Memetik Pelajaran dari Kemenangan Barcelona atas PSG

Barcelona 6-1 PSGAmbisi yang hampir mustahil diemban oleh pasukan Luis Enrique kala menjamu PSG di Nou Camp tengah pekan yang lalu. Kekalahan 4-0 di Paris membuat Lionel Messi cs diharuskan meraih kemenangan dengan margin 5 gol agar tetap dapat berkompetisi di Liga Champion tahun ini.

Tak disangka, kemenangan 6-1 berhasil dikunci oleh Barcelona, membuat mereka menjadi klub pertama yang berhasil lolos dari babak gugur Liga Champion walaupun kalah 4-0 di pertemuan pertama. Suporter Barcelona berteriak histeris, sementara supporter PSG tertunduk lemas.

Menarik melihat apa yang disajikan oleh Luis Enrique di pertandingan tersebut, bahkan (boleh dikatakan) sebelum pertandingan juga. Tak ada rasa pesimis di kubu Barca. “Jika mereka bisa mencetak 4 gol, maka kami juga bisa mencetak 6 gol,” ucap sang juru taktik. Di lain pihak, kubu PSG juga enggan menyalahkan wasit yang memberikan 2 penalti bagi kubu lawan. Kelengahan mereka di awal babak pertama dan menit-menit akhir pertandingan berdampak fatal dalam perjalanan mereka di Liga Champion tahun ini. 3 pelajaran dapat kita petik dari pertandingan tersebut:

Messi Barcelona Vs PSG

  1. Terkadang bisa di atas, terkadang bisa di bawah

Kekalahan telak 4-0 yang dialami pada pertemuan pertama di Paris seperti menghempaskan Barcelona kembali untuk berpijak di bumi. Sementara PSG terlihat perkasa dan terbang tinggi dengan kemenangan yang diraih.

Dalam pertandingan akhir pecan ini, PSG kembali lagi terbang setelah Edison Cavani mencetak gol tandang bagi PSG, tetapi dalam sekejap itu semua berbalik. Barcelona kembali lagi ‘terbang’, sementara PSG ‘dipaksa’ kembali untuk kembali ke bumi. Hidup terkadang memang bisa sekeras itu…

  1. 7 menit yang mengubah

Gol tandang yang dicetak Edison Cavani sebenarnya menjadi bekal yang sangat berharga bagi PSG. Skor saat itu menjadi 3-1. Hal tersebut membuat Barca harus mengejar 3 gol lagi untuk lolos. Sayangnya, kelengahan dalam 7 menit akhir laga memupus harapan Thiago Silva, dkk. Neymar menjadi kartu Asnya. 2 gol dan 1 assist-nya dalam kurun waktu 7 menit membuat Barcelona melakukan come back dan menginjakkan kakinya di perempat final tahun ini.

Menjadi terlena layaknya PSG atau memanfaatkan waktu yang walaupun sudah begitu mepet layaknya Barcelona, menjadi pilihan kita masing-masing…

  1. Never ever give up

Perjuangan yang hampir mustahil berbuah manis. Dalam sejarahnya, belum pernah ada klub yang mampu membalikkan keadaan setelah kalah 4-0 pada pertemuan pertama. But, Barca did it! Pengaruh besar dari pelatih yang tetap memandang optimis laga kedua juga ambil bagian dari keberhasilan tersebut. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lusi Enrique memandang pertandingan dengan pesimis? Bisa dibayangkan apa jadinya jika Lionel Messi tidak memandang pertandingan dengan optimis yang tinggi?

Yuk, belajar dari Barcelona!

Sebagai sarana menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Terima Kasih, Timnas!

Baca Juga Belajar dari Juventus

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

*sumber foto: dailymailindiatimes

Terima Kasih, Timnas!

timnas1

Terima kasih Timnas AFF 2016!

Harapan sempat membumbung tinggi ketika di kandang sendiri timnas berhasil memetik kemenangan 2-1. Tetapi 2 gol yang dicetak pemain Thailand di kandangnya memupuskan harapan masyarakat Indonesia untuk melihat tim nasionalnya meraih piala AFF untuk pertama kalinya.

Walaupun (lagi-lagi) menempati pos runner up, menarik untuk melihat bagaimana perjuangan timnas dalam gelaran AFF tahun ini. Dimulai dengan baru aktifnya persepakbolaan Indonesia setelah dibanned oleh FIFA selama kurang lebih 1.5 tahun – sehingga tak heran aroma pesimis hinggap di timnas dalam menghadapi AFF 2016-, persiapan yang mepet (3 bulan), hanya melakukan 4 kali uji coba, hingga setiap klub hanya diperbolehkan mengirim max 2 pemain. Tak lupa pula, menjelang AFF bergulir, timnas kehilangan salah satu pemain, Irfan Bachdim. Melihat hal tersebut, hasil yang diraih timnas tentu tak dapat dipandang sebelah mata. Nah, ada 3 hal positif yang dapat kita petik dari timnas di edisi AFF 2016 ini.

