Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Advertisements

Pembelajaran dari Switzerland Got Talent

Malam ini di newsfeed FB saya muncul 1 video yang dishare oleh seorang teman. Melihat judul video tersebut, saya pun meluangkan waktu untuk membuka video tersebut. Ah, ternyata worth it! Sepertinya memang video lama, tetapi menariknya, pesan dari video tersebut cukup dalam.

Ini link videonya di youtube:

Video tersebut berisi salah satu sesi audisi Got Talent, yang belakangan saya ketahui berasal dari Swiss. Di satu sisi bahasa tersebut memang tidak saya pahami, tetapi alur ceritanya sudah tergambar. Di video ini seolah-olah ‘menampar’ kita.

Bagi para orang tua, video ini mengajarkan agar kita tidak menuntut anak kita untuk bisa melakukan hal A,B, ataupun C dalam waktu instan. Terkadang kita memaksa mereka untuk sudah bisa bicara, fasih berbahasa Inggris ataupun berhitung. Lebih parah lagi jika sudah kita bandingkan dengan anak orang lain. Toh anak-anak sudah memiliki bakat di dalam diri mereka, hanya untuk mengeluarkannya memang butuh waktu.

Bagi para fresh graduate, video ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menapaki karir. Tidak bisa semuanya serba cepat dan instan. Seperti pelukis di atas, walaupun semua judges sudah berkata NO, Ia tetap dengan ‘PeDe’ berkarya, hingga waktu yang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagi para line manager, bersabarlah dalam membimbing dan mengembangkan anak buah. Tidak semua anak buah dapat mengeluarkan talent nya dalam waktu singkat. Terbayangkan jika anak buah kita seperti sang pelukis di atas? Di saat kita sudah mereject mereka, ternyata talent sesungguhnya baru dapat kita lihat. Eh, keburu dicaplok perusahaan lain deh 😀

Bagi para entertainer, video ini mengajarkan kita untuk terus konsisten dalam berkarya. Akan banyak ‘angin’ yang berhembus, akan banyak haters yang muncul, toh sepanjang karya yang diberikan bersifat positif, orang lain tentu dapat melihat hasilnya.

Bagi para pejabat publik, video ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja. Kita perlu melihat secara keseluruhan sebelum memberikan pendapat dan berkoar-koar, terlebih jika hal tersebut mengatasnamakan rakyat. Jangan sampai kita seperti para judges yang menyesal karena telah memutuskan menolak sang pelukis sebelum melihat hasilnya secara keseluruhan.

Bagi para pengajar, bersabarlah dalam mendidik. Kemampuan setiap anak murid anda berbeda-beda. Talenta yang mereka punyai pun berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa anak yang memiliki bakat di musik untuk memiliki nilai sempurna di pelajaran Matematika,begitu pun sebaliknya. Bersabarlah. Waktu akan menunjukkan talenta mereka, dan di saat itulah peran anda akan semakin dibutuhkan.

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil…

Semoga bermanfaat!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga 7 Keberanian

Baca Juga Suka dan Duka Kuliah sambil Kerja

 

 

7 Keberanian

Pagi itu saya makan pagi di Hotel Mulia bersama seorang konsultan dari Amerika yang sangat concern kepada pengembangan talent di Indonesia.

Sebut saja namanya Michael (bukan nama sebenarnya). Michael adalah seorang konsultan internasional yang pernah lama tinggal di Jerman, Perancis, China dan Singapore.

Michael juga sudah lama mempelajari karakteristik talent yang berbeda-beda dari berbagai negara di Asia termasuk Indonesia.

Tiba-tiba Michael bertanya,”What is the meaning of the 2 colors in your national flag?”

Dan saya pun menjelaskan bahwa Merah berarti “berani” dan Putih berarti “suci”.

Pada saat mendengarkan kata “berani” atau “courage”, Michael agak terkejut dan menginterupsi saya,”Excuse me… Are you sure it is courage?”

Saya bilang yes.

Michael bertanya lagi,”Are you sure that courage is one of the characters of the Indonesian?”

(Apakah saya yakin bahwa keberanian adalah karakter bangsa ini?).

Saya sebenarnya agak tersinggung mendengarkan pertanyaan ini, dan dalam hati saya bertanya (“maksud loe apa sih?”)

Tetapi masih dengan tersenyum (hambar) saya menerangkan dengan sabar. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani dan saya terangkan bagaimana heroic nya bangsa kita pada saat berperang melawan penjajah hanya dengan bermodalkan bambu runcing sementara penjajah kita mempunyai senjata yang lengkap dan modern.

“You have to admit , our people were extremely couragous…”.

Michael mengangguk setuju. Kemudian dia bertanya,”When was it?”

Saya menjawab bahwa perjuangan melawan penjajah itu kita lakukan sejak beratus-ratus tahun sampai akhirnya kita memperoleh kemerdekaan kita pada tahun 1945.

Michael tersenyum,”So it was more than 70 years ago”

Kemudian Michael bertanya lagi… (sekarang semua diskusi akan saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia).

“Pambudi, kamu pernah bekerja di 7 negara. Kamu pernah travel ke 45 negara. Kamu bahkan pernah menjadi Head of Talent Development di Singapore, China dan Germany…., apakah memang menurut kamu talent talent di Indonesia paling pemberani dalam hal….

– bertanya di meeting

– mengemukakan pendapat

– men-challenge bossnya sendiri

– menawarkan solusi …?

Apakah sebagian besar talent talent dari Indonesia melakukan hal hal di atas itu? Ataukah talent talent dari Indonesia lebih banyak duduk di pojok dan berdiam diri dan membiarkan peserta yang lain menyampaikan pendapatnya?

Saya pun termenung. Dan pembicaraan pagi itu menghantui pikiran saya beberapa hari sambil memikirkan pertanyaan Michael.

Bener juga ya….

Ternyata sebagian besar talent talent Indonesia kurang assertive, kurang confident dan kurang mampu articulate their communications (dan biasanya mereka maju pesat dalam kariernya).

Memang ada beberapa yang sudah confident, tapi sebagian besar masih masuk kategory “kurang pemberani”.

Padahal dalam dunia bisnis global sekarang, anda tidak hanya dituntut untuk competent.

Competence alone will not bring you far away.

Untuk mengembangkan karier anda dituntut untuk juga mempunyai

– CONFIDENCE (percaya diri), dan

– COMMUNICATION skills

(mampu berkomunikasi dengan effective)

Terus bagaimana dong ?

Sudah waktunya mengganti mind set dan keluar dari paradigma lama seperti ini

– Tong kosong nyaring bunyinya (sekarang kita cari Tong berisi yang nyaring bunyinya)

– Diam itu emas … (mungkin, tapi harga emas sudah turun..Jadi diam itu emas, bicara dengan baik itu  berlian)

– Padi makin tua makin merunduk (memangnya sakit pinggang, jadilah padi yang berisi dan berdiri tegak)

– Air beriak tanda tak dalam …

Lihat betapa banyaknya peribahasa yang menyuruh kita diam seribu bahasa.

But the world has changed..

Dunia sudah berganti.

The paradigm has to be changed also.

Ingat, yang paling sukses bukannya yang paling pintar atau yang paling kuat, tapi yang paling mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan.

So….mari kita tampil beda. Mari kita tampil berani.

Talk!

Share what you you think!

Propose your solutions!

If you dont talk, nobody will know how smart you are.

And if they dont know that you are smart, dont blame  them if they think you are stupid!

Anda bertanggung jawab untuk membentuk persepsi tentang anda sendiri.

Terus keberanian apa dong yang kita butuhkan di tempat kita bekerja …

Kan ini juga bukan jamannya lagi untuk mengangkat bambu runcing dan maju ke medan perang.

Kita harus berjuang, tetapi dengan cara lain.

Kita tetap harus berani!

Berdasarkan pengamatan saya pada high potential talents yang sekarang menempati posisi puncak. Ini adalah keberanian yang mereka miliki

  1. Dare to ask question

Mereka berani bertanya.

Karena mereka perduli dan care. Mereka ingin mengerti permasalahannya dan ingin membantu memberikan solusi meskipun itu di luar tanggung jawab mereka.

That’s profesionalism.

Bukan hanya duduk termenung di pojok ruang meeting.

  1. Dare to challenge

Pada saat seseorang menyampaikan solusi atau presentasi, mereka berani men-challenge.

Is it the best way to do things?

Is it the best way to achieve the objectives?

Mereka berani men-challenge anak buah mereka, men-challenge peer mereka, bahkan mereka berani men-challenge boss mereka.

(Mereka mampu men-challenge dengan cara yang sopan dan profesional).

Mereka tidak takut dinilai negative (karena men-challenge), because they know they have the good intention (to improve the situation).

  1. Dare to propose a solution

Banyak orang yang bisa mengkritik.

Tapi jarang yang bisa memberikan solusi.

Padahal sebenarnya bisnis tidak memerlukan kritik.

In the end of the day, bisnis membutuhkan solusi.

Kalau satu-satunya yang anda bisa berikan adalah mengkritik, mungkin lebih baik anda diam.

Siapapun akan lebih suka orang yang menawarkan solusi dengan positive daripada hanya sekedar mengkritik.

Think from that angle, before you open your mouth

  1. Dare to implement

Setelah anda memikirkan solusi, anda juga harus berani mengimplementasikanTake ownership.

Take charge of the implementation!

Jangan hanya ngomong banyak waktu brainstorming, tapi menghilang waktu diimplememtasikan.

  1. Dare to receive feedback

Setelah anda mengimplementasikan, be open mind.

Terbukalah dengan kritik.

Terimalah feedback sebagai masukan untuk improve situation.

Don’t take it personally.

Don’t deny.

Don’t be defensive.

Just listen, understan, filter, select and implement the ones that create significant improvement.

  1. Dare to put team’s interest first

Remember, a good professional put the team’s interest before his own.

Ada pepatah China.

If you want to go fast, go by yourself.

If you want to go far, go with others.

Performance anda sangat tergantung dari performance team anda.

Be a sport, learn to play in a team.

It is  more fun and your career will progress accordingly.

  1. Dare to learn everyday

Last but not least, learn new things everyday.

Dunia berubah,  bisnis anda berubah, kompetisi berubah petanya, perilaku consumer anda berubah.

Belajarlah, amatilah dan beradaptasilah!

Jadi ingat ya… untuk perform well dan progress in your career, anda harus memiliki 7 keberanian ini….

  1. Dare to ask question
  2. Dare to challenge
  3. Dare to propose a solution
  4. Dare to implement
  5. Dare to receive feedback
  6. Dare to put team’s interest first
  7. Dare to learn everyday

Kita coba yuk…

Dan mari kita tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang pemberani, dulu (di jaman perang melawan penjajah) dan juga di masa sekarang dan di masa depan (di era kompetisi global).

We were couragous, and lets show that we are (and we will always be) couragous!

Ini akan mempercepat pengembangan talent talent Indonesia untuk terus menerus tampil di pentas global.

Salam hangat,

Pambudi Sunarsihanto

————————————————————————————————————————————-

Sebuah artikel yang dishare dari sebuah grup WA..

*Siapa Pambudi Sunarsihanto? Cek disini

Salam Damai
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Jadi, Masih Mau Sombong

Baca Juga Hikmah Kontroversi Arcandra: Indonesia Butuh Talent Pool?

Baca Juga Menjadi Suporter Capres yang Cerdas

Belajar Toleransi dari Google

6 Juni yang lalu saya melihat beberapa teman di facebook share sebuah video yang merupakan short film dari Google. Makna film yang kental dengan keanekaragaman yang ada di Indonesia membuat video ini cepat menjadi viral. Salut untuk Google yang telah mengangkat tema ini. Walaupun kantor pusatnya nan jauh di sana, short film ini membuktikan bahwa Google mengetahui tema yang pas untuk dibawa “ber-iklan” di Indonesia. 🙂

Short film yang berisikan 3 orang sahabat ini berceritakan mengenai ambisi mereka menjadi sebuah band sukses. Berawal dari itu, mereka diundang untuk ke Bali menghadiri audisi, tetapi awal audisi tersebut justru bentrok dengan hari pertama puasa. Salah satu dari mereka beragama muslim dan biasa menghabiskan hari pertama puasa dengan keluarga. Di sinilah keunikan short film ini. 2 orang sahabatnya yang lain justru ikut berpuasa untuk menghormati teman Muslimnya yang sedang berpuasa. “Kan biasanya puasa pertama bersama keluarga”, ucap temannya. 🙂

