Merefleksikan Film Dilan dan Karya Anak Bangsa Lainnya

“Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”

Sepenggal quote dari Dilan tersebut menjamur di mana-mana. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa menggunakan quote tersebut dan memodifikasinya untuk lucu-lucuan dan menjadi bahan obrolan di tempat tongkrongan ataupun di grup whatsapp.

Ajaib memang. Tidak banyak film Indonesia yang diadopsi dari novel meledak seperti Dilan. Ditambah lagi awalnya banyak orang yang meragukan jika Iqbaal mampu memerankan tokoh tersebut (to be honest, saya juga salah satunya). Tapi anggapan tersebut patah. Hingga tulisan ini dibuat sudah lebih dari 5,7 juta orang menonton film garapan Pidi Baiq ini! Dan, saya juga harus mengakui kalau Iqbaal dan Vanesha memainkan peran Dilan dan Milea dengan ciamik.

Selepas menonton film tersebut, saya membayangkan apa yang di pikiran Pidi Baiq sekarang. Hmm, betapa bangganya dia sekarang. Berawal dari novel, hingga sekarang dibuatkan film yang mampu menjadi trending topic di mana-mana. Di sisi lain saya juga bangga! Satu lagi karya anak bangsa “meledak” dan dihargai di bangsanya sendiri.

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Dan berbicara mengenai karya anak bangsa, tentu tak akan ada habisnya. Masih terngiang-ngiang di telinga bagaimana canggihnya Pesawat R80 buatan Pak BJ Habibie, Nadiem Makarim dengan gojeknya, Alfatih Timur dengan kitabisa.com nya, ada juga teknologi terbaru dan paten di berbagai macam bidang, serta banyaknya karya seni anak bangsa yang sudah mendunia, hal tersebut tentu membuat kita bangga.

Yup, yang saya bahas di sini adalah karya. Pidi Baiq dan para seniman lainnya berhasil menciptakan karya yang mampu menghibur banyak masyarakat, tak ketinggalan teknologi-teknologi yang ditemukan anak bangsa juga mampu membantu dan menolong banyak orang.

Di sisi lain, hal tersebut membawa permenungan sendiri bagi saya pribadi.

Di saat banyak anak bangsa telah menciptakan karya, bagaimana dengan saya sendiri? Apa karya yang dapat saya hasilkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas?

Oh ya, mungkin di saat saya membuat tulisan ini ataupun ketika Anda sedang membacanya, ada banyak anak bangsa di luar sana yang sedang fokus melahirkan karyanya. Sekarang pilihan di tangan kita. Setelah selesai membaca ini, apakah kita hanya berdiam diri dan menjadi penikmat karya-karya mereka? Atau memutuskan mengambil langkah pertama untuk melahirkan sebuah karya?

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya.
(unknown)

Sebagai sarana belajar dan menegur diri.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Baca Juga Memaknai Professional Social Responsibility 

Baca Juga My First ‘Kelas Inspirasi’ Experience

*sumber foto: di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s