan hanya mimpi…

PR besar menanti para pejuang, praktisi, dan pemerhati pendidikan untuk menghilangkan kekerasan yang seolah sudah menggurita di tubuh pendidikan kita. Semangat teman!

Sebagai sarana menegur diri… Apa yang bisa Saya lakukan?
Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

*sumber foto: here, here

Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

orang-hebat

2017 sudah mulai menginjak minggu ke 2. Aktifitas rutin sudah mulai dilakukan kembali. Tak heran jalanan yang pada akhir Desember lalu terlihat begitu lenggang, kini menjadi penuh sesak oleh para pencari nafkah dan pencari ilmu.

Awal minggu ini di kantor, ada aktifitas rutin tahunan di mana semua karyawan berkumpul untuk mendengarkan evaluasi bisnis tahun lalu hingga target serta strategi di tahun baru ini. Untuk menghangatkan acara, panitia mengundang Komika yang sedang naik daun, Cak Lontong. Tak heran, muka-muka serius dari awal acara berubah menjadi gelak tawa seakan lupa akan target-target yang baru saja “diberikan” oleh top manajemen.

cak-lontong

Selfie dengan Cak Lontong

“Saya ini mulai semua dari bawah. Setelah SMA, Saya mau kuliah. Ibu Saya bilang, Kamu mau Kuliah? Ya Udayana. Yaudah, abis itu saya gak kuliah,” Ucap Cak Lontong dalam salah satu materinya. Penonton heran. Loh, Ibunya saja menyarankan untuk kuliah di Udayana, yang notabene merupakan salah satu Universitas Top di Indonesia, tepatnya di Bali. “Ya Saya gak jadi kuliah. Wong, Ibu Saya bilang, Uda(h) ya Na(k), Uda(h) ya Na(k),” Tambah Cak Lontong sambil memperagakan gerakan elusan seorang Ibu kepada anaknya. Sontak pecahlah ruangan dengan tawa dari penoton.

Pikiran Saya langsung tertuju pada kalimat-kalimat awal komedian yang populer dengan kata “Mikir” ini. Dan benar. Cak Lontong, yang dalam pikiran Saya adalah seorang komika yang hebat, tidak mendapatkan popularitas, ketenaran, dan kesuksesannya dengan instan. Jalannya panjang dan berliku. Otak Saya langsung merecall teman-teman Saya yang juga Saya cap sebagai orang hebat. Ah, tiba-tiba Saya merasa minder. Mereka terlalu hebat, bahkan ada yang dapat Saya katakan sebagai seorang yang jenius. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka hebat? Kenapa mereka bisa sehebat itu?

Bahkan seorang Albert Einstein pernah beberapa kali tidak naik kelas. Harland Sanders baru menemukan KFC di usia tuanya. Seorang seperti Habibie mengalami jatuh bangun sebagai seorang engineer. Pesepakbola Messi pernah dianggap terlalu ‘cebol’ untuk menjadi pemain bola. Seorang sukses semacam Deddy Corbuzier juga tak lancar dalam awal-awal sekolahnya. Begitu pun dengan teman-teman Saya yang hebat itu. Mereka tidak terlahir dengan cap “HEBAT”. Mereka tidak terlahir dengan cap “JENIUS”.

Apakah dari lahir Einstein langsung dibilang sebagai anak yang jenius? Apakah Harland Sanders dari lahir adalah seorang chef yang hebat? Apakah dari lahir seorang Habibie dapat membuat pesawat terbang? Apakah dari lahir Messi sudah jago mengolah bola? Apakah dari lahir Deddy Corbuzier mendapatkan predikat sebagai mentalist terbaik? Apakah Cak Lontong dari lahir mendapatkan predikat sebagai seorang komika yang sukses? Apakah dari lahir orang-orang hebat itu pintar? The answers are no!

lionel-messi

Lionel Messi dulu sempat dicap terlalu kecil untuk pemain bola

Mereka mendapat cap “HEBAT”, “PINTAR”, atau bahkan “JENIUS”, setelah mereka berhasil membuat suatu karya. Karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Karena itulah mereka mendapat cap tersebut. Tapi nyatanya, itu semua dihasilkan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Juga bukan dengan terlahir sebagai anak pintar. There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sedikit tamparan bagi Saya yang kerap kali melihat mereka sembari bergumam, “Ah, enak sekali hidup mereka. Nyari duitnya gampang banget ya”. Yang sering kali Saya lupakan adalah di balik kehebatan mereka, bersembunyi kata “consistent” dan “persistent”. Kembali Saya teringat para manager dan bos-bos yang pernah Saya temui. Ah, patternnya kurang lebih sama. Mereka tidak lahir dengan jabatan yang mereka emban. Ada perjuangan yang konsisten dan gigih yang tidak Saya tahu di balik kesuksesan mereka sekarang.

