Kepribadian Topeng

Kepribadian Topeng

Kepribadian Topeng

Seorang teman datang kepada Saya. Dia baru saja mengikuti sebuah tes kepribadian (tes psikologi). Dengan semangat dia bercerita. “Do, kenapa ya hasil tes psikologi itu aneh? Gue itu di kalau lagi bareng teman-teman tongkrongan gue ya benar sesuai tuh sama hasil psikotesnya. Tapi kalau lagi sama orang-orang di kantor, gue bisa beda banget. Itu hasil psikotes bener gak sih? Terus jadinya gue itu aslinya gimana ya?”. Sebagai orang yang tidak berasal dari dunia psikologi, Saya coba untuk menggali info terlebih dahulu sebelum menjawab secara langsung.

Hasil dari diskusi dengan teman-teman yang berkecimpung di dunia HR atau psikologi, itu adalah kepribadian topeng (masking). Adanya tuntutan lingkungan  dapat membuat kita menggunakan kepribadian topeng tersebut. Nah yang menjadi pertanyaan adalah apakah topeng tersebut dapat menjadi suatu kepribadian yang permanen?

Hal tersebut bisa saja terjadi jika kita secara perlahan merasa nyaman dengan menggunakan topeng tersebut, tapi bisa saja topeng tersebut digunakan hanya ketika situasi-situasi tertentu. Di saat sudah keluar dari situasi tersebut maka kita dapat kembali ke kepribadian asli kita.

Apakah dengan kepribadian topeng berarti kita membohongi diri sendiri dengan tidak menjadi diri sendiri? Menurut info di sini, kepribadian topeng tidak selalu lebih baik atau lebih buruk dari kepribadian asli kita. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menggunakan topeng bukan berarti membohongi diri sendiri selama digunakan untuk tujuan positif. Sebab, membohongi diri itu adalah ketika kita tidak menerima diri kita apa adanya (menolak takdir). Namun ketika kita menggunakan topeng untuk lebih mudah beradaptasi atau lebih efektif dalam penyelesaian tugas tanpa harus menolak siapa diri kita yang sebenarnya maka itu tidak masalah. Perlu dibaca keras-keras: orang yang sehat secara mental adalah orang yang mampu menerima dirinya apa adanya serta takdir apapun yang menimpa dirinya.

Saya pun melihat hal tersebut terjadi di teman Saya tadi. Ketika sedang bergabung dengan teman-teman satu tongkrongan, dia adalah orang yang sangat enerjik dan punya semangat tinggi ketika bercerita bahkan hingga membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Dirinya terlihat tanpa beban dan rileksTetapi, ketika mendengar cerita dia di kantornya, Saya paham bahwa secara tidak sadar dia sedang memakai topeng menjadi seorang oberserver dan lebih banyak mendengarkan. Karena posisinya yang masih junior di Kantor, topeng tersebut membantu dia untuk mengerti keadaan kantor dan tugas-tugas baru yang dihadapinya. Bagaimana denganmu? Pernah menggunakan topeng?

Semoga bermanfaat.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumber foto: www.psikologizone.com

Baca Juga “Menghakimi Orang Lain” HERE

Baca Juga “Tren HRD 2015” HERE

Baca Juga “Video Game untuk Praktisi HRD” HERE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s