Masih Jalan di Tempat?

Membuka halaman home dari facebook membuat deg-degan. Perlahan-lahan saya scroll ke bawah sambil membaca perlahan satu persatu update dari teman-teman. Kaget dan terharu. Teman-teman yang membuat saya salut dan bangga. Tetapi di satu sisi, ini semacam teguran.

Seorang teman baru saja mengupdate keberhasilannya diterima dalam suatu program pertukaran pemuda. Ada lagi seorang teman yang berfoto di depan kampusnya di tanah Eropa. Tak ketinggalan, ada lagi yang update baru saja diwawancara oleh suatu televisi swasta terkait gerakan sosial yang dibentuknya. Tak hanya itu, ada lagi yang update keberhasilannya mendapatkan beasiswa di luar negeri. Ada seorang teman yang update jika dia berhasil melalui tes menjadi pramugari maskapai asing. Ada juga yang update foto dirinya dengan selempang nama lengkap beserta titel S2 yang baru saja diraihnya.

Hal yang tak kalah keren ketika membuka linkedin. Teman-teman dengan bangganya mengupdate  linkedin mereka dengan titel dan jabatan yang mereka miliki saat ini. Begitu masuk ke dalam profilnya terlihat jelas bahwa mereka mengemban suatu peranan penting di perusahaan. Ada juga teman yang berfokus pada wirausaha, yang bikin lebih keren, mereka mengambil jalur social entrepreneur. Ada juga yang sekarang sedang fokus dengan bisnis start upnya!

Seperti yang saya sebutkan di atas. Perasaan salut dan bangga ini bercampur dengan suatu teguran halus. Teman-teman saya tersebut sudah melejit dengan kencang. Seumpama perlombaan lari marathon, mungkin garis start kami sama, tetapi persiapan, ancang-ancang, daya juang, serta semangat selama melalui perlombaan tersebut tentu berbeda. Mereka dengan segala perjuangannya berhasil melaju dengan cepat. Halangan dan rintangan tentu saja ada, tetapi mereka mampu melewatinya dengan baik. Pertanyaan saya ajukan ke diri saya sendiri, sudah sejauh mana saya berlari? Apakah justru selama ini saya hanya jalan di tempat?

Saya teringat akan sebuah image yang diupdate oleh seorang rekan di Path. Update tersebut mendapat banyak reaksi love dari teman-teman pathnya.

265508caa4d00f5d303c24a934547932

Hmm.. Terlihat sekilas image tersebut seolah-seolah merupakan pembelaan diri😀. Tapi memang ada benarnya, kalau semua orang memang memiliki “Time Zone” masing-masing. Yang patut digarisbawahi adalah 2 kalimat terakhir. Kita memang memiliki “Time Zone”, tapi doing nothing means get nothing.

Merefleksikan hal ini saya berkaca dan merenung, apa yang harus saya lakukan agar dapat dengan baik mencapai “Time Zone”? Bukankah tanpa bergerak maju “Time Zone” itu tidak akan tercipta? Atau.. Apakah saat ini saya hanya seperti seorang pelari yang sedang jalan di tempat?

The journey of a thousand miles begins with one step
(Lao Tzu)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Memberikan Apresiasi” HERE

Baca Juga “Belajar dari Valentino Rossi” HERE

Baca Juga “Apa Gunanya Sekolah?” HERE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s