Memperternakan Kebaikan

Hari Sabtu lalu tanggal 31 Januari, di saat banyak orang sedang menikmati masa-masa weekend nya, Saya dan teman-teman menuju ke kampus PPM Manajemen untuk melanjutkan kuliah. Mata kuliah pada pagi hari tersebut adalah Organizational Behavior atau Perilaku Organisasi. Dosen dalam mata kuliah tersebut adalah Pak Nopriadi Saputra. Ada satu hal yang menarik ketika Ia mengajar. Ia tidak hanya mengajar materi-materi kuliah, tetapi juga Ia membahas nilai-nilai moral.

Suat hal yang menarik ketika kami sedang membahas Culture. Tiba-tiba Ia membandingkan sifat apa yang dimiliki seorang yang “Zero to Hero” dengan “Hero to Zero”.

Ia menanyakan kepada kami perilaku apa yang ditunjukkan masing-masing dari orang-orang tersebut. Dari daftar “Zero to Hero” keluarlah daftar perilaku seperti disiplin, rajin, gigih, tekun, ramah, dsb. Hal-hal positif yang keluar di kolom “Zero to Hero”. Bagaimana yang sebaliknya? Untuk “Hero to Zero” muncullah daftar perilaku-perilaku yang bernada negatif, seperti terlambat, malas, curang, dsb.

Apa yang membedakan kedua perilaku tersebut? Orang-orang “Zero to Hero” adalah orang-orang yang menabur benih-benih bunga yang indah untuk menghasilkan kebun bunga yang indah. Setiap hari orang-orang ini dengan rajin merawat kebunnya. Alhasil, kupu-kupu yang indah datang ke kebun bunga tersebut. Lantas, bagaimana dengan orang-orang “Hero to Zero”? Mereka adalah orang-orang yang sedang menumpuk sampah-sampah di tempat pembuangan sampah. Sampah tersebut akan membusuk dan didatangi hewan-hewan seperti ulat, tikus, dan kecoa.

Makna dari ilustrasi di atas cukup dalam. Orang-orang “Zero to Hero” adalah orang-orang yang dengan konsisten menabur benih-benih bunga seperti kedisiplinan, kerajinan, kegigihan, ketekunan, dan keramahan. Alhasil mereka membuat diri mereka layaknya kebun bunga yang didatangi oleh kupu-kupu cantik, berupa ketenangan hidup, kemakmuran, dan keselamatan. Sementara itu orang-orang “Hero to Zero” dengan konsisten menumpuk sampah-sampah, seperti keterlambatan, kemalasan, dan kecurangan. Alhasil mereka mebuat diri mereka seperti tempat pembuangan sampah yang didatangi hewan-hewan seperti ulat, tikus, dan kecoa, yang berupa kehancuran dan kegagalan.

memperternakan kebaikan

Apakah orang-orang “Zero to Hero” benar-benar tidak menumpuk sampah? Tentu Tidak. Setiap harinya akan ada godaan untuk menumpuk sampah di kebun bunga yang ia miliki. Tetapi Ia berhasil mengontrol dirinya untuk terus konsisten menanam hal-hal baik di kebun bunganya dan tidak memilih untuk menumpuk sampah-sampah tersebut.

Di kehidupan nyata, siapakah orang-orang “Zero to Hero”? Bisa kita lihat dalam kehidupan orang-orang seperti Ibu Teresa, Mahatma Gandhi, Paus Yohanes Paulus II, dan masih banyak lagi orang-orang yang seperti ini di kehidupan sehari-hari kita. Mereka dengan konsisten memperternakan kebaikan di kebun bunga yang mereka miliki. Tak heran jika kupu-kupu cantik sering mampir ke kebun bunga mereka. Lalu bagaimana dengan “Hero to Zero”? Contohnya adalah para koruptor yang tidak bisa menahan godaan menumpuk sampah dan tidak sadar kalau Ia sedang membangun tempat pembuangan sampah.

Pilihannya ada di kita. Mau memperternakan kebaikan atau menumpuk sampah?

Semoga bermanfaat.

Salam,
Ewaldo Reis Amaral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s