Dream Theater – The Spirit Carries On

Siapa yang tidak kenal band satu ini? Para pencinta musik terlebih para gitaris tentu akan mengangguk jika dikatakan bahwa sang gitaris, John Petrucci, adalah salah satu gitaris terbaik di dunia. Awal Minggu ini Saya sedang mendengar salah satu lagu lawasnya berjudul “The Spirit Carries On”. Lagu yang ada pada albumnya berjudul Metropolis Part.2 : Scene from A Memory ini ternyata merupakan satu ksatuan jalur cerita layaknya novel di album tersebut. Setelah melakukan beberapa searching, tulisan dari BLOG ini cukup jelas untuk menjelaskan runut cerita dari Nicholas dan Victoria yang merupakan ‘tokoh’ dari lagu tersebut. Bahkan dikatakan bahwa Nicholas sampai berkunjung ke hypnotherapist untuk masalah yang Ia alami.

Pada postingan ini, Saya mengangkat makna dari lirik lagu tersebut yang cukup dalam. Memahami secara perlahan perlahan lagu ini membuat hati terasa damai dan tenang. Enjoy it!

Where did we come from ?
Kita berasal dari mana ?
Why are we here ?
Kenapa kita berada di sini ?
Where do we go when we die?
Jika kita mati ke mana kita pergi ?
What lies beyond ?
Apakah hanya kebohongan alam?
And what lay before ?

Apa yang terjadi sebelumnya
Is anything certain in life?
Apakah hidup ini memang sudah ditentukan ?

They say, life is too short,
Mereka bilang: hidup ini terlalu pendek
The here and the now
Disini dan sekarang
And you’re only given one shot
Dan kau hanya diberi satu kali kesempatan
But could there be more,
Tapi apa mungkin lebih dari itu
Have I lived before,
Apa aku pernah hidup sebelumnya
Or could this be all that weve got?
Atau emang hanya ini yang kita dapat?

If I die tomorrow I’d be allright
Jika aku mati besok, aku kan baik saja
Because I believe That after we’re gone
Karena aku percaya, walaupun setelah kita tidak ada
The spirit carries on
Jiwa ini akan tetap ada

I used to be frightened of dying
Dulu aku sangat takut akan kematian
I used to think death was the end
Dulu aku pikir kematian adalah akhir

But that was before, Im not scared anymore
Tapi itu dulu, sekarang aku tak takut lagi
I know that my soul will transcend
Aku tau jiwaku akan berpindah
I may never find all the answers
Aku mungkin tak akan pernah menemukan semua jawabannya
I may never understand why
Aku mungkin tak akan pernah mengerti mengapa ini terjadi
I may never prove What I know to be true
Aue juga tak akan bisa membuktikan segala yang aku tau itu benar
But I know that I still have to try
Tapi aku tau bahwa aku harus tetap mencoba

Move on, be brave, Dont weep at my grave
Ayo, beranilah, jangan menangis di kuburanku
Because I am no longer here
Karena aku tak lagi berada disini
But please never let your memory of me disappear
Tapi tolong jangan biarkan kenangan tentangku terhapus dari pikiranmu

Safe in the light that surrounds me
Aman dalam cahaya yang mengelilingiku
Free of the fear and the pain

Terbebas dari rasa takut dan kepedihan
My questioning mind Has helped me to find
Pikiranku yang terus bertanya telah membantuku menemukan
The meaning in my life again
Arti dari hidup ku lagi
Victoria’s real I finally feel
Victoria (nama orang) benar, akhirnya aku merasakan
At peace with the girl in my dreams
Kedamaian dengan gadis impianku
And now that Im here Its perfectly clear
Sekarang aku di sini, segalanya telah jelas
I found out what all of this means
Aku tau apa arti semua ini

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “4 Tahapan Belajar” HERE

Baca Juga “Pluto dan Perkembangan Ilmu Teknologi” HERE

Baca Juga “Be Thankful” HERE

Belajar Mengendarai Motor

belajarLibur lebaran kali ini Saya berkesempatan melihat Adik Saya yang baru belajar mengendarai motor. Saya pun meminta untuk diboncengkan. Cukup cepat Ia belajar sehingga perjalanan terasa aman dan nyaman.

Belajar suatu hal yang baru tentu tidak mudah begitu saja. Ada proses yang memang harus dilewati. Saya pun teringat akan 4 tahap belajar yang dulu pernah Saya dapat ketika mengikuti pelatihan berbasis NLP beberapa bulan lalu:

  1. Unconscious incompetence (tidak sadar bahwa tidak bisa)
  2. Conscious incompetence (sadar bahwa tidak bisa)
  3. Conscious competence (sadar dan bisa)
  4. Unconscious competence (tidak sadar dan bisa)

Tahap 1, Unconscious incompetence

Pada tahap ini, seorang yang baru mulai belajar akan memiliki semangat yang tinggi sehingga merasa bisa walaupun hanya melihat orang lain yang melakukan. Seperti awal-awal belajar naik motor, awalnya muncul rasa takut. Ada pikiran “nggak ah, nggak bisa”, tapi saat kita mau mencoba belajar, kita mulai berani untuk mencoba dan menghapus rasa takut. Nah, disinilah dimulai tahap kita belajar.

