Memaknai Lukas 1:38

Bagi orang Katolik bulan Mei dikenal sebagai bulan Maria. Mulai dari perorangan, lingkungan, dan komunitas dengan tekun mendaraskan doa Rosario selama bulan ini. Dan berbicara mengenai Bunda Maria, tentu tak lepas dari pernyatannya seperti yang dikutip dari Injil Lukas 1:38, ‘sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu”.

Di satu sisi tentu kita dapat berpikir bahwa Bunda Maria berada dalam posisi yang menguntungkan, karena Ia mendapatkan rahmat dari Allah untuk mengandung Yesus. Tetapi di sisi lain, Bunda Maria menyadari betul konsekuensi yang Ia ambil. Kondisi di mana Ia belum menikah dan hamil di luar nikah tentu menjadi persoalan yang sangat besar, ancamannya hingga mati dilempari batu (Ulangan 22:23-24). Berserahnya Bunda Maria menandakan betapa besar iman yang dimilikinya.

Selepas pulang doa rosario di lingkungan, saya merefleksikan teladan iman oleh seorang Bunda Maria yang sepertinya sedang ‘berbicara’ langsung di kehidupan yang sedang saya alami.

Bulan lalu saya baru saja melepas status lajang. Setelah menikah, saya dan istri langsung pindah ke rumah sendiri. Mulai menyusun isi rumah baik secara fisik maupun non fisik. Masalah yang kami hadapi pun unik-unik, terlebih masih dalam masa penyesuaian hidup mandiri.

Letak kantor yang berjarak 52 km dari rumah menjadi contoh menarik lainnya. Dengan jarak total pulang-pergi 104 km, apapun dapat terjadi sepanjang perjalanan. Mulai dari hujan, macet, hingga kendala di alat transportasi dapat menjadi gangguan perjalanan. Tak hanya masalah jarak, baru menjalani 2 bulan di kantor baru, memiliki tantangan tersendiri.

Memiliki ketaatan iman layaknya Bunda Maria tentu mensyaratkan ujian yang panjang dan mungkin tak akan ada habisnya. Pertanyaannya: Sudah sejauh mana saya berserah diri? Seberapa besar iman yang saya punya? Sesiap apa saya menanggung konsekuensi dari iman ini?

Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Iman adalah penyerahan diri secara total kepada-Nya
(Unknown)

Sebagai sarana belajar dan menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Yesus yang Diam

Baca Juga Introducing: Grace Card

Baca Juga 3 Hal yang Dapat Kita Pelajari dari Seorang Mohamed Salah

*sumber foto: sesawi.net

Advertisements

Yesus yang Diam

Mengapa seorang pembuat mukjizat seperti Yesus hanya diam saja ketika disesah dan disiksa? Mengapa orang sekaliber Yesus yang ‘katanya’ Anak Allah diam saja ketika ditanggalkan bajunya? Mengapa Yesus tidak meminta tolong para muridnya untuk membantunya? Mengapa Yesus membiarkan para murid kabur ketakutan? Ia seolah-olah pelit berbicara.

Ada pepatah mengatakan “langit tidak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi”. Pada saat sengsaraNya memanggul salib sekalipun, Yesus tidak menunjukkan ‘titel’ dan ‘power’ yang dimilikinya. Bukankah Ia bisa saja membuat mukjizat di tengah perjalanan jalan salibnya dan membuka mata semua orang bahwa Ia adalah Tuhan? Ia sama sekali tidak menunjukkan semua itu.

Menarik dalam memahami konteks diamnya Yesus. Hal yang unik adalah bahwa dengan diamnya Ia menunjukkan kebesaranNya. Misi yang diemban olehNya bukanlah menunjukkan kehebatan diriNya, tetapi menunjukkan cinta kasih Allah yang begitu besar. Menebus dosa umat manusia dengan cara wafat di salib.

