Terima Kasih, Timnas!

timnas1

Terima kasih Timnas AFF 2016!

Harapan sempat membumbung tinggi ketika di kandang sendiri timnas berhasil memetik kemenangan 2-1. Tetapi 2 gol yang dicetak pemain Thailand di kandangnya memupuskan harapan masyarakat Indonesia untuk melihat tim nasionalnya meraih piala AFF untuk pertama kalinya.

Walaupun (lagi-lagi) menempati pos runner up, menarik untuk melihat bagaimana perjuangan timnas dalam gelaran AFF tahun ini. Dimulai dengan baru aktifnya persepakbolaan Indonesia setelah dibanned oleh FIFA selama kurang lebih 1.5 tahun – sehingga tak heran aroma pesimis hinggap di timnas dalam menghadapi AFF 2016-, persiapan yang mepet (3 bulan), hanya melakukan 4 kali uji coba, hingga setiap klub hanya diperbolehkan mengirim max 2 pemain. Tak lupa pula, menjelang AFF bergulir, timnas kehilangan salah satu pemain, Irfan Bachdim. Melihat hal tersebut, hasil yang diraih timnas tentu tak dapat dipandang sebelah mata. Nah, ada 3 hal positif yang dapat kita petik dari timnas di edisi AFF 2016 ini.

  1. Diremehkan bukan berarti kalah

Melihat persiapan timnas yang begitu minim, tak heran banyak pihak yang meragukan timnas akan melangkah jauh. Boro-boro masuk final, untuk lolos putaran grup yang dijuluki grup neraka saja, sepertinya merupakan suatu hal yang mustahil. Tetapi disinilah mental tim patut diapresiasi. Walaupun awalnya keteteran, timnas membuktikan bahwa dengan fighting spirit yang luar biasa, final pun dapat digapai. Walaupun awalnya diremehkan, hasil di lapangan dapat berbicara.

  1. Berbeda tetapi satu jua
    timnas2

Di saat Negara kita dihujani isu-isu berbau agama, timnas justru memberikan contoh bagaimana bentuk ideal dari Indonesia . Lahir di Indonesia berarti sudah harus ‘menerima nasib’ bahwa terdapat banyak perbedaan, mulai dari suku, ras, hingga agama. Seperti diketahui, timnas diisi oleh pemain dan tim pelatih dari berbagai latar belakang. Dikutip dari bola.com, komposisi skuat Garuda merata, mulai dari Sumatera hingga Papua atau bahkan Belanda. Kiper nomor tiga Timnas Indonesia, Teja Paku Alam berasal dari Painan (Sumatera Barat). Sementara itu kapten Tim Merah-Putih, Boaz Solossa berasal dari Sorong, Papua. Di sisi lain Stefano Lilipaly kelahiran Utrecht, Belanda. Zulham Zamrun dan Rizky Rizaldi Pora berdarah Ternate, Maluku Utara. Sedangkan Evan Dimas asal Surabaya serta Bayu Gatra dan Andik Vermansah asal Jember, Jawa Timur. Begitupula pemain-pemain lain yang berkampung halaman berbeda pulau. Begitupun dengan Agama. Mereka terdiri dari agama yang berbeda-beda, tetapi tetap berjuang sebagai satu tim. Tidak terbayang, apa jadinya jika mereka mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tersebut?

  1. Persistence

Hal menarik lain dari timnas AFF tahun ini adalah bagaimana kegigihan mereka dalam setiap pertandingan. Jujur saja, semua pertandingan timnas di AFF tahun ini begitu menarik untuk ditonton. Kita boleh diserang terus, kita boleh kebobolan dulu, tetapi itu tidak berarti kita langsung kalah. Terlihat dalam turnamen beberapa kali timnas dalam posisi tertinggal, tetapi mampu untuk membalikkan keadaan. Saya penasaran apa yang diucapkan oleh Alfred Riedl kepada para pemain ketika timnas dalam posisi tertinggal ya?…

Nah itu dia 3 hal positif yang dapat kita ambil dari timnas selama Piala AFF 2016 berlangsung. Terlepas dari ‘gagal’ nya tim menjadi juara, perjuangan timnas patut dan layak diacungin jempol. Terima kasih, timnas!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumber foto: My facebook’s homepage

Baca Juga Pembelajaran dari Leicester City

Baca Juga Belajar Toleransi dari Google

Baca Juga Inspirasi dari Seorang Muhammad Ali

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s