Tahap 2, Conscious incompetence

Akhirnya setelah mencoba menaiki motor, kita merasakan yang namanya rem mendadak, keserempet, atau bahkan mungkin jatuh dan diketawain orang. Nah pada saat inilah biasanya ada keputusan untuk lanjut belajar atau menyerah. Pada prinsipnya belajar bukanlah menyerah yang berarti pasrah pada kegagalan. Nikmati saja prosesnya.

Tahap 3, Conscious competence

Nah, setelah beberapa kali mengalami kendala dan mungkin juga jatuh, kita mulai mahir mengendarai motor. Walaupun masih harus hati-hati. Masih harus ingat kalau belok pelan-pelan, kapan naik dan menurunkan gigi, kecepatan motor terbatas pada 30-40km/jam, patuh dengan rambu-rambu lalu lintas, bahkan tidak mau diajak ngobrol ketika mengendarai motor. Pada intinya, kita sudah bisa tapi belum benar-benar mahir atau jago. Pada tahap ini, cepat puas berarti gagal.

Tahap 4, Unconscious competence

Inilah tahap terahir dimana kita sudah benar-benar mahir. Tidak perlu lagi memikirkan kapan harus naik dan menurunkan gigi, diajak ngorbrol pun ditanggapi dengan santai, bahkan bisa sambil ngunyah roti di atas motor. Pada tahap inilah tahap tertinggi dari belajar. Kita “tidak sadar” tapi tetap jalan.

4 tahap tersebut bukan hanya terimplementasi dalam belajar motor, tetapi juga semua hal yang memang memerlukan pembelajaran. Belajar menggambar, belajar matematika, belajar memasak, belajar sistem software, hingga belajar menguasai kompetensi-kompetensi di profesi kita masing-masing. Hal yang perlu kita sadari adalah sudah dimanakah level belajar kita?

Semoga bermanfaat.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Masih Mau Merokok?” HERE

Baca Juga “Women, You’re Enough” HERE

Baca Juga “That’s How You Change the World” HERE

*sumber foto: HERE

Kilas Balik 2014

Ketika facebook menyediakan sebuah aplikasi yang memuat foto-foto kita selama 2014, Saya jadi iseng untuk merangkum kilas balik secara personal juga. Mungkin ini tidak semua, but at least I have something to remember…

1. Bermain peran di Visualisasi Jalan Salib – April 2014

This slideshow requires JavaScript.

2. Europe Trip – Portugal, France, Switzerland, Italy, July 2014

This slideshow requires JavaScript.

3. United Nation Alliance of Civilization – Bali, August 2014

This slideshow requires JavaScript.

4. The 1st Schneider Electric Campus Ambassador (SECA)

This slideshow requires JavaScript.

*berita lengkap mengenai SECA -> HERE

5. Met Amazing Leaders

This slideshow requires JavaScript.

6. Narasumber @KampusUpdate -> HERE

7. Stage Hypnosis

This slideshow requires JavaScript.

Looking forward to … the great 2015!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Bahayanya Generalisasi

*Dalam suatu sesi terapi seorang cewek begitu kesal dengan pacarnya*

Cewek (C) : Semua cowok itu baj*ngan!! Gue kesel ama cowok. Gak mau berhubungan lagi ama mereka!
Saya (S): Ah, yang bener?
C: Iya. Dimana-mana semua cowok breng*ek! Gak ngerti perempuan.
S: Hmm. Semua cowok? Yakin? Berarti Bapak kamu juga dong sama-sama baj*ngan.
C: *mulai mikir*. Hmm, ya mayoritas cowok!
S: Oh, mayoritas. Berapa cowok yang kamu kenal?
C: Ya gak semua sih saya kenal.
S: Berarti gak semua cowok dong yang baj*ngan?
C: Iya sih gak semua.
S: Dari cowok yang kamu kenal, berapa orang yang baj*ngan?
C: Ya cuma pacar saya aja.
S: Berarti gak semua cowok kan? Masih banyak cowok yang keren dan baik hati loh.
C: Iya sih.
S: Jadi, masih mau kan berhubungan sama cowok? Kan yang baj*ngan cuma pacar kamu.
C: Hmm iya ya…

Ya, itulah bahayanya mengeneralisasi suatu hal…

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pikiran “semua cowok itu baj*ngan” terus melekat di pikirannya?