Apakah Yesus diam sepenuhnya? Ternyata tidak juga. Ia membuka mulut di saat-saat tertentu, terutama di saat Ia merenggang nyawa. Menjamin seorang penjahat di sebelahNya untuk masuk kerajaan Surga dan ucapan penyerahan nyawa kepada Bapa menandakan bahwa Ia tahu kapan Ia memang harus berbicara.

Bagaimana dengan kita? Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam gegap gempita dunia. Kita justru “berbicara” hampir sepanjang waktu, baik itu langsung melalui mulut maupun melalui jempol dan gadget yang ada di tangan kita. Dimana-mana ada lomba unjuk kehebatan dan kebesaran. Percakapan sehari-hari menjadi ajang adu kekayaan ataupun kepintaran. Postingan di media sosial menjadi ajang adu pamer gaya hidup. Terlena oleh hal-hal tersebut, kita sering lupa untuk diam sejenak.

Para murid seolah sengaja dibiarkan kabur, untuk melakukan refleksi dan semakin teguh dalam beriman. Setelah Yesus bangkit, mereka menjadi sangat solid dan semakin bersemangat menyebarkan Injil. Para serdadu yang menyiksa diriNya dibuat tercengang dengan apa yang terjadi sesaat setelah Ia wafat. Para pengikutNya pun menjadi bertambah banyak. Kenapa hal itu bisa terjadi? Selain bahwa itu adalah kehendak Allah, saya juga yakin karena kesengajaan Yesus untuk diam. Ia sengaja diam membiarkan para murid kabur. Ia pun sengaja berdiam diri ketika disiksa.

Ya, Ia memang diam. Tapi Ia tak sepenuhnya diam. Dalam diamnya, Ia menunjukkan kebesaranNya.

Mampukah kita mengikuti teladanNya?

Saya bukanlah seorang lulusan ilmu agama. Tetapi izinkan saya menggunakan ini sebagai bagian dari refleksi Paskah tahun ini.

Selamat memaknai Paskah. Tuhan memberkati.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Untung atau Malang?

Baca Juga Introducing: Grace Card

Baca Juga Iklan di Youtube yang Gak Gue Skip!

*sumber foto: Mata Mikael

Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

the-oscars-logo

Memenangkan ajang paling prestisius layaknya Piala Oscar / Academy Award tentu menjadi mimpi bagi semua insan perfilman. Bahkan jika melihat pidato-pidata para pemenang Oscar, tak sedikit yang menyebut bahwa memenangkan Piala Oscar adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Menarik mencermati isi pidato para pemenang Oscar (dan juga kompetisi-kompetisi sejenis lainnya). Ada 4 poin yang biasa ditemukan – dan juga menjadi bahan refleksi- :

  1. Berterima kasih kepada Tuhan

Ini adalah hal pertama yang paling sering kita jumpai dalam pidato kemenangan seseorang.

Now, first off, I want to thank God. ‘Cause that’s who I look up to. He has graced my life with opportunities that I know are not of my hand or any other human hand. (Matthew McConaughey – The Best Actor Oscar 2013)

God, I love you. Hallelujah. Thank you, Father God, for putting me through what you put me through, but I’m here and I’m happy (Cuba Gooding Jr – The Best Supporting Actor 1997)

Poin refleksi: Jika kita sendiri tidak mengajak Tuhan untuk berkerja sama dalam pekerjaan kita, mungkinkah kita mengucapkan terima kasih pada Nya?

  1. Berterima kasih kepada keluarga, kolega, dan semua pihak yang membantu

Poin nomor dua ini juga yang paling sering kita dengar. Para pemenang Oscar akan mengucapkan nama-nama keluarga, teman, serta semua pihak yang membantu dalam kelancaran film. Biasanya penyebutan nama-nama ini yang paling memakan banyak durasi.