Malam sudah semakin larut. 2 kata tersebut masih jadi PR tersendiri bagi Saya. Kehebatan orang-orang tersebut, termasuk teman-teman Saya, paling tidak memberi Saya inspirasi. Semoga begitu juga dengan Anda.

Once again..
 There are no smart people, only those who consistent and persistent!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*artikel ini adalah terusan dari artikel : Masih Jalan di Tempat?

Baca Juga Hidup Sesuai Kemampuan

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

Baca Juga Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

Sumber foto: here, here

Hidup Sesuai Kemampuan

transaksi-rupiah

“Ah, anak itu. Gayanya banyak sekali. Update foto-foto gaulnya di medsos, jalan-jalan, terus makan di tempat mewah. Padahal Saya tahu persis gajinya berapa. Penasaran, bagaimana cara dia mengatur uangnya ya? Atau Cuma banyak gaya aja tuh anak.” Ucap seorang HR Manager.

“Ya, mungkin saja dia punya sampingan, jadi uang jajannya banyak,” jawab Saya sekenanya.

Begitulah dunia zaman sekarang. Gaya hidup mewah dimana-mana dan diumbar oleh sang pelaku dengan bangga. Tak masalah jika memang sang pelaku memiliki penghasilan yang besar, toh zaman sekarang luxury business sedang menjadi tren (bahkan di Eropa ada beberapa mata kuliah yang berfokus pada  luxury business management).

Bagaimana dengan orang-orang yang justru sebaliknya (penghasilan tak seberapa tapi gayanya wah)? Mereka kadang tak peduli kondisi keuangan yang gali lobang, tutup lobang. Penampilan yang keren menjadi sasaran dan target utama. “Yang penting gaya gue keren,” begitu katanya. Golongan ini adalah orang yang sangat mengikuti perkembangan tren sehingga life style pun mengikuti tren yang memang sedang happening. Yang menjadi masalah adalah kehidupan mewah yang diekspos ini hanya untuk memenuhi standar pergaulan semata, padahal penghasilan tak seberapa. Kalau istilah sekarang, mereka ini adalah golongan BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), memiliki kemauan yang banyak, tetapi kemampuan (finansial) sangat terbatas.

Sebagai sarana menegur diri, semoga kita dijauhkan dari sifat golongan orang-orang BPJS. Seperti judul di atas, ada baiknya hidup sesuai kemampuan, bukan kemauan.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*Bagi yang mau tahu tentang luxury business management, ini adalah insight mengenai luxury business dari konsultan Bain and Co:
http://www.bain.com/Images/BAIN_REPORT_Global_Luxury_2015.

BACA JUGA Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

BACA JUGA Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

BACA JUGA Apa Gunanya Sekolah?

Sumber foto: here

 

 

Perlukah S2?

sarjanaaPerlukah S2?

Pertanyaan klasik yang sering saya jumpai ketika sedang membawa sesi sharing atau training untuk adik-adik yang masih SMA ataupun mahasiswa S1. Banyak dari mereka menganggap bahwa dengan memiliki gelar S2, maka masa depan mereka terjamin cerah dan kesuksesan dapat mudah diraih. Pertanyaannya, benarkah begitu?

Hingga sekarang, saya melihat bahwa tidak ada garis linear antara gelar akademis dengan masa depan yang cerah. It depends on you! Tidak ada jaminan bahwa dengan gelar S2 hingga S3 maka karir akan melejit. Hal tersebut sama dengan memiliki gelar S1 bukan berarti kita akan terjamin diterima bekerja di perusahaan. Oh iya, banyak kok orang dengan S1 yang sukses luar biasa, bahkan ada yang (hanya) berijazah SMA!

