Memaknai Lagu Clare Benediction

Dalam rangka Asian Youth Day 2017, OMK (Orang Muda Katolik) Kranji turut berpartisipasi dalam misa DID (Days In Diocese) di Paroki Harapan Indah, Gereja St. Albertus dengan menjadi petugas koor (paduan suara/choir).

This slideshow requires JavaScript.

Ada 1 lagu yang berkesan bagi saya dari sisi musik terlebih lagi kekuatan liriknya, yaitu “Clare Benediction”. Oh iya, bagi para aktivis Gereja, 2 lirik terakhir sepertinya dikhususkan buat anda! 🙂

May the Lord show His mercy upon you
May the light of His presence be your guide
May He guard you and uphold you
May His Spirit be ever by your side

When you sleep may His angels watch over you
When you wake may He fill you with His grace
May you love Him and serve Him all your days
Then in heaven may you see His face

Kalau dalam bahasa Indonesia, mungkin artinya…

Sekiranya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepadamu.
Sekiranya sinar kehadiran-Nya menjadi petunjuk bagimu.
Sekiranya Ia menjaga dan mengangkatmu.
Sekiranya roh-Nya selalu berada di sisimu.

Ketika kamu tertidur, kiranya malaikat-Nya menjagamu.
Ketika kamu bangun, kiranya Dia mengisimu dengan kasih-Nya.
Sekiranya kamu mencintai dan melayani Dia sepanjang waktu.
Hingga di surga nanti kamu akan melihat wajah-Nya.

Saya memang bukan ahli teologi, tetapi sekilas saya menangkap kalau sang pencipta lagu, John Rutter, di awal lagu ingin menyampaikan betapa besar Dia dan dengan berbagai macam cara Dia akan menyertai dan mendampingi kita. Dan lagu ditutup dengan cantik, ‘mencintai dan melayani Dia sepanjang hidup’, hingga di akhir nanti kita dapat melihat wajah-Nya di surga. Kece badai!

Bagi yang mau mengunduh partiturnya silahkan klik di sini.

Dan bagi yang mau menikmati paduan suara yang menyanyikan ‘Clare Benediction’, bisa klik link youtube di bawah. God bless!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Refleksi Lirik MLTR – “I’m Gonna Be Around”

Baca Juga Dream Theater – The Spirit Carries On

Baca Juga Remember that You’re Perfect, God Makes No Mistakes

Advertisements

Hal Positif dari Vocal Group

On the last weekend, I got a new experience. It was my first time to join a vocal group competition. Not bad, juara III!!

This slideshow requires JavaScript.

Persiapan selama kurang lebih 1 bulan, Saya bersama Tim OMK (Orang Muda Katolik) St. Mikael berlatih untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh OMK Kalvari. Sebagai pengalaman pertama, Saya lebih banyak menyimak dan belajar dari rekan-rekan yang memang sudah terbiasa untuk dan memiliki pengalaman dalam bidang ini.

Bukan sekadar lomba, Vocal Group ini memiliki beberapa poin positif di dalamnya:

  1. Berlatih kerja sama
    Bernyanyi secara bersama-sama di mana terdiri atas beberapa kepala tentu tidak mudah. Bayangkan, jika sudah di tengah-tengah lagu tiba-tiba ada satu suata yang fals. Saling mengerti satu sama lain menjadi poin pembelajaran penting di sini.
  2. Olah fisik
    Vocal group berbeda dengan paduan suara. Dalam paduan suara, para anggotanya hanya terfokus pada bernyanyi dan terpaku pada partitur yang dibaca. Tetapi dalam vocal group, para anggota tidak hanya fokus pada bernyanyi tetapi juga mengatur gerakan atau koreografi. Tak heran ketika sedang berlatih nafas pun tersengal-sengal.
  3. Belajar mendengarkan
    Kenapa ada belajar mendengarkan ada di sini? Ketika mengaransemen lagu dan membuat gerakan, begitu banyak input dan masukan yang diberikan oleh anggota tim. Memaksakan kehendak sama dengan menghancurkan keutuhan tim. Kebesaran hati untuk mendengarkan justru membuat tim semakin solid. Toh yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi pendapatnya, bukan siapa yang berpendapat.

