Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

swimming-swimmer-female-race-73760

Dari awal tahun ini saya memiliki goal untuk rutin berolahraga setiap minggunya. Renang masih menjadi salah satu olahraga favorit, walaupun masih ada bolong-bolong :D. Saya tidak menetapkan target khusus selama renang. Minimal 1 jam renang bolak-balik dengan isitirahat seminim mungkin sudah cukup.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu teman dari kantor lama di kolam renang. Sudah bisa ditebak bahan obrolan kami pasti tentang “kantor lama” tersebut, terlebih ternyata dia juga sudah resign.

Setelah beberapa saat ngobrol, kami nyebur. Ternyata teman ini jago renang! Di awal-awal saya dapat mengimbangi kecepatannya, namun lama-lama kecepatan saya kendor. Nafas mulai tersenggal-senggal, tapi uniknya teman saya ini lanjut terus. Walaupun kami tidak dalam sebuah kompetisi, melihat teman tersebut lanjut berenang tanpa istirahat, saya pun kembali mengayuh kaki dan tangan ini supaya tidak ketinggalan. Yang biasanya saya beberapa kali istirahat dalam 1 jam, pada saat tersebut, istirahat saya benar-benar minim. Kecepatan saya secara perlahan memang menurun, tetapi semangat untuk lanjut terus tetap ada.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk berenang dengan kecepatan dan jumlah istirahat seperti yang saya lakukan sebelumnya. Hasilnya? Susah! Saya kesulitan untuk renang dengan kecepatan yang sama, apalagi dengan jumlah istirahat yang minim seperti yang lalu.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang memiliki hobi mengendarai motor dan doyan touring. Ia bercerita bahwa ketika touring, sering kali mereka bertemu dengan komunitas motor lain yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Seringkali tidak sadar Ia dan teman-teman komunitasnya terpancing dan ikut-ikutan menambah kecepatan dan bisa ditebak, ‘saling-menyalip’ terjadi. Yang pada awal niatnya bawa motor santai, malah kebablasan menggunakan kecepatan tinggi. Bahkan, mereka yang tidak biasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, jadi ikut-ikutan karena melihat teman-teman yang didepannya menggeber motor dengan cepat. Sesuatu yang mungkin akan sulit dilakukan jika tidak ada motor di depan yang sedang diikuti. Sama seperti halnya saya di kolam renang!

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Terkadang kita memang membutuhkan ‘lawan’ yang lebih hebat dari kita untuk latih tanding (baca: “sparring partner”). Bukan sebagai ajang adu-aduan hebat dan mencari pemenang, tetapi sebagai pemicu untuk mengeluarkan potensi terbaik. Terkadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik dan merasa sudah melakukan semuanya dengan maksimal alias sudah ‘mentok’. Tetapi dengan bertemu sparring partner, kita dapat dipaksa untuk keluar dan lompat dari zona tersebut.

Saya jadi teringat beberapa seminar motivasi yang saya ikuti. Sering dikatakan bahwa kita dari lahir adalah pemenang, karena dari sekian banyak sperma yang berlomba menuju sel telur, kita lah yang berhasil. Di dalam pikiran bawah sadar, pada dasarnya kita senang berkompetisi. Ada yang blak-blakan terlihat, ada yang lebih diam-diam. Begitu juga ketika kita “berkompetisi” dengan sang sparring partner. Kita yang merasa sudah ‘mentok’, bisa dipaksa kembali untuk melakukan usaha yang lebih untuk menyaingi sparring partner tersebut.

Pertanyaan dasarnya, sudahkah kita bertemu sparring partner kita?

– Jika saya seorang pelajar/mahasiswa, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk belajar lebih giat, lebih aktif berorganisasi, atau bahkan teman untuk bersaing menyelesaikan kuliah dengan cepat dan nilai yang baik.