  1. Diremehkan bukan berarti kalah

Melihat persiapan timnas yang begitu minim, tak heran banyak pihak yang meragukan timnas akan melangkah jauh. Boro-boro masuk final, untuk lolos putaran grup yang dijuluki grup neraka saja, sepertinya merupakan suatu hal yang mustahil. Tetapi disinilah mental tim patut diapresiasi. Walaupun awalnya keteteran, timnas membuktikan bahwa dengan fighting spirit yang luar biasa, final pun dapat digapai. Walaupun awalnya diremehkan, hasil di lapangan dapat berbicara.

  1. Berbeda tetapi satu jua
    timnas2

Di saat Negara kita dihujani isu-isu berbau agama, timnas justru memberikan contoh bagaimana bentuk ideal dari Indonesia . Lahir di Indonesia berarti sudah harus ‘menerima nasib’ bahwa terdapat banyak perbedaan, mulai dari suku, ras, hingga agama. Seperti diketahui, timnas diisi oleh pemain dan tim pelatih dari berbagai latar belakang. Dikutip dari bola.com, komposisi skuat Garuda merata, mulai dari Sumatera hingga Papua atau bahkan Belanda. Kiper nomor tiga Timnas Indonesia, Teja Paku Alam berasal dari Painan (Sumatera Barat). Sementara itu kapten Tim Merah-Putih, Boaz Solossa berasal dari Sorong, Papua. Di sisi lain Stefano Lilipaly kelahiran Utrecht, Belanda. Zulham Zamrun dan Rizky Rizaldi Pora berdarah Ternate, Maluku Utara. Sedangkan Evan Dimas asal Surabaya serta Bayu Gatra dan Andik Vermansah asal Jember, Jawa Timur. Begitupula pemain-pemain lain yang berkampung halaman berbeda pulau. Begitupun dengan Agama. Mereka terdiri dari agama yang berbeda-beda, tetapi tetap berjuang sebagai satu tim. Tidak terbayang, apa jadinya jika mereka mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tersebut?

  1. Persistence

Hal menarik lain dari timnas AFF tahun ini adalah bagaimana kegigihan mereka dalam setiap pertandingan. Jujur saja, semua pertandingan timnas di AFF tahun ini begitu menarik untuk ditonton. Kita boleh diserang terus, kita boleh kebobolan dulu, tetapi itu tidak berarti kita langsung kalah. Terlihat dalam turnamen beberapa kali timnas dalam posisi tertinggal, tetapi mampu untuk membalikkan keadaan. Saya penasaran apa yang diucapkan oleh Alfred Riedl kepada para pemain ketika timnas dalam posisi tertinggal ya?…

Nah itu dia 3 hal positif yang dapat kita ambil dari timnas selama Piala AFF 2016 berlangsung. Terlepas dari ‘gagal’ nya tim menjadi juara, perjuangan timnas patut dan layak diacungin jempol. Terima kasih, timnas!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumber foto: My facebook’s homepage

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

 

Pembelajaran dari Leicester City

Sebuah gol dari Eden Hazard ke gawang Tottenham Hotspur membuat Liga Primer Inggris memiliki juara baru

Passion LeicesterLeicester City adalah kita. Demikian tulisan yang diangkat oleh DetikSport pada bulan Desember 2015 yang lalu. Tak disangka klub yang pada musim lalu tertatih-tatih bertahan di Liga Primer ini justru menjadi kampiun mengungguli para klub yang memiliki gelontoran dana “tak terbatas”.

Di era dimana sepakbola sangat erat kaitannya dengan bisnis, kemampuan finansial klub yang besar seolah-olah mampu menjadi jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Dikutip dari Goal.com, lihat saja bagaimana Manchester City menghabiskan £158 juta musim panas kemarin dan Manchester United membelanjakan dana £285 juta dalam dua musim terakhir. Lantas, bagaimana Leicester City? Jamie Vardy adalah pemain dari non-liga yang hanya memiliki banderol £1 juta, serta winger dari divisi dua Prancis, Riyad Mahrez yang hanya ditebus senilai £450,000!

Bagaimana dengan pelatih? Claudio Ranieri tak ubahnya adalah seorang pelatih yang kerap kali dihubungkan dengan kata “gagal”. Tak heran di awal musim aroma pesimistis begitu menempel pada tubuh Leicester City. Dikutip dari DetikSport, pekerjaan terakhir The Tinkerman sebelum menggantikan Nigel Pearson sebagai manajer Leicester City adalah menjadi pelatih timnas Yunani yang dipecat dengan memalukan karena tidak pernah menang dalam 4 pertandingan dan kalah di kandang dari Kepulauan Faroe!

Pemain Leicester City pun terlihat sebagai pemain “reject”. Dikutip dari DetikSport, Kita sudah tahu cerita bahwa Jamie Vardy dilepas oleh Sheffield Wednesday pada usia 16 tahun karena dianggap tidak cukup bagus dan akibatnya harus bermain di klub amatir Stocksbridge Park Steels.  Tapi sesungguhnya Vardy bukan satu-satunya pemain reject di Leicester City.

