2 Hari di Tanah Sumut

Senin dan Selasa, 25-26 Agustus kemarin Saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Sumatera Utara. Agenda utamanya adalah pada hari Senin yaitu untuk menghadiri prosesi seremonial wisudanya adik Saya yang baru saja lulus dari Universitas Sumatera Utara. Berikut foto kami di acara tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Sementara itu hari esoknya, Kami sedikit jalan-jalan ke Toba. Selain sudah cukup lama tidak melihat danau toba, Kami juga ingin mampir dan melihat Tugu Turnip yang berada di daerah Simanindo. Butuh waktu kurang lebih 4 jam dari Medan untuk mencapai toba. Setelah sampai di sana, kami menuju ke Ajibata untuk menaiki kapal ferry dan menyebrang ke Tomok. Desa tomok merupakan salah satu desa yang terletak di daerah Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk melakukan penyebrangan.

This slideshow requires JavaScript.

Selanjutnya kami langsung menuju ke Tugu Turnip. Ini adalah pertama kalinya Saya melihat tugu tersebut. Well, kelihatan besar dan gagah, terlebih tugu tersebut berada persis di pinggir jalan. Kenapa melihat Tugu Turnip? Yes, karena Ibu saya adalah seorang boru turnip😀

Merasa tanggung sudah ke sana, Kami pun mampir untuk melihat makam Raja Sidabutar dan juga patung sigale-gale. Sebelum memasuki makam Raja Sidabutar ini, Kita diwajibkan untuk memakai ulos (kain adat batak). Tak usah khawatir kalau tidak membawa, karena Kita bisa sewa di sana. Begitu anda masuk, terlihat beberapa makam yang berbentuk peti bahkan ada yang berbentuk kepala manusia. Ada batu yang berukir kepala manusia dengan rambut yang panjang. Setelah mendengar penjelasan dari seorang Bapak di sana, Saya baru tau kalau rambut panjang tersebut merupakan kekuatan raja dan tidak boleh dipotong, layaknya cerita legendaris, samson. Untuk lebih jelasnya, silahkan main-main ke youtube di bawah ini🙂

This slideshow requires JavaScript.

Bagaimana dengan patung sigale-gale? Berdasarkan cerita yang Saya dapat, patung tersebut dibuat untuk mengobat sakit rindu yang dialami seorang Raja kepada anaknya, Manggale. Anak tersebut tewas di medan perang. Untuk mengobati sakitnya, seorang tabib meminta agar dibuatkan sebuah patung yang menyerupai anak tersebut. Lalu sang tabib memanggil roh sang anak dan mengisinya pada patung tersebut. Untuk lebih jelasnya, silahkan main-main ke youtube di bawah ini🙂

This slideshow requires JavaScript.

Setelah mengunjungi tempat-tempat tersebut, kami kembali ke Tomok untuk menaiki kapal ferry dan kembali ke Ajibata, Parapat. Kami pun pulang ke Lubuk Pakam agar lebih dekat ke Bandara Kuala Namu mengingat pesawat saya hari Rabu akan lepas landas jam 5 pagi.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Business Model Canvas” HERE

Baca Juga “Dream Theater – The Spirit Carries On” HERE

Baca Juga “Melihat Firdaus 1” HERE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s