Apa Gunanya Sekolah?

Pertanyaan sederhana tapi membuat kita berfikir. Jenjang sekolah di Indonesia memang cukup panjang. Ada yang sudah dimulai dari playgroup atau Taman Kanak-Kanak. Setelah itu lanjut 6 tahun di tingkat SD, 6 tahun berikutnya di SMP dan SMA, lalu dilanjutkan dengan kuliah yang memakan waktu minimal 3,5 tahun. Lalu pertanyaannya, apa tujuan dari sekolah yang begitu panjang?

Hari Sabtu lalu ketika mengikuti kuliah Ekonomi Manajerial, Dosen memberi tahu sebuah jurnal yang menarik hasil karya penerima nobel di bidang ekonomi, George Akerlof tentang “The Market for Lemon”. Jurnal yang memang sudah cukup lama karena diterbitkan pada tahun 1970, tetapi memiliki makna dan arti yang cukup dalam.

apa tujuan sekolah

Jurnal itu sendiri adalah hasil pemikiran Akerlof terhadap perkembangan dunia ekonomi dan persaingan dalam pasar. Akerlof menggunakan analogi pasar mobil bekas. Di jurnal tersebut Akerlof menyimpulkan ada 2 jenis mobil bekas di pasar, yaitu mobil dengan kualitas yang bagus (high quality) dan mobil dengan kualitas yang buruk (bad quality) atau di Amerika sering disebut sebagai Lemon. Di antara penjual dan pembeli ada batas kesenjangan asimetri informasi berupa adverse selection, yaitu kesenjangan informasi yang dimiliki penjual dan pembeli. Penjual mobil bekas adalah orang yang mengetahui detail barang dagangannya. Ia tau apakah mobil yang ia jual adalah mobil dengan kualitas bagus (non lemon) atau mobil lemon. Sementara itu pembeli hanya akan mengetahui kondisi mobil berdasarkan informasi yang diberitahukan si penjual kepadanya. Lantas apa yang terjadi?

Sang penjual mobil yang merasa bahwa mobil yang ia jual adalah lemon, tentu akan menutup info tersebut kepada calon pembeli. Ia akan tetap mengatakan bahwa mobil yang ia jual adalah mobil bertipe non lemon, sehingga harga jual akan tetap tinggi. Sementara itu penjual mobil yang memang memiliki mobil non lemon memang akan bercerita kepada pembeli bahwa mobil yang ia jual adalah mobil berkualitas baik. Alhasil, harga jual mobil lemon dan non lemon menjadi sama. Penjual mobil berkualitas non lemon akan merasakan ruginya di sini, karena berapapun harga tersebut, pembeli akan menawar serendah-rendahnya. Pembeli akan mengasumsikan bahwa mobil-mobil tersebut adalah mobil lemon, padahal pada nyatanya belum tentu. Dalam skala yang besar, hal seperti ini tentu akan mempengaruhi kompetisi dan mekanisme pasar.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para penjual mobil non lemon? Ada satu gagasan yang dilepar Akerlof, yaitu memberikan garansi. Para penjual mobil non lemon tentu akan sangat yakin bahwa mobil yang Ia jual adalah mobil dengan kualitas tinggi, sehingga dapat dengan berani memberikan garansi kepada calon pembeli. Bagaimana dengan penjual mobil lemon? Tentu mereka akan menghindari hal tersebut. Memberikan garansi akan sama dengan mendatangkan malapetaka.

Kembali lagi ke judul artikel ini. Apa gunanya kita sekolah? Merujuk pada jurnal Akerlof, tujuan dari kita sekolah adalah memberi sinyal kepada pasar (pasar tenaga kerja) bahwa kita adalah sumber daya non lemon. Dengan memiliki pengalaman belajar, ijazah, sertifikasi, atau piagam, pasar tenaga kerja akan dengan mudah menangkap kita, karena dianggap memiliki telah memiliki kapabilitas dan kompetensi baik hard skill maupun soft skill. Dengan hasil pembelajaran selama bersekolah kita “memberi tahu” pasar tenaga kerja bahwa kita adalah sumber daya dengan kualitas yang baik.

Kita diasumsikan sebagai seorang pedagang. Kita lah yang mengetahui diri kita seutuhnya, sejauh mana kemampuan kita, seberapa tinggi pengetahuan kita, hingga seberapa terampilnya kita. Sebagai seorang pedagang, kita tentu harus pandai untuk menarik calon pembeli (perusahaan) di pasar tenaga kerja. Kita sendiri yang akan menjual diri kita sebagai seorang yang non lemon. Tapi bagaimana cara membuat kita berbeda dengan orang lain yang akan mengaku juga jika mereka adalah orang non lemon? Seperti saran Akerlof, memberi garansi. Garansi seperti apa yang kita tawarkan di pasar tenaga kerja? Silahkan dipikirkan masing-masing sesuai dengan pengalaman dan kapabilitas diri. Di situlah yang akan membedakan kita sebagai seorang non lemon atau justru golongan orang lemon.

Semoga bermanfaat.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

Baca Juga “Memperternakan Kebaikan” HERE

Baca Juga “Belajar 3 Hal Ini dari Tony Fernandes, CEO Air Asia” HERE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s