Robert Huth dulu dijual Chelsea karena dianggap kalah kualitas dibanding John Terry, William Gallas, dan Ricardo Carvalho. Kontrak Marc Albrighton tidak diperpanjang Aston Villa karena dianggap dirinya hanya bisa melepas umpan silang tanpa dilengkapi kemampuan lain. Kasper Schmeichel selalu hidup di bawah bayang-bayang bapaknya dan ketika dulu ia gagal mendapatkan tempat utama di bawah mistar gawang Manchester City, seketika ia dianggap hanya bermodal nama belakang saja. Jebolan akademi Manchester United, Danny Drinkwater, tidak pernah bermain sekalipun untuk “Setan Merah” dan dijual keluar dari Old Trafford setelah mengarungi bertahun-tahun masa pinjaman di beberapa klub.

Danny Simpson bernasib lebih baik karena pernah 3 kali bermain untuk Man United di liga, tapi pada akhirnya juga dianggap tidak cukup bagus dan terpaksa hengkang. Demikian juga dengan Ritchie De Laet yang dinilai tidak layak menjadi bek Manchester United. Riyad Mahrez? hanya ditebus senilai £450,000 dari  Le Havre.

Leicester City Fans

Dengan segala sumber daya yang Leicester City miliki, meraih gelar juara Liga Primer tentu seperti hal yang mustahil. Tetapi kini mereka telah resmi juara. Panggung Liga Primer telah berhiaskan warna biru dengan gambar “foxes” di tengahnya.

So, apa yang bisa kita pelajari dari mereka?

  1. Passion > Money

Leicester City mengajarkan kita bahwa uang bukanlah segalanya. Sumber daya keuangan yang mereka miliki kalah jauh dengan apa yang dimiliki klub-klub raksasa Liga Primer lainnya seperti Man City, MU, Arsenal, ataupun Chelsea. Tetapi melihat passion yang mereka tunjukkan selama 1 musim, Leicester City membuktikan bahwa dengan kerja keras dan semangat bertanding yang tinggi, gelar juara pun bisa didapatkan.

*Belajar dari poin ini, seberapa kuat passion kita? Seberapa gigih kita berjuang dan bekerja keras?

  1. Kerja sama tim

Dihias oleh pemain-pemain yang seolah-olah “buangan”, kerja sama dan kekompakan lah yang menjadi dasar kekuatan tim. Seperti merasakan nasib yang sama, para pemain justru tidak menunjukkan ego untuk tampil sebagai bintang, tetapi lebih memilih untuk bahu membahu membentuk keutuhan tim. Tidak ada super star seperti Cristiano Ronaldo ataupun Lionel Messi di sana, yang hanya ada seorang Jamie Vardy dan Mahrez. Tak ada Juan Mata, Mesut Ozil ataupun Di Maria, yang ada hanya Drinkwater, Albrighton dan Okazaki. Tidak ada seorang Chiellini ataupun Philip Lahm, yang ada hanya Huth dan Morgan. Tidak ada seorang Buffon atau Neuer di sana, yang ada hanyalah seorang Kasper Schmeichel. Pada intinya tidak ada seorang bertitel bintang di tubuh Leicester City. Tetapi, justru itulah yang menjadi kekuatan mereka.

*Belajar dari poin ini, bagaimana kita melihat tim kerja/kelompok kita saat ini?

  1. Menjadi Underdog

Menjadi sebuah tim yang diremehkan dan tak diunggulkan, justru menjadi poin tersendiri bagi Leicester City. Di awal musim bursa taruhan tentu hampir tak ada yang menjagokan tim besutan Ranieri ini untuk menjadi kampiun. Tetapi inilah letak kehebatannya. Kita seperti disuguhi film di layar lebar di mana sebuah tim dengan kekuatan seadanya dan sama sekali tidak menjadi favorit justru mampu bangkit dan  melejit untuk menjadi juara. Pada awalnya, mungkin hanya “nothing to lose”, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka membuktikan bahwa predikat diremehkan dan tak diunggulkan lah yang menjadi kekuatan. Dan sekarang saatnya Leicester City tersenyum lebar dan memandang orang-orang yang dulu mengecilkan mereka.

*Belajar dari poin ini, bagaimana sikap kita ketika kita diremehkan dan tak diunggulkan Mampukah kita bangkit layaknya Leicester City yang tersenyum di akhir musim?

Menarik untuk kita simak bagaimana perjuangan Leicester City di musim depan mengingat mereka juga akan tampil di Liga Champions. Menarik juga untuk melihat bagaimana cara Leicester City menjaga para pemain “buangan” mereka untuk tidak pindah ke klub lain. Menarik juga melihat bagaimana kita bisa belajar banyak dari perjuangan tim seperti Leicester City…

Dan pada akhirnya.. Selamat Leicester City! You deserve it.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

The difference between the impossible and the possible lies in a man’s determination.
(Tommy Lasorda)

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

Baca Juga Belajar Mengendarai Motor

Baca Juga Belajar dari Juventus

Source Pict: bbc.com and onsizzle.com