– Jika saya seorang karyawan, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk  kerja lebih produktif, menyelesaikan masalah, atau bahkan mengeluarkan ide dan gagasan yang brilian.

– Jika saya seorang entrepreneur, dapatkah saya mencari teman saya untuk menjadi sparring partner? Orang yang dapat memaksa saya untuk terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis, mendapatkan profit, serta berbagi untuk sesama. Dan lain sebagainya..

Sebagai sarana menegur diri.

Selamat ‘berkompetisi’ dengan sparring partner masing-masing!

It is nice to have valid competition; it pushes you to do better
(Gianni Versace)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga DNA Journey: Masihkah Kita Berperilaku Rasis Setelah Mengetahui Siapa Diri Kita Sebenarnya?

Baca Juga Jika Kamu Memenangi Oscar, Apa Isi Pidatomu?

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

 

Out of Comfort Zone

 Berani keluar dari zona nyaman, kemampuan dan kapasitas baru siap menunjang masa depan.

Setelah  saya memposting “Experiential Learning” (EL), kali ini saya akan sedikit share mengenai salah satu poin yang ada di EL, yaitu Out of Comfort Zone..

Dari sisi bahasanya saja sudah dengan mudah ditebak arti Out of Comfort Zone, yaitu keluar dari zona nyaman. Keluar dari zona nyaman memiliki arti yang luar biasa loh! Kita sebagai manusia bukanlah makhluk hidup yang diciptakan untuk hidup statis, melainkan dinamis! Kita diminta oleh Sang Pencipta untuk mengembangkan segala talenta dan kemampuan yang kita miliki.

Berani keluar dari zona nyaman berarti kita berani menambah kapasitas diri kita. Kita berani mencoba suatu yang baru di luar kebiasaan kita. Kita akan menemukan “harta karun” yang ada dalam diri kita, yang ternyata tak pernah kita sendiri tahu. Luar biasa bukan? ;)

Go adventure, Enjoy the journey, Face and Solve the problem, Find your treasures. Kurang lebih rangkaian kata-kata itulah yang saya gambarkan sebagai Out of Comfort Zone.

Go adventure. Pergilah berpetualang. Dengan berpetualang maka kita akan menemukan dunia baru yang belum pernah kita selami. Dunia baru yang tidak “klop” dengan kita. Dunia baru yang sama sekali tidak memberikan rasa nyaman. Rasa nyaman yang selama ini kita rasakan di dunia yang kita geluti akan sirna diganti dengan petualangan yang menjanjikan harta karun yang tak ternilai.

Enjoy the journey. Berpetualang tanpa menikmati perjalanan sama saja omong kosong. Nikmati perjalanan di dunia baru tersebut. Memang awalnya tidak memberikan kenyamanan, tapi nikmatilah dan keep positive thinking! 🙂

Face and Solve the problem. Selama perjalanan ini pasti akan ditemukan tantangan serta masalah. Seperti yang sudah pernah saya bahas di EL  , tantangan ada 3 macam. Tantangan-tantangan yang muncul itu wajib kita hadapi dan kita cari pemecahan masalahnya. Dengan terlatih memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapai dari ketidaknyamanan tersebut, kapasitas diri kita akan bertambah. Sebuah tingkatan kemampuan diri yang lebih akan menjadi hadiah yang indah untuk siapapun yang face and Solve the problem:)

Find your treasures. Tak perlu diragukan lagi, setelah melalui tahap pertualangan hingga memecahakan masalah, reward yang pantas diberikan berupa harta karun yang tak ternilai.  Baik sadar ataupun tidak, harta karun tersebut ada di dalam diri kita setelah kita berani untuk keluar dari zona nyaman kita. Kemampuan diri yang bertambah, kapasitas diri yang pada awalnya kita anggap sudah mentok ternyata meningkat berkali lipat, serta hal-hal positif lain yang menjadi penunjang diri kita di masa depan.

Feel the Fear and Break It..  #OutOfComfortZone