Poin refleksi: Sudah sejauh mana kita berterima kasih untuk peran-peran invisible yang dijalani oleh keluarga serta teman-teman kita? Dan sejauh mana kita menyadari kehadiran mereka? Karena mereka memiliki kontribusi tersendiri…

  1. Menceritakan Perjuangan

I just said to Matt, ‘Losing would suck and winning would be really scary” Ben Affleck kepada Matt ketika memenangi Best Original Screen Play 1997

Ini adalah poin yang paling menarik. Seusai mengucapkan terima kasih, biasanya para pemenang akan menceritakan bagaimana perjuangan mereka. Cukup banyak aktor dan aktris yang berkali-kali menjadi nominasi tetapi tidak menjadi pemenang. Salah satunya Leonardo Di Caprio yang telah 3 kali masuk nominasi sebelum akhirnya berhasil menyabet Aktor terbaik tahun 2016 di nominasinya yang ke 4.

leonardo-di-caprio-oscar

Hal yang sama kurang lebih terjadi pada Ben Affleck. Setelah memenangi Best Original Screen Play dengan film Good Will Hunting tahun 1997, kebintangannya sempat memudar dengan 6 kali mendapat nominasi Golden Raspberry Award (penghargaan bagi film-film buruk) untuk kategori Worst Actor. Tetapi karya terus dihasilkan. Dan, sepertinya Ia memang cocok di belakang layar, terbukti dengan terpilihnya film yang Ia sutradarai, Argo, sebagai Best Picture di tahun 2013.

 Poin refleksi: Mungkin kita sekarang berada pada tahap ini. Tahap di mana kesulitan dan kesusahan muncul tanpa diundang. Kegagalan seolah menjadi teman yang akrab. Sayangnya, menyerah tidak ada di kamus seorang pemenang Oscar seperti Leonardo Di Caprio dan Ben Affleck. Mereka terus menghasilkan karya yang luar biasa. Andai saja mereka menyerah, tentu penghargaan sekelas Oscar tidak pernah mereka dapatkan.

  1. Mengenai Mimpi

When I look down at this golden statue, may it remind me and every little child that no matter where you’re from, your dreams are valid.” (Lupita Nyong’o – The Best Supporting Actress Oscar 2014)

I think I was probably eight years old and staring into the bathroom mirror. And this (holding up her statuette) would’ve been a shampoo bottle. Well, it’s not a shampoo bottle now! (Kate Winslett – Best Actress Oscar 2008)

Tak sedikit pula banyak para pemenang Oscar yang menceritakan akan mimpinya memenangi ajang bergengsi ini. Dan, mereka menceritakannya dikombinasi dengan poin nomor 3! Pidatonya jadi tambah maknyus!

Poin refleksi: Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

————————————————————————————————————–

“Saya bukanlah seorang aktor, aktris, maupun penggiat film. Saya tak perlu bermimpi memenangkan Piala Oscar.” Yes betul. Tetapi ada banyak kompetisi di luar sana yang dapat kita menangi sesuai jalur karir dan passion masing-masing. Senang menulis, bisa menjadi the best writer, sekarang menjadi seorang praktisi keuangan, suatu saat dapat menjadi the best CFO, sekarang menjadi seorang pengusaha UMKM, beberapa tahun kemudian dapat menjadi the best CEO in the Year, dan lain sebagainya.

Untuk itu mari kita mulai persiapkan pidato kemenangan kita dengan menggunakan 4 poin di atas tadi. Pelan-pelan kita eksekusi satu-satu poin refleksi di atas.

Dan… Bayangkan beberapa tahun dari sekarang, kita akan menyusun sebuah pidato kemenangan dengan dimulai mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga dan kolega, menceritakan pahit manisnya perjuangan, hingga bercerita mengenai mimpi yang menjadi nyata…

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Kekuatan Mimpi ala Judy Hoops “Zootopia”

Baca Juga 7 Insights tentang Perbedaan dari Film Kontroversial ‘PK’

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

*sumber foto: here, here

Pembelajaran dari Switzerland Got Talent

Malam ini di newsfeed FB saya muncul 1 video yang dishare oleh seorang teman. Melihat judul video tersebut, saya pun meluangkan waktu untuk membuka video tersebut. Ah, ternyata worth it! Sepertinya memang video lama, tetapi menariknya, pesan dari video tersebut cukup dalam.

