Belajar dari Arlo – Sang Good Dinosaur

Peregangan Kapasitas

Good dinosaur

Hari Rabu, 2 Desember 2015 yang lalu, Saya berkesempatan untuk menonton salah satu film hasil karya Disney, yaitu Good Dinosaur. Film yang dinilai imdb memiliki rating 7.4, ternyata bukan hanya film yang dikhususkan untuk anak-anak seperti pikiran saya sebelumnya. Film tersebut mengandung makna yang cukup luas dan memiliki beberapa nilai moral untuk dibawa pulang dan direnungkan.

Dimulai dengan sebuah scene adanya meteor yang jatuh ke bumi, film ini pada akhirnya menceritakan kehidupan sebuah keluarga dinosaurus dengan Arlo, sang anak bungsu sebagai tokoh utamanya.

Arlo adalah seekor dinosaurus yang berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Sebagai anak bungsu, Arlo adalah anak yang penakut, lemah, dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Ketakutan kerap kali menghampiri Arlo, seperti ketika memberi makan ayam. Alih-alih memberi makan, justru Arlo takut dan dikejar-kejar ayam. Bahkan sempat meminta ayahnya untuk mengganti pekerjaan tersebut dengan pekerjaan yang lain. Rasa takut yang lain terlihat ketika Arlo takut melihat kunang-kunang.

Dorongan yang kuat terus diberikan oleh kedua orangtuanya karena hanya tinggal Arlo yang belum memberi mark atau tanda kaki yang merupakan tanda keberhasilan. Sang ayahpun mengambil inisiatif dengan memberikan tugas untuk menangkap makhluk yang selalu mengambil jagung simpanan mereka. Seperti yang telah diduga, Arlo gagal mengemban tugas tersebut. Makhluk itu justru lari. Melihat hal tersebut, sang ayah mengajak Arlo untuk mengejar dan menangkap makhluk tersebut. Tetapi Arlo terlihat lemah dan akhirnya menyerah pada keadaan. Pada saat tersebut justru terjadi banjir badang yang mengakibatkan sang ayah tenggelam di dalamnya.

Perasaan bersalah menghinggapi Arlo. Hingga pada suatu ketika makhluk tersebut muncul kembali. Sayangnya justru Arko terpeleset dan terbawa arus sungai ketika mengejar. Ketika terbangun, Arlo tidak mengetahui dirinya berada di mana.

Ternyata makhluk yang dikejar Arlo adalah seorang anak kecil yang baik, yang diketahui bernama Spot. Mereka pun jadi berteman dan bersama-sama melewati berbagai rintangan untuk dapat kembali ke rumah.  Ketangguhan seorang Arlo terlihat dalam kondisi tersebut. Arlo berhasil untuk meregangkan kapasitas kemampuan yang selama ini tersimpan dan tidak berani dia keluarkan.

Arlo yang sebelumnya penakut menjadi lebih menjadi pemberani. Arlo tidak lagi takut jika ada hewan lain yang menyerangnya. Arko bahkan sampai bisa berenang dan menyelamatkan Spot ketika Spot terancam terbawa arus sungai. Pada film tersebut terlihat jelas betapa ujian-ujian yang ditempuh oleh Arlo berhasil mengubah dirinya menjadi Arlo yang berbeda. Seperti yang selalu dikatakan oleh Ayahnya, “Arlo, kamu sama seperti saya. Bahkan lebih”. Arko berhasil menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk mendengar kata-kata tersebut dari sang Ayah. Film ini diakhiri dengan kesedihan Arlo melepas Spot yang bertemu kembali dengan keluarganya, dan ditutup dengan kegembiraan keluarga Arlo menyambut kembalinya sang anak bungsu. Arlo pun berhasil memberi mark atau tanda layaknya anggota keluarga yang lain.

Film ini sangat jelas menggambarkan bahwa terkadang kita tidak sadar bahwa ada banyak kemampuan sebenernya yang kita punya, sayangnya kemampuan tersebut sering tersimpan dan tidak pernah dikeluarkan. Arlo, ketika diterjang berbagai macam rintangan, barulah mengeluarkan segala kemampuannya. Merefleksikan hal tersebut, sepertinya berlaku juga untuk kita. Kapasitas kemampuan yang ada pada kita akan muncul ketika adanya tantangan yang kita hadapi dan keluar dari zona nyaman kita. Meminjam kata-kata Neale Donald Walsch, seorang penulis, “Life begins at the end of your comfort zone”. Keluar dari kotak nyaman kita, memancing kita untuk berkarya dan mengeluarkan kemampuan terbaik kita. Saya teringat kata-kata seorang mentor, Setiap kali kita melakukan peregangan kapasitas kita, kita sebenarnya sedang mengakses kemampuan lain yang telah disimpan di dalam kita.  Peregangan kapasitas membangun rasa percaya diri, dan meskipun tidak nyaman selama beberapa waktu, ini mempersiapkan diri kita untuk bergerak maju menyusuri jalan menuju masa depan. So, sudah siap meregang? :)

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “3 Hal Positif Bermain Duel Otak” HERE

Baca Juga “Memberikan Apresiasi” HERE

Baca Juga “Experiential Learning” HERE

*sumber foto: http://www.pixar.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s