Belajar dari Juventus

Gol dari Vidal ketika Juventus menghadapi Sampdoria di pekan ke 34 SERI A berhasil membuat Juventus mempertahankan gelar SERI A.

Juventus 33

Sebagai seorang Juventini sejak kelas 3 SD, Saya terus mengamati perkembangan Juventus dari musim ke musim. Musim yang bagus dan buruk telah dilewati, dan tentu itu hal yang biasa. Pertanyaannya bagaimana cara menyikapi musim yang buruk? Hal itu yang Saya lihat dari Juventus.

Tidak usah jauh-jauh ke belakang. Pada tahun 2006 Juventus digoncang dengan isu kasus calciopoli sehingg harus turun ke SERI B dan 2 gelar dicabut paksa. Lantas, apa respon dari Juventus?  Tidak main-main, dengan pelatih Didier Deschamps Juventus berhasil menjuarai SERI B bahkan sang kapten Del Piero menduduki top skor pada saat itu. Juventus dengan meyakinkan kembali ke SERI A.

Sekembalinya ke divisi nomor satu di sepakbola Italia tersebut Juventus mencoba bangkit. Dimulai dengan penunjukkan Claudio Ranieri sebagai pelatih yang berhasil membawa Juventus menempati posisi ke tiga di musim pertama mereka kembali ke SERI A, lalu lolos ke Liga Champions 2008-2009 babak kualifikasi ke tiga. Juventus berhasil lolos ke babak grup dah bahkan mengalahkan Real Madrid, walaupun pada akhirnya kalah oleh Chelsea di babak gugur.

Setelah itu, performa tidak bagus menghinggapi skuad nyonya tua ini. Pemecatan Ranieri disusul dengan penunjukkan Ciro Ferara dan Alberto Zaccheroni terbukti tidak berhasil. Juventus hanya mendarat di posisi 7 klasemen akhir 2009-2010. Setelah ini tongkat kepelatihan pindah ke Luigi Del Neri, dan hasilnya pun tak jauh berbeda. Hingga penunjukkan pelatih anyar, Antonio Conte. Berbekal menjadi pelatih Siena, yang berhasil Ia bawa kembali ke SERI A, manajemen Juventus mempercayakan skuatnya untuk dipimpin oleh manajer muda ini. Apa hasilnya?

Dengan Conte sebagai Manajer, Juventus tidak terkalahkan dalam satu musim dan berhasil meraih scudetto pertamanya setelah kasus calciopoli. Juventus pun menjadi tim pertama yang tidak terkalahkan dalam satu musim dalam format 38 pertandingan dalam satu musim, bahkan menjadi tim yang paling sedikit kebobolon (hanya 20 gol dalam semusim).

Secara mengagumkan Conte membayar kepercayaan yang diberikan kepadanya. 3 kali scudetto secara beruntun menjadi bukti, hingga Conte hengkang dan menjadi pelatih Italia. Sepeninggal Conte, penunjukkan Masimmiliano Allegri sebagai pelatih menjadi tanda tanya besar. Aroma pesimis ada di mana-mana. Tetapi, secara perlahan Allegri berhasil membayar kepercayaan yang diembannya.

allegri

Minggu, 3 Mei 2015 Juventus masih menjaga asa untuk meraih treble winner. Berhasil menjuarai SERI A untuk keempat kalinya secara beruntun, semifinal Liga Champion, dan berada di Final Coppa Italia. Secara perlahan Allegri mengubah skema pakem 3-5-2 yang biasa dipakai Conte dengan beberapa formasi sesuai dengan lawan yang dihadapi.

Dari itu semua, apa yang bisa kita pelajari dari Juventus?

  1. Berubah itu Wajar dan Perlu

Perubahan-perubahan yang dilakukan di tubuh manajemen Juventus hingga jajaran pelatih membuat banyak dampak. Ada yang baik, ada juga masih kurang baik. Tetapi itu semua proses yang memang dilalui dan ternyata menghasilkan hal-hal positif di beberapa musim terakhir.

  1. Bangkit dari Keterpurukan

Tenggelam ke SERI B pada tahun 2006 tidak membuat Juventus terpuruk. Saling membahu antar pemain membuat Juventus berhasil masuk ke SERI A dan memberikan penegasan bahwa mereka adalah salah satu tim terbaik di Negeri Spagetti ini.

  1. Kembalinya Culture yang Hilang

Kita mengetahui bahwa peran culture dalam organisasi sangatlah penting. Saya rasa ini poin penting yang dimiliki Juventus. Budaya untuk terus berjuang hingga menit terakhir merupakan salah satu budaya yang dimiliki Juventus, hingga ada sebutan “Lo Spirito Juve”. Peran Conte dan Allegri sebagai leader patut diacungi jempol dalam menjaga agar mental ini tetap terjaga.

  1. Kerjasama Tim

Musim ini Juventus merupakan salah satu tim yang memiliki pertahanan terbaik. Keakraban yang dimiliki para benteng pertahanan, mulai dari Buffon, Chiellini, Bonucci, dan Barzagli tidak sembarang terbangun. Terlebih lagi ditopang dengan adanya Evra, Padoin, dan Ogbonna. Jantung pertahanan Juve terlihat pakem.

Belum selesai, di posisi gelandang ada Pogba, Marchisio, Pereyra, Vidal, Lichtsteiner, hingga sang maestro Pirlo. Posisi penyerang, ada Morata, Llorente, Coman, dan Tevez. Ditambah pula dengan beberapa pemain muda yang sering dimainkan oleh Allegri untuk menambah jam terbang.

  1. Don’t Judge a Coach by His Experiences

Allegri ditunjuk untuk menggantikan Antonio Conte yang secara mengejutkan mundur. Keputusan manajemen klub ini dipandang skeptis oleh sebagian fans, termasuk Saya pada awalnya.  Alasannya adalah Allegri itu eks pelatih AC Milan yang merupakan rival juve. Tapi lebih dari itu, kapasitas Allegri sebagai suksesor Conte diragukan karena Milan terpuruk di musim terakhir pelatih 49 tahun itu. Tetapi, sejauh ini Allegri berhasil mempersembahkan yang terbaik bagi Juventus. Kelihaiannya dalam meramu taktik patut diacungi jempol.

Masih ada 2 title lagi yang diburu. Apapun hasilnya, semoga Juventus tetap menunjukkan permainan terbaiknya. Forza Juve! Juventus per sempre🙂

Juve… Storia di un grande amore

 

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Sumber foto: www.juventus.com, www.sport.leggo.it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s