Belajar dari Valentino Rossi

VR46Hari Minggu kemarin hampir semua sosial media, mulai dari facebook, tiwtter, hingga path dan instagram menayangkan dan menceritakan mengenai serunya seri terakhir Moto GP 2015. Sejatinya saya bukanlah seorang penggemar Moto GP, tetapi karena ramainya berita mengenai kasus antara Valentino Rossi dan Marquez, membuat saya menjadi mengikuti Moto GP. Musim yang penuh dengan kontroversi ini pun berakhir dengan juaranya Lorenzo di sirkuit Valencia kemarin Minggu.

Saya tidak menyoroti siapa yang juara dan mengapa Lorenzo juara. Mata saya tertuju pada seorang Valentino Rossi. Setelah bandingnya ditolak, Rossi harus menerima kenyataan bahwa dengan penalti yang diterimanya, Ia harus memulai perlombaan dari barisan paling belakang. Walaupun masih unggul di tabel klasemen, start dari posisi belakang seolah memudarkan harapan pembalap kelahiran Urbino, 36 tahun yang lalu ini.

Lantas, apa yang terjadi di sirkuit Valencia? Di sini lah Rossi mendapat respek yang sangat tinggi dari para penggemar Moto GP. Memulai start dari paling belakang, Rossi berhasil finis di posisi 4. Total The Doctor berhasil melewati 22 pembalap lain hanya dalam waktu 12 lap! Fantastis!🙂

Apa yang bisa kita pelajari dari perjuangan seorang VR?

  1. Pantang Menyerah

Menyadari bahwa peluang juaranya hampir tertutup, Rossi tetap tahu bahwa para penggemarnya menginginkan agar dirinya tetap bertarung dengan total. Dukungan fans yang luar biasa ditambah semangat pantang menyerah yang dimilikinya membuat VR dengan luar biasa berhasil menyelesaikan balapan di peringkat ke 4.

  1. Juara tak tertulis

Walaupun sejarah mencatat Lorenzo lah yang menjuarai Moto GP pada tahun 2015, secara tak tertulis VR dinobatkan sebagai people’s champion. Setidaknya dengan adanya foto seperti di bawah ini. Secara beruntun foto ini muncul di layar path saya dengan segala komentar positif mengenai The Doctor.

This slideshow requires JavaScript.

  1. Pengalaman dan Skill yang tak berbohong

Dengan segundang pengalaman yang dimilikinya, VR dengan mantap berhasil finis di posisi 4 meskipun harus memulai balapan dari posisi 26. Hal tersebut ditunjang juga dengan kemampuan yang dimiliki sang juara dunia Moto GP 7 kali ini. Bisa dibayangkan apa jadinya jika VR memulai balapan dengan normal?

Pada akhirnya VR harus ikhlas dan berjiwa besar untuk melihat rekan setimnya di Movistar Yamaha, Lorenzo, menjadi juara. Walaupun begitu, VR tetap lah seorang yang juara di hati para fans Moto GP. Pengalamannya, skillnya, dan torehan sejarah yang telah Ia buat membuat VR nampaknya sudah layak menyandang gelar ‘legenda’ di ajang balap motor ini. Di Twitter, @fahrumnisa24 menulis, “Rossi mengajarkan kita, jika kita tidak bisa menjadi juara dunia, maka jadilah juara di mata para penonton dunia.”Forza Vale!

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Schneider Electric Campus Ambassador 2015” HERE

Baca Juga “Memberikan Apresiasi” HERE

Baca Juga “Business Model Canvas” HERE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s