Ini link videonya di youtube:

Video tersebut berisi salah satu sesi audisi Got Talent, yang belakangan saya ketahui berasal dari Swiss. Di satu sisi bahasa tersebut memang tidak saya pahami, tetapi alur ceritanya sudah tergambar. Di video ini seolah-olah ‘menampar’ kita.

Bagi para orang tua, video ini mengajarkan agar kita tidak menuntut anak kita untuk bisa melakukan hal A,B, ataupun C dalam waktu instan. Terkadang kita memaksa mereka untuk sudah bisa bicara, fasih berbahasa Inggris ataupun berhitung. Lebih parah lagi jika sudah kita bandingkan dengan anak orang lain. Toh anak-anak sudah memiliki bakat di dalam diri mereka, hanya untuk mengeluarkannya memang butuh waktu.

Bagi para fresh graduate, video ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menapaki karir. Tidak bisa semuanya serba cepat dan instan. Seperti pelukis di atas, walaupun semua judges sudah berkata NO, Ia tetap dengan ‘PeDe’ berkarya, hingga waktu yang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagi para line manager, bersabarlah dalam membimbing dan mengembangkan anak buah. Tidak semua anak buah dapat mengeluarkan talent nya dalam waktu singkat. Terbayangkan jika anak buah kita seperti sang pelukis di atas? Di saat kita sudah mereject mereka, ternyata talent sesungguhnya baru dapat kita lihat. Eh, keburu dicaplok perusahaan lain deh 😀

Bagi para entertainer, video ini mengajarkan kita untuk terus konsisten dalam berkarya. Akan banyak ‘angin’ yang berhembus, akan banyak haters yang muncul, toh sepanjang karya yang diberikan bersifat positif, orang lain tentu dapat melihat hasilnya.

Bagi para pejabat publik, video ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja. Kita perlu melihat secara keseluruhan sebelum memberikan pendapat dan berkoar-koar, terlebih jika hal tersebut mengatasnamakan rakyat. Jangan sampai kita seperti para judges yang menyesal karena telah memutuskan menolak sang pelukis sebelum melihat hasilnya secara keseluruhan.

Bagi para pengajar, bersabarlah dalam mendidik. Kemampuan setiap anak murid anda berbeda-beda. Talenta yang mereka punyai pun berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa anak yang memiliki bakat di musik untuk memiliki nilai sempurna di pelajaran Matematika,begitu pun sebaliknya. Bersabarlah. Waktu akan menunjukkan talenta mereka, dan di saat itulah peran anda akan semakin dibutuhkan.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil…

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga 7 Keberanian

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

 

 

Melihat Firdaus 3

Selasa, 6 September 2016 dalam perjalanan ke kantor, saya melihat firdaus. Di tengah kemacetan, saya, yang mengendarai sepeda motor, melihat sebuah mobil Honda Jazz ber-nopol B 1*5* *M. Bukan mobilnya yang saya perhatikan, tetapi yang terjadi di dalam mobil.

Seorang Ibu tengah menyetir, sementara di sampingnya -yang saya yakini adalah anaknya- duduk seorang anak perempuan dengan seragam merah putih, yang menandakan dia masih berstatus pelajar SD. Yang dilakukan anak perempuan itu seakan “menampar” saya. Anak SD tersebut sedang duduk sambil membaca ALKITAB! Ya, Alkitab. Di saat yang lain menggerutu dengan kemacetan, mengumpat-ngumpat dengan amarah, sang anak kecil ini dengan tenang duduk di kursinya sambil membaca Kitab Suci. Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita membaca Kitab Suci hari ini?

Terima kasih wahai anak kecil! Hari saya menjadi berwarna karena dirimu…

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Melihat Firdaus 1

Baca Juga Melihat Firdaus 2

Baca Juga Be Thankful