Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

the-oscars-logo

Memenangkan ajang paling prestisius layaknya Piala Oscar / Academy Award tentu menjadi mimpi bagi semua insan perfilman. Bahkan jika melihat pidato-pidata para pemenang Oscar, tak sedikit yang menyebut bahwa memenangkan Piala Oscar adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Menarik mencermati isi pidato para pemenang Oscar (dan juga kompetisi-kompetisi sejenis lainnya). Ada 4 poin yang biasa ditemukan – dan juga menjadi bahan refleksi- :

  1. Berterima kasih kepada Tuhan

Ini adalah hal pertama yang paling sering kita jumpai dalam pidato kemenangan seseorang.

Now, first off, I want to thank God. ‘Cause that’s who I look up to. He has graced my life with opportunities that I know are not of my hand or any other human hand. (Matthew McConaughey – The Best Actor Oscar 2013)

God, I love you. Hallelujah. Thank you, Father God, for putting me through what you put me through, but I’m here and I’m happy (Cuba Gooding Jr – The Best Supporting Actor 1997)

Poin refleksi: Jika kita sendiri tidak mengajak Tuhan untuk berkerja sama dalam pekerjaan kita, mungkinkah kita mengucapkan terima kasih pada Nya?

  1. Berterima kasih kepada keluarga, kolega, dan semua pihak yang membantu

Poin nomor dua ini juga yang paling sering kita dengar. Para pemenang Oscar akan mengucapkan nama-nama keluarga, teman, serta semua pihak yang membantu dalam kelancaran film. Biasanya penyebutan nama-nama ini yang paling memakan banyak durasi.

Poin refleksi: Sudah sejauh mana kita berterima kasih untuk peran-peran invisible yang dijalani oleh keluarga serta teman-teman kita? Dan sejauh mana kita menyadari kehadiran mereka? Karena mereka memiliki kontribusi tersendiri…

  1. Menceritakan Perjuangan

I just said to Matt, ‘Losing would suck and winning would be really scary” Ben Affleck kepada Matt ketika memenangi Best Original Screen Play 1997

Ini adalah poin yang paling menarik. Seusai mengucapkan terima kasih, biasanya para pemenang akan menceritakan bagaimana perjuangan mereka. Cukup banyak aktor dan aktris yang berkali-kali menjadi nominasi tetapi tidak menjadi pemenang. Salah satunya Leonardo Di Caprio yang telah 3 kali masuk nominasi sebelum akhirnya berhasil menyabet Aktor terbaik tahun 2016 di nominasinya yang ke 4.

leonardo-di-caprio-oscar

Hal yang sama kurang lebih terjadi pada Ben Affleck. Setelah memenangi Best Original Screen Play dengan film Good Will Hunting tahun 1997, kebintangannya sempat memudar dengan 6 kali mendapat nominasi Golden Raspberry Award (penghargaan bagi film-film buruk) untuk kategori Worst Actor. Tetapi karya terus dihasilkan. Dan, sepertinya Ia memang cocok di belakang layar, terbukti dengan terpilihnya film yang Ia sutradarai, Argo, sebagai Best Picture di tahun 2013.

 Poin refleksi: Mungkin kita sekarang berada pada tahap ini. Tahap di mana kesulitan dan kesusahan muncul tanpa diundang. Kegagalan seolah menjadi teman yang akrab. Sayangnya, menyerah tidak ada di kamus seorang pemenang Oscar seperti Leonardo Di Caprio dan Ben Affleck. Mereka terus menghasilkan karya yang luar biasa. Andai saja mereka menyerah, tentu penghargaan sekelas Oscar tidak pernah mereka dapatkan.

