Employer Branding: Di Kala Para CEO dan Manajemen Turun Tangan

“Your employer brand isn’t what you say it is. It’s what people tell you it is.”
Sir Terry Leahy (former CEO of Tesco)

Employer Branding

Employer Branding

Perkembangan media sosial yang cukup pesat akhir-akhir ini dapat menjadi sebuah sisi positif bagi perusahaan/komunitas dalam melakukan Employer Branding. Dikutip dari Wikipedia, Employer Branding sendiri adalah “building an image in the minds of current employee and the potential labour market that the company, above all others is a great place to work”. Manfaat dari Employer Branding sendiri sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Collins dan Steven (2002) yaitu suatu Employer Branding yang kuat akan menarik pelamar-pelamar yang jauh lebih baik serta mempengaruhi ekspektasi mereka terhadap perusahaan yang dilamarnya. Bahasa singkatnya Employer Branding adalah kemampuan perusahaan untuk memasarkan dirinya kepada para calon karyawan dan karyawan yang ada bahwa perusahaan tersebut adalah tempat yang baik untuk bekerja dan membangun karir.

Banyak perusahaan yang sudah aware dengan salah satu “senjata” para praktisi HR ini. Dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, banyak perusahaan pula yang menggunakan media sosial untuk memasarkan dirinya. Tak hanya itu, perusahaan-perusahan tersebut juga sadar bahwa kelangsungan perusahaan mereka akan diserahkan nantinya kepada para calon-calon karyawan di luar sana, mereka yang masih muda hingga yang baru lulus kuliah. Pendekatan menggunakan media sosial terasa sangat efektif untuk mencapai sasaran tersebut. Pertanyaannya, di tubuh perusahaan, tugas siapakah itu? Bagaimana jika tugas tersebut dilakukan juga oleh para CEO dan manajemen?

Hal itulah yang menarik perhatian saya. Sebut saya Handry Satriago (CEO GE Indonesia), Mardi Wu (CEO Nutrifood), Betti Alisjahbana (ex CEO IBM Indonesia), Budi G Sadikin (Dirut Bank Mandiri), Josef Bataona (HR Director Indofood), Hasnul Suhaimi (CEO XL), dan Petty S Fatimah (Pimred Femina). Mereka adalah para petinggi di perusahaan tempat mereka bekerja. Di sela-sela kesibukan, mereka masih sempat “bermain” bermain dengan media sosial. Silahkan tengok berapa jumlah followers dan teman mereka di twitter dan facebook.

Melalui akun media sosial yang mereka miliki, para manajemen tersebut dapat melakukan personal touch dengan para orang muda, orang-orang yang akan menjadi “pengganti” mereka kelak. Silahkan dilihat betapa terampilnya mereka untuk melakukan sharing dan berkicau di twitter. Suatu hal yang lebih dahsyat adalah mereka terjun langsung dalam program-program orang muda. Bisa ditengok berapa kali mereka diundang dalam seminar dan menjadi pembicara di dalam dan luar kampus. Selain karena passion mereka yang senang untuk berbagi, tanpa disadari mereka telah melakukan employer branding. Dalam setiap kicauan dan seminarnya, mereka pasti membawa “embel-embel” dari perusahaan mereka baik itu berupa title jabatan ketika pembacaan CV, hingga sharing dalam memberikan contoh kasus yang pernah mereka alami. Secara tidak langsung mereka memasarkan perusahaan tempat mereka bekerja, yang pada akhirnya akan menarik Employer branding mereka tepat sasaran kepada para “calon” pengganti atau suksesor mereka kelak.

Mau hal yang lebih keren? Mereka aktif menjadi mentor di sebuah program gagasan GE, Tempo, dan Nutrifood yaitu Jalan Pemimpin. Sentuhan personal akan lebih terasa. Di sinilah Word of Mouth bekerja. Dari satu orang muda akan tersebar ke orang muda yang lain, bisa secara langsung ataupun melalui postingan/retweet di media sosial. Mereka tidak perlu repot-repot melakukan iklan atau kunjungan ke kampus-kampus, apa yang mereka lakukan melalui media sosial, kicauan dan personal touch yang mereka berikan kepada para followersnya akan memberikan dampak yang mendalam bagi para orang muda “calon-calon” karyawan dan penerus mereka. Tak heran jika nantinya para orang muda tersebut bertanya kepada Pak Handry, “Pak, Apakah ada lowongan di GE?”, atau pertanyaan kepada Pak Mardi, “Pak, Masuk Nutrifood susah gak?” atau sebuah statement yang diberikan kepada Josef Bataona,”Pak, Bapak keren banget! Mau dong jadi kayak Bapak!”

Sehingga apa yang dikatakan oleh Mark Schumann dan Libby Sartain dalam bukunya “Brand for Talent” (2009) benar adanya:
Salah satu hasil penerapan branding bagi perusahaan adalah calon pekerja ingin mengajukan pertanyaan,
“Bagaimana caranya saya melamar pekerjaan di sini?”

Semoga bermanfaat.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral

*sumberfoto: hrinasia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s