Sebagai tambahan, berlatih Vocal Group melatih otak kanan juga loh! 😀

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Perihal Mendengar” HERE

Baca Juga “Kepribadian Topeng” HERE

Baca Juga “Sensasi Menyikapi Keadaan Negatif” HERE

In Progress: Pondok Baca Pelangi

#JemputBuku

#JemputBuku

Menurut komunitas Indonesia Menyala yang digagas oleh Mendikbud, Anies Baswedan, Tidak banyak orang muda yang begitu ‘rakus’ terhadap buku. Padahal negeri kita ini sesungguhnya membanggakan. Berdasarkan data UNESCO, tingkat literasi di Indonesia termasuk tertinggi di Asia Pasifik dalam rentang tahun 1990-2015. Persentasenya bahkan bersaing dengan Cina—superpower Asia yang merangsek naik di kancah perekonomian global. Bangga? Boleh saja. Namun, apakah tingginya tingkat literasi juga berarti tingginya minat baca? Tidak juga. Lalu, bagaimana kondisi minat baca di Indonesia? Jangan kaget karena angkanya terjun bebas. Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO, Indonesia berada di urutan 69 dari 127 negara. Yang memiliki minat baca tinggi hanya satu di antara seribu. Ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya mampu (membaca), tapi kurang minat menyentuh buku. Jangankan warga yang tak sekolah, yang sedang atau telah menempuh pendidikan dasar, menengah dan tinggi saja masih banyak yang sungkan untuk membuka lembar-lembar buku yang katanya gudang ilmu itu. Mengapa? Kita tidak terbiasa. Minat baca itu hampir mirip dengan makan sayur. Jika kebiasaan tidak ditumbuhkan sedari dini, akan sulit untuk ditanamkan saat beranjak dewasa. Bukan berarti tidak bisa, hanya saja tidak mudah dan perlu usaha ekstra. (Sumber: HERE)

Membaca menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti melihat, memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan maupun hanya dalam hati). Aktifitas membaca biasanya dilakukan untuk menelaah hasil pemikiran seseorang melalui tulisan dengan tujuan untuk mencerahkan jiwa, menambah informasi, atau bahkan memberikan solusi. Ketika dahulu Bangsa Indonesia sedang terjajah, buta aksara tentunya menjadi masalah mengingat susahnya mengenyam pendidikan, namun kini setelah 68 tahun Indonesia merdeka dan semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati pendidikan, seharusnya tingkat minat baca masyarakat Indonesia bisa bertambah baik, namun hal ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang kita alami sekarang.

Jika merujuk data yang pernah dikeluarkan Badan Pusat Statisitik (BPS) pada tahun 2012 dijelaskan bahwa sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah. Konsumsi satu surat kabar di Indonesia dengan pembacanya mempunyai rasio 1 berbanding 45 orang (1:45). Tentu Rasio antara konsumsi satu surat dengan jumlah pembaca di Indonesia sudah sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina yang tingkat perbandingannya sudah mencapai 1:30, idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau dengan rasio  1:10. Fakta diatas tentu sangat memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. (Sumber: HERE)

Pondok Baca Pelangi

Pondok Baca Pelangi

Lantas bagaimana meningkatkan minat baca tersebut? Banyak cara yang dapat dilakukan, mulai dari membudayakan suatu gerakan minat baca hingga penyediaan sarana dan pra sarana yang memadai. OMK St. Mikael melihat ini adalah suatu kesempatan bagi orang muda untuk turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial secara nyata. Sebagai orang muda yang menyandang status agen perubahan, OMK St. Mikael menganggap bahwa sudah saatnya OMK pun turut ambil bagian dalam hal ini. Bersama dalam kepanitiaan ATOMiK 2015 (Ajang Temu Orang Muda Katolik OMK Mikael Kranji), Tim yang tergabung dalam Tim Seminar, Edukasi, dan Sosial akan melakukan pembangunan Pondok Baca di Komplek Gereja St. Mikael. Pondok baca yang akan diberi nama Pondok Baca Pelangi ini ditujukan untuk semua umat mulai dari anak-anak, orang muda, hingga orang tua, bahkan terbuka bagi masyarakat sekitar komplek Gereja.

Saat ini Tim sedang mengadakan BOOK DONATION, yaitu program pengumpulan buku yang nantinya akan kami sortir kembali untuk disajikan di pondok baca. Program book donation ini kami lakukan dengan dua cara, yaitu membuka stand dan melakukan JEMPUT BUKU. Maksud dari JEMPUT BUKU ini adalah kami akan menghampiri rumah Bapak/Ibu dan teman-teman sekalian untuk mengambil dan menjemput buku bekas layak baca yang ingin disumbangkan untuk Pondok Baca Pelangi. Melalui cara tersebut, hingga saat ini, Kami telah berhasil mengumpulkan lebih dari 2000 buku. Adapun buku yang dapat didonasikan sebagai berikut:

  1. Buku Pengetahuan Akademik : TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.
  2. Buku Hiburan : komik dan cerita legenda
  3. Buku Rohani
  4. Buku Biografi
  5. Novel
  6. Pengetahuan Umum

This slideshow requires JavaScript.

Jika anda termasuk orang yang ingin melihat anak-anak dan orang muda gemar membaca, maka dukungan, bantuan, dan donasi Anda sangat berarti untuk kesuksesan pembangunan pondok baca ini. Sambil Anda mulai melihat stok buku-buku di rumah Anda yang dapat didonasikan, silahkan menghubungi nomor kontak kami jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan: Emilia Inggrid 081294858520 atau Ewaldo 08159841883.

Terima kasih.

Salam damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “You’ve Got A Friend” HERE

Baca Juga “Apa Gunanya Sekolah?” HERE