  1. Mengenai Mimpi

When I look down at this golden statue, may it remind me and every little child that no matter where you’re from, your dreams are valid.” (Lupita Nyong’o – The Best Supporting Actress Oscar 2014)

I think I was probably eight years old and staring into the bathroom mirror. And this (holding up her statuette) would’ve been a shampoo bottle. Well, it’s not a shampoo bottle now! (Kate Winslett – Best Actress Oscar 2008)

Tak sedikit pula banyak para pemenang Oscar yang menceritakan akan mimpinya memenangi ajang bergengsi ini. Dan, mereka menceritakannya dikombinasi dengan poin nomor 3! Pidatonya jadi tambah maknyus!

Poin refleksi: Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

————————————————————————————————————–

“Saya bukanlah seorang aktor, aktris, maupun penggiat film. Saya tak perlu bermimpi memenangkan Piala Oscar.” Yes betul. Tetapi ada banyak kompetisi di luar sana yang dapat kita menangi sesuai jalur karir dan passion masing-masing. Senang menulis, bisa menjadi the best writer, sekarang menjadi seorang praktisi keuangan, suatu saat dapat menjadi the best CFO, sekarang menjadi seorang pengusaha UMKM, beberapa tahun kemudian dapat menjadi the best CEO in the Year, dan lain sebagainya.

Untuk itu mari kita mulai persiapkan pidato kemenangan kita dengan menggunakan 4 poin di atas tadi. Pelan-pelan kita eksekusi satu-satu poin refleksi di atas.

Dan… Bayangkan beberapa tahun dari sekarang, kita akan menyusun sebuah pidato kemenangan dengan dimulai mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga dan kolega, menceritakan pahit manisnya perjuangan, hingga bercerita mengenai mimpi yang menjadi nyata…

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Kekuatan Mimpi ala Judy Hoops “Zootopia”

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

*sumber foto: here, here

Pembelajaran dari Switzerland Got Talent

Malam ini di newsfeed FB saya muncul 1 video yang dishare oleh seorang teman. Melihat judul video tersebut, saya pun meluangkan waktu untuk membuka video tersebut. Ah, ternyata worth it! Sepertinya memang video lama, tetapi menariknya, pesan dari video tersebut cukup dalam.

Ini link videonya di youtube:

Video tersebut berisi salah satu sesi audisi Got Talent, yang belakangan saya ketahui berasal dari Swiss. Di satu sisi bahasa tersebut memang tidak saya pahami, tetapi alur ceritanya sudah tergambar. Di video ini seolah-olah ‘menampar’ kita.

Bagi para orang tua, video ini mengajarkan agar kita tidak menuntut anak kita untuk bisa melakukan hal A,B, ataupun C dalam waktu instan. Terkadang kita memaksa mereka untuk sudah bisa bicara, fasih berbahasa Inggris ataupun berhitung. Lebih parah lagi jika sudah kita bandingkan dengan anak orang lain. Toh anak-anak sudah memiliki bakat di dalam diri mereka, hanya untuk mengeluarkannya memang butuh waktu.

Bagi para fresh graduate, video ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menapaki karir. Tidak bisa semuanya serba cepat dan instan. Seperti pelukis di atas, walaupun semua judges sudah berkata NO, Ia tetap dengan ‘PeDe’ berkarya, hingga waktu yang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagi para line manager, bersabarlah dalam membimbing dan mengembangkan anak buah. Tidak semua anak buah dapat mengeluarkan talent nya dalam waktu singkat. Terbayangkan jika anak buah kita seperti sang pelukis di atas? Di saat kita sudah mereject mereka, ternyata talent sesungguhnya baru dapat kita lihat. Eh, keburu dicaplok perusahaan lain deh 😀

Bagi para entertainer, video ini mengajarkan kita untuk terus konsisten dalam berkarya. Akan banyak ‘angin’ yang berhembus, akan banyak haters yang muncul, toh sepanjang karya yang diberikan bersifat positif, orang lain tentu dapat melihat hasilnya.

Bagi para pejabat publik, video ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja. Kita perlu melihat secara keseluruhan sebelum memberikan pendapat dan berkoar-koar, terlebih jika hal tersebut mengatasnamakan rakyat. Jangan sampai kita seperti para judges yang menyesal karena telah memutuskan menolak sang pelukis sebelum melihat hasilnya secara keseluruhan.

Bagi para pengajar, bersabarlah dalam mendidik. Kemampuan setiap anak murid anda berbeda-beda. Talenta yang mereka punyai pun berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa anak yang memiliki bakat di musik untuk memiliki nilai sempurna di pelajaran Matematika,begitu pun sebaliknya. Bersabarlah. Waktu akan menunjukkan talenta mereka, dan di saat itulah peran anda akan semakin dibutuhkan.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil…

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga 7 Keberanian

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

 

 

Melihat Firdaus 3

Selasa, 6 September 2016 dalam perjalanan ke kantor, saya melihat firdaus. Di tengah kemacetan, saya, yang mengendarai sepeda motor, melihat sebuah mobil Honda Jazz ber-nopol B 1*5* *M. Bukan mobilnya yang saya perhatikan, tetapi yang terjadi di dalam mobil.

Seorang Ibu tengah menyetir, sementara di sampingnya -yang saya yakini adalah anaknya- duduk seorang anak perempuan dengan seragam merah putih, yang menandakan dia masih berstatus pelajar SD. Yang dilakukan anak perempuan itu seakan “menampar” saya. Anak SD tersebut sedang duduk sambil membaca ALKITAB! Ya, Alkitab. Di saat yang lain menggerutu dengan kemacetan, mengumpat-ngumpat dengan amarah, sang anak kecil ini dengan tenang duduk di kursinya sambil membaca Kitab Suci. Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita membaca Kitab Suci hari ini?

Terima kasih wahai anak kecil! Hari saya menjadi berwarna karena dirimu…

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Melihat Firdaus 1

Baca Juga Melihat Firdaus 2

Baca Juga Be Thankful

Allah adalah Baik dan Sempurna Adanya

KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

rajaAda seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!”

Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.”

Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka.

Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.”

Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif

Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat. Dan.. Allah pasti tahu mengapa Ia memilihmu untuk membaca pesan ini.


*copas dari grup WA. Untuk bahan renungan.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Sumber foto: HERE

Baca Juga Renungan Awal 2016: Family First

Baca Juga Memberikan Apresiasi

Baca Juga Orang Muda: Aset atau Keset?

Kekuatan Mimpi ala Judy Hoops “Zootopia”

It’s not about how badly you WANT something. It’s about what you are capable of!
(Chief Bogo)

Zootopia

Hari Senin kemarin Saya bersama beberapa rekan dari Gereja menonton sebuah film animasi baru karya Walt Disney berjudul Zootopia. Film Zootopia ini melengkapi film animasi dari Disney yang saya tonton akhir-akhir ini, Inside Out dan Good Dinosaur. Tak jauh beda dengan film animasi tersebut, Zootopia juga menawarkan sebuah sisi pandang yang berbeda dengan kekuatan nilai moral di dalamnya.

Film ini berkisah tentang dunia yang berisikan hewan sebagai pemeran tokoh utamanya. Tidak ada manusia sama sekali di film tersebut. Cerita dimulai dengan kisah masa kecil seekor kelinci bernama Judy Hoops yang sangat ingin menjadi polisi. Dalam sejarahnya, tidak ada kelinci yang mampu bahkan berniat untuk menjadi polisi. Polisi hanya berisikan hewan-hewan yang besar dan kuat. Hewan yang lemah dan kecil dianggap tidak cocok untuk menjadi polisi.

Di saat keinginannya sudah semakin sangat kuat, justru orang paling dekat, orang tua Hopps justru mendorong Hoops untuk mengikuti jejak mereka untuk menjadi petani wortel. Di saat inilah Hoops menunjukkan kekuatan mimpinya. Niatan yang sangat kuat, dengan misi untuk membuat dunia menjadi lebih baik, membawa Hoops untuk mengikuti seleksi menjadi polisi.