Lantas, siapakah yang membutuhkan gelar S2? Jika kita memang tertarik dengan dunia akademis dan research, maka gelar S2 terasa tepat, bahkan mungkin sampai S3. Begitupun jika kita merasa masih membutuhkan tambahan ilmu dan pengetahuan. Mendaftar S2 dapat menjadi solusinya.

Yang menjadi kurang tepat adalah ketika kita mendaftar S2 hanya karena gaya-gayaan, mengikuti teman, hanya untuk mengisi waktu kosong karena nganggur, atau bahkan disuruh orang tua. Saya jadi teringat tulisan Hasanudin Abdurakhman di kompas, “tanpa tujuan yang tegas dan spesifik, melanjutkan kuliah S2 hanya akan memperpanjang masa status mahasiswa.”

Kembali lagi ke paragraf awal. Sekalipun sudah memegang gelar, baik S1, S2, maupun S3, manfaat dari gelar tersebut hanya akan kita rasakan jika memang kita mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat, serta terus ‘haus’ untuk belajar. Tak ada jaminan, tak ada garansi. Semua kembali lagi pada diri kita.

Salam Damai,

Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

Baca Juga Hikmah Kontroversi Arcandra: Indonesia Butuh Talent Pool?

Baca Juga Inikah Sistem Pendidikan Kita?

*sumber foto: here

 

Terima Kasih, Timnas!

timnas1

Terima kasih Timnas AFF 2016!

Harapan sempat membumbung tinggi ketika di kandang sendiri timnas berhasil memetik kemenangan 2-1. Tetapi 2 gol yang dicetak pemain Thailand di kandangnya memupuskan harapan masyarakat Indonesia untuk melihat tim nasionalnya meraih piala AFF untuk pertama kalinya.

Walaupun (lagi-lagi) menempati pos runner up, menarik untuk melihat bagaimana perjuangan timnas dalam gelaran AFF tahun ini. Dimulai dengan baru aktifnya persepakbolaan Indonesia setelah dibanned oleh FIFA selama kurang lebih 1.5 tahun – sehingga tak heran aroma pesimis hinggap di timnas dalam menghadapi AFF 2016-, persiapan yang mepet (3 bulan), hanya melakukan 4 kali uji coba, hingga setiap klub hanya diperbolehkan mengirim max 2 pemain. Tak lupa pula, menjelang AFF bergulir, timnas kehilangan salah satu pemain, Irfan Bachdim. Melihat hal tersebut, hasil yang diraih timnas tentu tak dapat dipandang sebelah mata. Nah, ada 3 hal positif yang dapat kita petik dari timnas di edisi AFF 2016 ini.

  1. Diremehkan bukan berarti kalah

Melihat persiapan timnas yang begitu minim, tak heran banyak pihak yang meragukan timnas akan melangkah jauh. Boro-boro masuk final, untuk lolos putaran grup yang dijuluki grup neraka saja, sepertinya merupakan suatu hal yang mustahil. Tetapi disinilah mental tim patut diapresiasi. Walaupun awalnya keteteran, timnas membuktikan bahwa dengan fighting spirit yang luar biasa, final pun dapat digapai. Walaupun awalnya diremehkan, hasil di lapangan dapat berbicara.

  1. Berbeda tetapi satu jua
    timnas2

Di saat Negara kita dihujani isu-isu berbau agama, timnas justru memberikan contoh bagaimana bentuk ideal dari Indonesia . Lahir di Indonesia berarti sudah harus ‘menerima nasib’ bahwa terdapat banyak perbedaan, mulai dari suku, ras, hingga agama. Seperti diketahui, timnas diisi oleh pemain dan tim pelatih dari berbagai latar belakang. Dikutip dari bola.com, komposisi skuat Garuda merata, mulai dari Sumatera hingga Papua atau bahkan Belanda. Kiper nomor tiga Timnas Indonesia, Teja Paku Alam berasal dari Painan (Sumatera Barat). Sementara itu kapten Tim Merah-Putih, Boaz Solossa berasal dari Sorong, Papua. Di sisi lain Stefano Lilipaly kelahiran Utrecht, Belanda. Zulham Zamrun dan Rizky Rizaldi Pora berdarah Ternate, Maluku Utara. Sedangkan Evan Dimas asal Surabaya serta Bayu Gatra dan Andik Vermansah asal Jember, Jawa Timur. Begitupula pemain-pemain lain yang berkampung halaman berbeda pulau. Begitupun dengan Agama. Mereka terdiri dari agama yang berbeda-beda, tetapi tetap berjuang sebagai satu tim. Tidak terbayang, apa jadinya jika mereka mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tersebut?