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saya juga pernah jadi “ikutan puasa” karena memang sedang bersama dengan lingkungan dan teman-teman yang berpuasa. Bukan sekali dua kali, tetapi beberapa kali. Bahkan pernah sampai seminggu! 😀 Pada awalnya emang lelah, tetapi begitu dijalanin ternyata jadi asyik. Hal kebalikannya dilakukan oleh seorang teman saya. Ia sengaja tidak mengajak saya untuk makan daging pada hari Jumat ketika giliran saya yang diharuskan berpantang dan berpuasa menurut ajaran agama saya. Indah kan?

Bukankah memang tugas kita untuk tetap memunculkan semboyan yang kita banggakan, “Bhinneka Tunggal Ika“? Jika masih sering ribut dengan mengatasnamakan agama, bagaimana kita bisa menjadi satu? Bukankah lebih indah jika saling menghormati dan menghargai?

Perbedaan itu bukan halangan dalam mengejar mimpi, karena semua perbedaan bisa diulik agar semua saling mengerti.
(Google short movie)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

Baca Juga Kebanyakan dari Kita itu “Lucu”

Baca Juga Perbedaan itu Indah

Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

Muhammad Ali 23 Juni 2016 menyisakan kepedihan bagi dunia. Seorang petinju besar dengan sederet prestasi besar meninggal pada usia 74 tahun, ya dia adalah The Greatest, Muhammad Ali.

Begitu banyak video, foto, dan momen-momen yang dishare banyak orang mengenang kepergian petinju yang juga terkenal akan kegigihannya menolak perang Vietnam. Begitu banyak orang terinspirasi dengan cara sang petinju mencapai prestasi-prestasi hebatnya hingga dikenang sebagai salah satu petinju terbaik di dunia. Perjuangannya baik di dalam maupun luar lapangan yang luar biasa membuat namanya akan terus dikenang.

Ada 3 hal yang menarik perhatian saya dari seorang Muhammad Ali:

1. Takut akan Tuhan

Saya memang belum lahir ketika Muhammad Ali berada pada masa janya. Tetapi dengan membaca dan melihat rekam jejaknya sudah cukup bagi saya untuk terinspirasi dari petinju yang lahir pada tahun 1942 ini. Salah satu yang menyita perhatian saya adalah video di mana Muhammad Ali diwawancara di Newcastle, Inggris tahun 1977. Pada saat itu ada pertanyaan dari penonton, “Apa yang akan anda lakukan jika anda pensiun nanti?”

Apa jawaban dari Muhammad Ali? Lihat videonya di bawah ini.

“God is watching me. He wants to know how we treat each other, how do we help each other. So, what am I gonna do when I’m done fighting?.. Getting myself ready to meet God and go to the best place

Wuuih… Sosok petinju yang begitu garang di ring, justru mengakui bahwa ada yang jauh lebih besar yang sedang melihat dan memperhatikan segala gerak geriknya. Begitu menohok dan tajam. Sosok besar dan tangguh seperti Muhammad Ali pun merasa dirinya kecil di hadapan Tuhan.

Menjadi refleksi, bagaimana dengan diri kita? Sudah sejauh apa kita mempersiapkan diri?  Sudahkah kita membantu sesama? Seberapa besar rasa takut kita pada-Nya? 

2. Percaya diri dan Kegigihan

Salah saMuhammad Ali 1tu quote yang paling terkenal dari Muhammad Ali adalahI am the greatest, I said that even before I knew I was” dan “I’m gonna show you how great I am.” Dengan rasa percaya diri yang tinggi ditambah kegigihannya, Muhammad Ali berhasil mencapai level yang mungkin didambakan oleh semua petinju. Bahkan hal tersebut tercermin dalam quote nya yang lain, “I hated every minute of training, but I said, ‘Don’t quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion.”

Sudah sejauh mana rasa percaya diri kita? Sudahkah sejauh apa level kegigihan dan ketekunan kita dalam menunjang mimpi kita?