Pada awalnya Hoops sangat kewalahan. Rangkaian seleksi seolah-olah hanya diperuntukkan untuk hewan-hewan berbadan besar dan kuat. Tetapi di sinilah kekuatan mimpi Hoops kembali muncul. Di saat banyak halangan, rintangan, dan penolakan, Hoops justru melihat dari sisi pandang yang berbeda. Ia berlatih dan belajar lebih giat. Hasilnya? Hoops menjadi kelinci pertama yang mampu menjadi polisi!

Misinya untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik kembali menemui rintangan di hari pertamanya menjadi polisi. Oleh Kapten Polisi, Bogo, Hoops “hanya” ditempatkan pada polisi lalu lintas untuk menilang kendaraan. Hoops ditargetkan untuk membuat 100 surat tilang setiap harinya. Bukan Hoops namanya jika pasrah begitu saja. Hoops justru menaikkan target surat tilangnya menjadi 200. Do more, right?

Sambil menjalankan tugasnya, Hoops bertemu dengan seekor rubah yaitu Nick Wilde. Wilde adalah seekor rubah yang pandai berkomunikasi. Kelihaiannya Ia manfaatkan untuk menipu dan mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Tetapi, Hoops berhasil menghentikannya dan justru bersama-sama berhasil membongkar sindikat kejahatan yang dilakukan oleh Bellwether, mantan sekretaris walikota. Singkat cerita, Hoops berhasil memenuhi misinya untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, bahkan memiliki Wilde sebagai partner dalam bertugas.

Tanpa sadar kita pun sering menjadi Hoops pada awalnya. Kita memiliki mimpi dan ambisi yang besar. Layaknya Hoops, untuk menggapai mimpi tersebut kita akan menemui halangan dan rintangan, bahkan dari orang yang paling dekat dengan kita. Tentu kisah perjuangan kita bukan hanya sekitar 1,5 hingga 2 jam layaknya Hoops di film. Need time to achieve it. Hoops mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada mimpi, berjuang untuk meraih mimpi, dan konsisten untuk mewujudkannya. Terima kasih Hoops. Terima kasih Disney!

Life’s a little bit messy. We all make mistakes. No matter what type of animal you are, change starts with you.
(Judy Hoops)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Belajar dari Arlo – Sang Good Dinosaur” HERE

Baca Juga “Bertemu Pak Handry Satriago” HERE

Baca Juga “Belajar dari Valentino Rossi” HERE

*sumber foto: HERE

Btw, soundtrack film ini juga bagus. Kekuatan liriknya kuat dan menggambarkan isi dari film. Great song, Shakira! Visit here for the song

Belajar dari Arlo – Sang Good Dinosaur

Peregangan Kapasitas

Good dinosaur

Hari Rabu, 2 Desember 2015 yang lalu, Saya berkesempatan untuk menonton salah satu film hasil karya Disney, yaitu Good Dinosaur. Film yang dinilai imdb memiliki rating 7.4, ternyata bukan hanya film yang dikhususkan untuk anak-anak seperti pikiran saya sebelumnya. Film tersebut mengandung makna yang cukup luas dan memiliki beberapa nilai moral untuk dibawa pulang dan direnungkan.

Dimulai dengan sebuah scene adanya meteor yang jatuh ke bumi, film ini pada akhirnya menceritakan kehidupan sebuah keluarga dinosaurus dengan Arlo, sang anak bungsu sebagai tokoh utamanya.

Arlo adalah seekor dinosaurus yang berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Sebagai anak bungsu, Arlo adalah anak yang penakut, lemah, dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Ketakutan kerap kali menghampiri Arlo, seperti ketika memberi makan ayam. Alih-alih memberi makan, justru Arlo takut dan dikejar-kejar ayam. Bahkan sempat meminta ayahnya untuk mengganti pekerjaan tersebut dengan pekerjaan yang lain. Rasa takut yang lain terlihat ketika Arlo takut melihat kunang-kunang.