  1. Persistence

Hal menarik lain dari timnas AFF tahun ini adalah bagaimana kegigihan mereka dalam setiap pertandingan. Jujur saja, semua pertandingan timnas di AFF tahun ini begitu menarik untuk ditonton. Kita boleh diserang terus, kita boleh kebobolan dulu, tetapi itu tidak berarti kita langsung kalah. Terlihat dalam turnamen beberapa kali timnas dalam posisi tertinggal, tetapi mampu untuk membalikkan keadaan. Saya penasaran apa yang diucapkan oleh Alfred Riedl kepada para pemain ketika timnas dalam posisi tertinggal ya?…

Nah itu dia 3 hal positif yang dapat kita ambil dari timnas selama Piala AFF 2016 berlangsung. Terlepas dari ‘gagal’ nya tim menjadi juara, perjuangan timnas patut dan layak diacungin jempol. Terima kasih, timnas!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumber foto: My facebook’s homepage

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

 

Pembelajaran dari Switzerland Got Talent

Malam ini di newsfeed FB saya muncul 1 video yang dishare oleh seorang teman. Melihat judul video tersebut, saya pun meluangkan waktu untuk membuka video tersebut. Ah, ternyata worth it! Sepertinya memang video lama, tetapi menariknya, pesan dari video tersebut cukup dalam.

Ini link videonya di youtube:

Video tersebut berisi salah satu sesi audisi Got Talent, yang belakangan saya ketahui berasal dari Swiss. Di satu sisi bahasa tersebut memang tidak saya pahami, tetapi alur ceritanya sudah tergambar. Di video ini seolah-olah ‘menampar’ kita.

Bagi para orang tua, video ini mengajarkan agar kita tidak menuntut anak kita untuk bisa melakukan hal A,B, ataupun C dalam waktu instan. Terkadang kita memaksa mereka untuk sudah bisa bicara, fasih berbahasa Inggris ataupun berhitung. Lebih parah lagi jika sudah kita bandingkan dengan anak orang lain. Toh anak-anak sudah memiliki bakat di dalam diri mereka, hanya untuk mengeluarkannya memang butuh waktu.

Bagi para fresh graduate, video ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menapaki karir. Tidak bisa semuanya serba cepat dan instan. Seperti pelukis di atas, walaupun semua judges sudah berkata NO, Ia tetap dengan ‘PeDe’ berkarya, hingga waktu yang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagi para line manager, bersabarlah dalam membimbing dan mengembangkan anak buah. Tidak semua anak buah dapat mengeluarkan talent nya dalam waktu singkat. Terbayangkan jika anak buah kita seperti sang pelukis di atas? Di saat kita sudah mereject mereka, ternyata talent sesungguhnya baru dapat kita lihat. Eh, keburu dicaplok perusahaan lain deh 😀

Bagi para entertainer, video ini mengajarkan kita untuk terus konsisten dalam berkarya. Akan banyak ‘angin’ yang berhembus, akan banyak haters yang muncul, toh sepanjang karya yang diberikan bersifat positif, orang lain tentu dapat melihat hasilnya.

Bagi para pejabat publik, video ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja. Kita perlu melihat secara keseluruhan sebelum memberikan pendapat dan berkoar-koar, terlebih jika hal tersebut mengatasnamakan rakyat. Jangan sampai kita seperti para judges yang menyesal karena telah memutuskan menolak sang pelukis sebelum melihat hasilnya secara keseluruhan.

Bagi para pengajar, bersabarlah dalam mendidik. Kemampuan setiap anak murid anda berbeda-beda. Talenta yang mereka punyai pun berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa anak yang memiliki bakat di musik untuk memiliki nilai sempurna di pelajaran Matematika,begitu pun sebaliknya. Bersabarlah. Waktu akan menunjukkan talenta mereka, dan di saat itulah peran anda akan semakin dibutuhkan.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil…

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga 7 Keberanian

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja