My First ‘Kelas Inspirasi’ Experience

“Selamat Pagi! Pagi..Pagi.. Luar Biasa.. Mantap!”

“Tepuk semangat! Prok..prok..prok..”

Pada 20 November 2017 yang lalu saya berkesempatan untuk bergabung sebagai volunteer Kelas Inspirasi Bekasi 4 (yes 4! Tandanya sudah memasuki tahun yang ke 4) yang bertempat di SDN Kayuringin Jaya XXIII. Bergabung bersama 22 volunteers lainnya, kami mengemban misi untuk sharing pengalaman dan memperkenalkan profesi masing-masing kepada adik-adik di SD tersebut.

Mengenai Kelas Inspirasi (KI) sendiri, dikutip dari websitenya http://kelasinspirasi.org/,
Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi.

Selanjutnya para profesional ini disebut relawan pengajar. Relawan pengajar berinteraksi di sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja dan memberi motivasi untuk meraih cita-cita bagi para siswa. Interaksi relawan pengajar dengan warga sekolah dilakukan untuk membuka ruang komunikasi dan kolaborasi antar keduanya melalui pengalaman mengunjungi, dan mengajar, dan berinteraksi selama hari inspirasi termasuk masa persiapannya.

Kegiatan Kelas Inspirasi yang pertama diadakan pada 25 April 2012 di 25 lokasi SD di Jakarta. Tujuan awal dari KI adalah menjadi gerbang keterlibatan para profesional dengan realita dunia pendidikan dasar di lingkungannya, serta Indonesia pada umumnya. Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.

Kelas Inspirasi Bekasi #4

Kembali lagi ke Kelas Inspirasi Bekasi 4 di SDN Kayuringin Jaya XXIII. Melihat banyaknya anak-anak berpakaian putih merah membuat atmosfer sekolah dasar menjadi sangat kental. Hawa tersebut membawa saya flash back. Teringat dulu SD pindah-pindah tempat, dari Timor Leste ke Medan, terus ke Bekasi. Teringat dulu cukup susah mempunyai teman yang ‘tetap’. Teringat dulu punya banyak mimpi, mulai dari pemain bola, terus direvisi menjadi dokter, terus revisi lagi menjadi bos alias pengusaha. Revisi terus berasa skripsi! 😀

Baca juga Catatan dari Kolam Renang : Butuh Lawan Latih Tanding

Kami memulai Hari Inspirasi dengan upacara bendera yang berlangsung dengan khidmat. Semua petugas upacara yang berasal dari kelas 6 SD berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. *tepuk salut!

Selepas upacara, kami melakukan opening yang berisi pengenalan tepuk-tepuk dan perkenalan para relawan. Setelah itu, kelas dimulai. Para relawan mulai masuk ke kelas masing-masing.

Kelas pertama yang saya masuki adalah kelas 2 A. Pada awalnya terlihat cukup tenang. Mereka dengan telaten mengikuti instruksi untuk dipasangkan name tag yang berisikan nama dan cita-cita (jangan heran kalau cita-cita mereka sangat beragam, mulai dari dokter, pilot, polisi, hingga yang kekinian seperti youtuber dan selebgram!). Setelah name tag telah selesai semua diisi, barulah ‘kehebohan terjadi’. Dipimpin oleh seorang anak laki-laki, mereka berlari di kelas, teriak-teriak, seolah-seolah meminta perhatian. Di tahap ini, jurus tepuk-tepuk dan bernyanyi sangat ampuh. Mereka jadi lebih mudah dikontrol dan ‘terlihat’ lebih kalem 😀

This slideshow requires JavaScript.

Beda halnya dengan kelas kedua yang saya masuki, yaitu kelas 6 B. Banyak di antara mereka yang merupakan petugas upacara. (Mungkin karena diberikan tanggung jawab sebagai petugas, tingkat maturity mereka terlihat berbeda dengan yang lain). Berbicara dengan mereka sangat asyik dan terlihat nyambung.

This slideshow requires JavaScript.

Kelas berikutnya yaitu kelas 3 dan 4 (digabungin aja ceritanya karena sama-sama rame!). Mungkin karena ini ‘masa peralihan’, tingkat ramenya ternyata lebih-lebih. Cara saya untuk menangkap atensi mereka adalah dengan menciptakan kompetisi dengan kelas lain. “Tadi pagi, Bapak masuk ke kelas 2. Ternyata suara mereka selevel ini nih (sambil tangan mengumpamakan levelnya). Masa kalian kamu kalah sama kelas 2?” Dengan pertanyaan seperti itu, “otak kompetisi” mereka seolah bekerja. Setiap kali bernyanyi dan tepuk-tepuk, suara mereka menggelegar. Setelah itu saya tambah lagi, “Ayo, kita bikin suara yang lebih keras supaya terdengar sampai ke Tambun dan Cikarang!” Dan ditimpali oleh seorang anak, “Iya Pak. Sampai ke Meikar*a ya!” Tertawa anak-anak pun menjadi pecah. Saya pun tak ketinggalan tertawa dan geleng-geleng kepala menyaksikan anak seusia mereka sudah tau kawasan pemukiman seperti itu. Kalau saya dulu taunya cuma power ranger sama detective conan :p

This slideshow requires JavaScript.

Apalagi yang saya lakukan di kelas? Selain mengenalkan konsep HRD (yang tentunya bukan perkara mudah), tepuk-tepuk dan bernyanyi, saya banyak story telling. Dan ini ampuh! Anak-anak suka mendengar cerita. Tak ketinggalan juga diikuti dengan mimik wajah dan body language. Saya sampai ‘jungkir balik’ hanya demi membuat fokus mereka tetap ke saya dan pastinya, FUN! Bagaimana caranya?

Salah satunya games ‘tangkap badak’. Dimana jari telunjuk kanan mereka diumpakan sebagai badak dan tangan kiri mereka bertugas sebagai perangkap badan teman sebelah kirinya. Setiap kali ada kata ‘badak’, baru lah perangkap bekerja dan mereka juga perlu menyelamatkan badaknya sendiri. Nah, sepanjang bercerita, intonasi suara perlu berubah-ubah. Ketika mengucapkan kata ‘memasuki rawa-rawa’, maka suara perlu direndahkan. Ketika mengatakan ‘senapan disiapkan’, maka tangan kita perlu berubah menjadi senapan. Ketika mengatakan kata ‘DOR’, maka suara perlu ditinggikan dan kaki dihentakan di lantai. Jadilah, suasana yang rame dan FUN!

Atau bisa juga, bercerita menggunakan cita-cita mereka. Kalau ada yang mau jadi dokter, tanyakan apa tugas dokter. Lalu dari situ berceritalah ~

Baca juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

Di akhir sesi, semua anak perlu menuliskan kembali cita-citanya, menempelkannya di poster, dan poster tersebut di tempel di kelas.

Sebagai penutup hari inspirasi, anak-anak termasuk relawan, kepsek, dan guru berkumpul di lapangan. Ada perform Qasidahan dan Pencak Silat dari anak-anak, sementara para relawan menampilkan flash mob lagu Naura “setinggi langit” yang diikuti oleh seluruh anak-anak.

Overall, it was a fascinating experience. Dijamin nagih! Bukan hanya anak-anaknya yang belajar, tetapi kita juga. Belajar bagaimana kepolosan, kejujuran, dan memiliki semangat tinggi. Karena terkadang semakin beranjak dewasa, kita lupa mempertahankan hal-hal tersebut. 😊

This slideshow requires JavaScript.

Anyway, see you again kids! Mengutip lirik lagu Naura, “Aku bisa jadi apa saja, setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya”. Yuk, sama-sama mengejar mimpi!

“Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain”
(B.J. Habibie)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca juga Mau Sampai Kapan Uji Coba Sistem Pendidikan?

Baca juga Pendidikan = Mesin Percetakan

Baca juga Kenapa Teman-Teman Gue Pintar dan Hebat?

*photos are taken by the volunteers (Kak Firda dan Kak Niki yang kece badai!)

Advertisements