Pembelajaran dari Leicester City

Sebuah gol dari Eden Hazard ke gawang Tottenham Hotspur membuat Liga Primer Inggris memiliki juara baru

Passion LeicesterLeicester City adalah kita. Demikian tulisan yang diangkat oleh DetikSport pada bulan Desember 2015 yang lalu. Tak disangka klub yang pada musim lalu tertatih-tatih bertahan di Liga Primer ini justru menjadi kampiun mengungguli para klub yang memiliki gelontoran dana “tak terbatas”.

Di era dimana sepakbola sangat erat kaitannya dengan bisnis, kemampuan finansial klub yang besar seolah-olah mampu menjadi jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Dikutip dari Goal.com, lihat saja bagaimana Manchester City menghabiskan £158 juta musim panas kemarin dan Manchester United membelanjakan dana £285 juta dalam dua musim terakhir. Lantas, bagaimana Leicester City? Jamie Vardy adalah pemain dari non-liga yang hanya memiliki banderol £1 juta, serta winger dari divisi dua Prancis, Riyad Mahrez yang hanya ditebus senilai £450,000!

Bagaimana dengan pelatih? Claudio Ranieri tak ubahnya adalah seorang pelatih yang kerap kali dihubungkan dengan kata “gagal”. Tak heran di awal musim aroma pesimistis begitu menempel pada tubuh Leicester City. Dikutip dari DetikSport, pekerjaan terakhir The Tinkerman sebelum menggantikan Nigel Pearson sebagai manajer Leicester City adalah menjadi pelatih timnas Yunani yang dipecat dengan memalukan karena tidak pernah menang dalam 4 pertandingan dan kalah di kandang dari Kepulauan Faroe!

Pemain Leicester City pun terlihat sebagai pemain “reject”. Dikutip dari DetikSport, Kita sudah tahu cerita bahwa Jamie Vardy dilepas oleh Sheffield Wednesday pada usia 16 tahun karena dianggap tidak cukup bagus dan akibatnya harus bermain di klub amatir Stocksbridge Park Steels.  Tapi sesungguhnya Vardy bukan satu-satunya pemain reject di Leicester City.

Robert Huth dulu dijual Chelsea karena dianggap kalah kualitas dibanding John Terry, William Gallas, dan Ricardo Carvalho. Kontrak Marc Albrighton tidak diperpanjang Aston Villa karena dianggap dirinya hanya bisa melepas umpan silang tanpa dilengkapi kemampuan lain. Kasper Schmeichel selalu hidup di bawah bayang-bayang bapaknya dan ketika dulu ia gagal mendapatkan tempat utama di bawah mistar gawang Manchester City, seketika ia dianggap hanya bermodal nama belakang saja. Jebolan akademi Manchester United, Danny Drinkwater, tidak pernah bermain sekalipun untuk “Setan Merah” dan dijual keluar dari Old Trafford setelah mengarungi bertahun-tahun masa pinjaman di beberapa klub.

Danny Simpson bernasib lebih baik karena pernah 3 kali bermain untuk Man United di liga, tapi pada akhirnya juga dianggap tidak cukup bagus dan terpaksa hengkang. Demikian juga dengan Ritchie De Laet yang dinilai tidak layak menjadi bek Manchester United. Riyad Mahrez? hanya ditebus senilai £450,000 dari  Le Havre.

Leicester City Fans

Dengan segala sumber daya yang Leicester City miliki, meraih gelar juara Liga Primer tentu seperti hal yang mustahil. Tetapi kini mereka telah resmi juara. Panggung Liga Primer telah berhiaskan warna biru dengan gambar “foxes” di tengahnya.

So, apa yang bisa kita pelajari dari mereka?

  1. Passion > Money

Leicester City mengajarkan kita bahwa uang bukanlah segalanya. Sumber daya keuangan yang mereka miliki kalah jauh dengan apa yang dimiliki klub-klub raksasa Liga Primer lainnya seperti Man City, MU, Arsenal, ataupun Chelsea. Tetapi melihat passion yang mereka tunjukkan selama 1 musim, Leicester City membuktikan bahwa dengan kerja keras dan semangat bertanding yang tinggi, gelar juara pun bisa didapatkan.

*Belajar dari poin ini, seberapa kuat passion kita? Seberapa gigih kita berjuang dan bekerja keras?

  1. Kerja sama tim

Dihias oleh pemain-pemain yang seolah-olah “buangan”, kerja sama dan kekompakan lah yang menjadi dasar kekuatan tim. Seperti merasakan nasib yang sama, para pemain justru tidak menunjukkan ego untuk tampil sebagai bintang, tetapi lebih memilih untuk bahu membahu membentuk keutuhan tim. Tidak ada super star seperti Cristiano Ronaldo ataupun Lionel Messi di sana, yang hanya ada seorang Jamie Vardy dan Mahrez. Tak ada Juan Mata, Mesut Ozil ataupun Di Maria, yang ada hanya Drinkwater, Albrighton dan Okazaki. Tidak ada seorang Chiellini ataupun Philip Lahm, yang ada hanya Huth dan Morgan. Tidak ada seorang Buffon atau Neuer di sana, yang ada hanyalah seorang Kasper Schmeichel. Pada intinya tidak ada seorang bertitel bintang di tubuh Leicester City. Tetapi, justru itulah yang menjadi kekuatan mereka.

*Belajar dari poin ini, bagaimana kita melihat tim kerja/kelompok kita saat ini?

  1. Menjadi Underdog

Menjadi sebuah tim yang diremehkan dan tak diunggulkan, justru menjadi poin tersendiri bagi Leicester City. Di awal musim bursa taruhan tentu hampir tak ada yang menjagokan tim besutan Ranieri ini untuk menjadi kampiun. Tetapi inilah letak kehebatannya. Kita seperti disuguhi film di layar lebar di mana sebuah tim dengan kekuatan seadanya dan sama sekali tidak menjadi favorit justru mampu bangkit dan  melejit untuk menjadi juara. Pada awalnya, mungkin hanya “nothing to lose”, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka membuktikan bahwa predikat diremehkan dan tak diunggulkan lah yang menjadi kekuatan. Dan sekarang saatnya Leicester City tersenyum lebar dan memandang orang-orang yang dulu mengecilkan mereka.

*Belajar dari poin ini, bagaimana sikap kita ketika kita diremehkan dan tak diunggulkan Mampukah kita bangkit layaknya Leicester City yang tersenyum di akhir musim?

Menarik untuk kita simak bagaimana perjuangan Leicester City di musim depan mengingat mereka juga akan tampil di Liga Champions. Menarik juga untuk melihat bagaimana cara Leicester City menjaga para pemain “buangan” mereka untuk tidak pindah ke klub lain. Menarik juga melihat bagaimana kita bisa belajar banyak dari perjuangan tim seperti Leicester City…

Dan pada akhirnya.. Selamat Leicester City! You deserve it.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

The difference between the impossible and the possible lies in a man’s determination.
(Tommy Lasorda)

Baca Juga Belajar dari Valentino Rossi

Baca Juga Belajar Mengendarai Motor

Baca Juga Belajar dari Juventus

Source Pict: bbc.com and onsizzle.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s