Dorongan yang kuat terus diberikan oleh kedua orangtuanya karena hanya tinggal Arlo yang belum memberi mark atau tanda kaki yang merupakan tanda keberhasilan. Sang ayahpun mengambil inisiatif dengan memberikan tugas untuk menangkap makhluk yang selalu mengambil jagung simpanan mereka. Seperti yang telah diduga, Arlo gagal mengemban tugas tersebut. Makhluk itu justru lari. Melihat hal tersebut, sang ayah mengajak Arlo untuk mengejar dan menangkap makhluk tersebut. Tetapi Arlo terlihat lemah dan akhirnya menyerah pada keadaan. Pada saat tersebut justru terjadi banjir badang yang mengakibatkan sang ayah tenggelam di dalamnya.

Perasaan bersalah menghinggapi Arlo. Hingga pada suatu ketika makhluk tersebut muncul kembali. Sayangnya justru Arko terpeleset dan terbawa arus sungai ketika mengejar. Ketika terbangun, Arlo tidak mengetahui dirinya berada di mana.

Ternyata makhluk yang dikejar Arlo adalah seorang anak kecil yang baik, yang diketahui bernama Spot. Mereka pun jadi berteman dan bersama-sama melewati berbagai rintangan untuk dapat kembali ke rumah.  Ketangguhan seorang Arlo terlihat dalam kondisi tersebut. Arlo berhasil untuk meregangkan kapasitas kemampuan yang selama ini tersimpan dan tidak berani dia keluarkan.

Arlo yang sebelumnya penakut menjadi lebih menjadi pemberani. Arlo tidak lagi takut jika ada hewan lain yang menyerangnya. Arko bahkan sampai bisa berenang dan menyelamatkan Spot ketika Spot terancam terbawa arus sungai. Pada film tersebut terlihat jelas betapa ujian-ujian yang ditempuh oleh Arlo berhasil mengubah dirinya menjadi Arlo yang berbeda. Seperti yang selalu dikatakan oleh Ayahnya, “Arlo, kamu sama seperti saya. Bahkan lebih”. Arko berhasil menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk mendengar kata-kata tersebut dari sang Ayah. Film ini diakhiri dengan kesedihan Arlo melepas Spot yang bertemu kembali dengan keluarganya, dan ditutup dengan kegembiraan keluarga Arlo menyambut kembalinya sang anak bungsu. Arlo pun berhasil memberi mark atau tanda layaknya anggota keluarga yang lain.

Film ini sangat jelas menggambarkan bahwa terkadang kita tidak sadar bahwa ada banyak kemampuan sebenernya yang kita punya, sayangnya kemampuan tersebut sering tersimpan dan tidak pernah dikeluarkan. Arlo, ketika diterjang berbagai macam rintangan, barulah mengeluarkan segala kemampuannya. Merefleksikan hal tersebut, sepertinya berlaku juga untuk kita. Kapasitas kemampuan yang ada pada kita akan muncul ketika adanya tantangan yang kita hadapi dan keluar dari zona nyaman kita. Meminjam kata-kata Neale Donald Walsch, seorang penulis, “Life begins at the end of your comfort zone”. Keluar dari kotak nyaman kita, memancing kita untuk berkarya dan mengeluarkan kemampuan terbaik kita. Saya teringat kata-kata seorang mentor, Setiap kali kita melakukan peregangan kapasitas kita, kita sebenarnya sedang mengakses kemampuan lain yang telah disimpan di dalam kita.  Peregangan kapasitas membangun rasa percaya diri, dan meskipun tidak nyaman selama beberapa waktu, ini mempersiapkan diri kita untuk bergerak maju menyusuri jalan menuju masa depan. So, sudah siap meregang? 🙂

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “3 Hal Positif Bermain Duel Otak” HERE

Baca Juga “Memberikan Apresiasi” HERE

Baca Juga “Experiential Learning” HERE

*sumber foto: http://www.pixar.com/