 

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Penjahat itu Tidak Sepenuhnya Jahat

Cartoon-Robber-With-GunApa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata penjahat? Atau lebih spesifik lagi, apa yang terpikir oleh anda jika mendengar kata pencuri? Saya yakin hampir semua dari kita membayangkan seseorang yang berperilaku buruk dan merugikan orang lain. Taukah kita bahwa penjahat itu tidak sepenuhnya jahat?

Saya ingin membawa kita pada pemahaman yang baru, bahwa semua perilaku (sebenarnya) didasarkan pada niatan/motivasi yang baik. Selanjutnya, yang perlu kita perhatikan bahwa (sebenarnya) bayangan/pikiran yang muncul di pikiran kita bukanlah sebuah kenyataan. Itu hanyalah persepsi yang muncul di otak kita berdasarkan informasi-informasi yang masuk melalui panca indra kita selama kita hidup. Baca “otak kita itu penipu

 Saya tertarik untuk bertanya, apa yang terlintas di pikiran anda ketika di pagi hari ada metro mini yang ngetem cukup lama di depan anda, sementara anda sedang berada di dalam  mobil menuju kantor? Marah? Kesal? Membunyikan klakson yang begitu kencang? Atau bahkan umpatan-umpatan hewan keluar dari mulut anda? Jika anda mengerti paragraf-paragraf di atas, itulah persepsi di pikiran anda karena di benak anda tertanam bahwa metro mini yang ngetem di depan anda dan bahkan cukup lama, membuat anda menjadi marah dan kesal. Supir metro mini begitu menjengkelkan bagi anda. Dari poin 1-10, dimana 10 adalah kondisi di mana anda sangat marah, sementara 1 kondisi anda sedang bahagia, saya jamin hampir semua di antara kita berada di angka 9-10. Pertanyaannya, jika itu persepsi bisakah kita ganti?

Bagaimana jika kita mengubah sedikit persepsi di pikiran kita? Bagaimana kalau supir metro mini tersebut sedang menunggu penumpang yang banyak agar bisa mendapatkan uang untuk biaya bersalin istrinya? Atau, mungkin metro mini tersebut justru sedang mogok dan sang supir sedang dalam kepanikan luar biasa untuk menghidupkan kembali mesin metro mininya? Hmm. Melihat situasi di atas, ada di angka berapa skala kemarahan kita? Tentu turun dari angka 9 atau 10. Ya, itu semua ada di persepsi/pikiran kita.

Lalu, terkait dengan judul artikel ini, mengapa penjahat tidak sepenuhnya jahat? Bukankah yang namanya penjahat ya memang jahat dan harus dihukum seerat-beratnya? Hmm, jika kita fokus membaca dan memahami paragraf-paragraf di atas (lagi), tentu kita paham bahwa itu semua adalah persepsi kita. Mari kita coba untuk mencari alasan-alasan mengapa penjahat melakukan kejahatan. Bisa saja untuk menghidupi istrinya, untuk membayar uang sekolah anaknya, bahkan bisa saja agar dicap jagoan oleh teman-temannya sesama penjahat. Nah, dari sini kita belajar bahwa semua perilaku (sebenarnya) didasarkan pada niatan yang positif. Niatan positif itulah yang perlu dibawa pada actionatau tindakan yang positif pula.

Ketika bertemu dengan seorang teman di sebuah Mall dan ia tidak menegur anda, apakah dia langsung dapat kita cap sebagai teman yang sombong? Sekalipun ia tidak menegur anda, ia juga punya niatan yang baik; mungkin sedang fokus dengan barang-barang yang ingin ia beli untuk ulang tahun ayahnya, mungkin ia sedang memperhatikan jalannya agar tidak terjatuh karena Mall yang begitu padat. Di kantor, jika ada bos kerjaannya marah mululu, tentu kita paham bahwa itu hanya persepsi kita. Kita dapat menggantinya dengan cara yang sama seperti kondisi supir metro mini yang ngeselin, pencuri yang berniatan baik, serta teman yang sombong. Bukankah bos marah juga karena ada niatan baik di dalamnya? :)

So, apakah penjahat itu baik? Saya tidak mengatakan demikian. Penjahat hanya salah memilih tindakan yang ia lakukan, karena sebenarnya ia memiliki alasan/motivasi yang (sebenarnya) baik. Memilih tindakan atas niatan/motivasi yang baik itulah yang menjadi tanggung jawab kita. Dan, karena sudah mengetahui bahwa setiap tindakan didasari oleh motivasi yang baik, tidak sewajarnya jika kita langsung menghakimi seseorang tanpa mengetahui alasan-alasan (motivasi) di balik itu. Lebih parah lagi jika kita tidak membantunya untuk menemukan tindakan yang tepat atas niat baik tersebut.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral
Niatan positif akan sia-sia ketika tindakan positif tidak menyertainya.

Belajar Hipnotis sampai BISA’ hingga ‘GRATIS Terapi’ :  Di Sini