3. Menolak perang Vietnam

Salah satu momen dalam hidup Muhammad Ali yang membuat dirinya begitu dikenang masyarakat adalah keberaniannya menolak untuk bergabung dalam Perang Vietnam padahal dirinya tercatat sebagai salah seorang anggota Angkatan Darat AS. Muhammad Ali bersikeras bahwa perang adalah suat hal yang terlarang, terlebih dirinya tidak memiliki masalah dengan para warga Vietnam. Melihat aksinya, polisi militer saat itu menjebloskannya ke dalam penjara. Setelah menjalani beberapa tahun di penjara, Muhammad Ali kembali beraksi di ring, memenangkan gelar, dan pensiun di tahun 1981.

Seberani apakah kita dalam menolak sesuatu hal yang salah? Setelah jatuh, seberapa besar kemampuan kita untuk bangkit kembali?

——————

Pada akhirnya kini nama Muhammad Ali telah menjadi legenda dan sejarah dalam dunia olahraga. Teladan dan inspirasinya akan terus terkenang hingga sepanjang masa. Selamat jalan, legend!

I know where I’m going and I know the truth, and I don’t have to be what you want me to be.
I’m free to be what I want.
(Muhammad Ali)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Belajar dari Kate Beckett 

Baca Juga Allah adalah Baik dan Sempurna Adanya

Baca Juga Development Training at Jatiluhur

Sumber foto: here and here

 

 

Belajar dari Kate Beckett      

castleCastle. Salah satu TV series favorit saya resmi tamat di 16 Mei 2016. Dengan berbagai polemik dan drama yang ada, TV series yang menampilkan Nathan Fillion dan Stana Katic sebagai pemeran utamanya tidak dilanjutkan ke season 9 dan berhenti di season 8 episode 22.

Dari sekian banyak pemeran, Detective Kate Beckett cukup mencuri perhatian saya. Bukan hanya karena cantik, tetapi juga Kate Beckett memperlihatkan seorang wanita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari dari seorang Kate Beckett:

  1. Persistence

Pada awalnya Kate sama sekali tidak ingin membongkar dan mengangkat kembali kasus kematian Ibunya. Tetapi didorong oleh Castle, secara perlahan Kate dengan mantap berhasil menguak para pelaku. Dengan sabar Kate membuka satu-satu petunjuk yang membawanya berhasil menemukan pelaku utama di balik kisah tragisnya Ibunya.

Yang menarik dapat dilihat di season 5 eps 1, di mana Kate yang sudah berhadapan satu lawan satu dengan Senator Bracken. Bukannya memilih untuk membunuh atau langsung balas dendam, Kate dengan cerdik menahan dan perlahan namun pasti berhasil menemukan benang merah dari para pelaku.

  1. Keberhasilan Karir

Kate BeckettLayaknya seorang profesional pada umumnya, Kate Beckett juga memiliki karir bahkan karir yang cemerlang. Mulai dari seorang detektif biasa hingga berhasil diangkat menjadi seorang kapten tentu bukanlah suatu perkara yang mudah. Belum lagi kesempatan dan tawaran-tawaran yang datang dari institusi-institusi lain yang bahkan lebih besar. Kecintaan pada profesinya membuat Kate mampu mencapai itu semua.

  1. Kesetiaan bersama Castle

Dalam beberapa episode terlihat ada beberapa scene dimana Kate diuji kesetiaannya. Untuk para pencinta series ini, tentu ingat episode 5×22, dimana ada adegan dengan sang kaya raya, Eric Vaughn. 😀

Series berakhir dengan terungkapnya identitas LokSat dan ditutup dengan scene Happy Family dari Caskett. Menarik yang ditunggu adalah next movie/series yang akan dibintangi oleh para pemeran di series ini, terutama Stana Katic a.k.a Detective Kate Beckett 🙂

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Masih Jalan di Tempat

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga Sedikit Refleksi dari Path

Sumber foto: here & here

Allah adalah Baik dan Sempurna Adanya

KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

rajaAda seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!”

Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.”

Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka.

Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.”

Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif

Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat. Dan.. Allah pasti tahu mengapa Ia memilihmu untuk membaca pesan ini.


*copas dari grup WA. Untuk bahan renungan.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Sumber foto: HERE

Baca Juga Renungan Awal 2016: Family First

Baca Juga Memberikan Apresiasi

Baca Juga Orang Muda: Aset atau Keset?