Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

TK SD SMP SMAAwal minggu ini terasa begitu ramai dengan komentar masyarakat terkait wacana penerapan full day school (FDS) bagi pelajar, khususnya SD dan SMP. Sebagai seorang awam di dunia pendidikan, hanya hanya dapat memberi komentar terkait hal ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menilai pendidikan dasar dan menengah masih keteteran menghadapi pesatnya kemajuan zaman. Untuk membenahi hal tersebut, FDS dipercaya menjadi salah satu solusinya. Gagasan ini pun (katanya) sudah disetujui oleh Presiden dan Wapres, dan akan memasuki tahap pilot project.

Yang menarik di sini adalah sering berubahnya sistem dan kurikulum pendidikan seiring dengan pergantian orang nomor 1 di kementerian tersebut. Masih teringat di zaman saya ada istilah KBK (Kurikulum berbasis kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Kurikulum 2013, bahkan menurut info di sini, sudah ada 11 kali pergantian kurikulum. Ketika perubahan tersebut dalam rangka sebuah continuous improvement tentu tak masalah. Yang menjadi masalah adalah apakah SDM kita dapat dengan baik mengadopsi perubahan yang begitu cepat terjadi? Atau justru SDM kita malah kaget dan shock dengan perubahan tersebut? Kalau sudah seperti itu, yang mengkhawatirkan justru muncul resistensi untuk menerima perubahan.

Meminjam ilmu manajemen perubahan dari Kotter, perubahan dimulai ketika ada sang pemimpin mampu untuk menciptakan sense of urgency untuk melakukan perubahan. Pertanyaannya adalah, apakah perubahan yang terjadi di dunia pendidikan ini adalah sesuatu yang memang urgent untuk dilakukan, atau apakah ini hanya menjadi “produk” sang menteri ketika menjabat? Kalaupun memang urgent untuk diadakannya perubahan, apakah sang menteri mampu untuk mengkomunikasikan sense of urgency kepada seluruh elemen di dunia pendidikan seluruh Indonesia? Apakah para guru, murid, dan orang tua merasakan sense of urgency yang sama? Ketika tahap awal dari manajemen perubahan ini tidak tergenapi, jangan heran ketika masuk di tahap implementasi, banyak resistensi yang muncul.

Pro dan kontra dalam perubahan pasti selalu ada. Tantangannya adalah mengkomunikasikan dan membuktikan bahwa perubahan tersebut memang membawa ke arah yang lebih baik. Termasuk di dunia pendidikan Indonesia. Apakah perubahan-perubahan yang terjadi merupakan suatu keberlanjutan dari sistem sebelumnya? Apakah ada konsistensi dan benang merah dari sistem sebelumnya ke sistem yang baru? Atau apakah perubahan tersebut memang hanya sebuah “produk”? Sambil merenung, terbersit tagline iklan sebuah produk, “buat anak kok coba-coba?”

“There is nothing wrong with change, if it is in the right direction”
(Winston Churcill)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Pendidikan = Mesin Percetakan

Baca Juga Inikah Sistem Pendidikan Kita?

Baca Juga Memetik Inspirasi dari Rudy Habibie

*sumber foto: here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s