Penjahat itu Tidak Sepenuhnya Jahat

Cartoon-Robber-With-GunApa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata penjahat? Atau lebih spesifik lagi, apa yang terpikir oleh anda jika mendengar kata pencuri? Saya yakin hampir semua dari kita membayangkan seseorang yang berperilaku buruk dan merugikan orang lain. Taukah kita bahwa penjahat itu tidak sepenuhnya jahat?

Saya ingin membawa kita pada pemahaman yang baru, bahwa semua perilaku (sebenarnya) didasarkan pada niatan/motivasi yang baik. Selanjutnya, yang perlu kita perhatikan bahwa (sebenarnya) bayangan/pikiran yang muncul di pikiran kita bukanlah sebuah kenyataan. Itu hanyalah persepsi yang muncul di otak kita berdasarkan informasi-informasi yang masuk melalui panca indra kita selama kita hidup. Baca “otak kita itu penipu

 Saya tertarik untuk bertanya, apa yang terlintas di pikiran anda ketika di pagi hari ada metro mini yang ngetem cukup lama di depan anda, sementara anda sedang berada di dalam  mobil menuju kantor? Marah? Kesal? Membunyikan klakson yang begitu kencang? Atau bahkan umpatan-umpatan hewan keluar dari mulut anda? Jika anda mengerti paragraf-paragraf di atas, itulah persepsi di pikiran anda karena di benak anda tertanam bahwa metro mini yang ngetem di depan anda dan bahkan cukup lama, membuat anda menjadi marah dan kesal. Supir metro mini begitu menjengkelkan bagi anda. Dari poin 1-10, dimana 10 adalah kondisi di mana anda sangat marah, sementara 1 kondisi anda sedang bahagia, saya jamin hampir semua di antara kita berada di angka 9-10. Pertanyaannya, jika itu persepsi bisakah kita ganti?

Bagaimana jika kita mengubah sedikit persepsi di pikiran kita? Bagaimana kalau supir metro mini tersebut sedang menunggu penumpang yang banyak agar bisa mendapatkan uang untuk biaya bersalin istrinya? Atau, mungkin metro mini tersebut justru sedang mogok dan sang supir sedang dalam kepanikan luar biasa untuk menghidupkan kembali mesin metro mininya? Hmm. Melihat situasi di atas, ada di angka berapa skala kemarahan kita? Tentu turun dari angka 9 atau 10. Ya, itu semua ada di persepsi/pikiran kita.

Lalu, terkait dengan judul artikel ini, mengapa penjahat tidak sepenuhnya jahat? Bukankah yang namanya penjahat ya memang jahat dan harus dihukum seerat-beratnya? Hmm, jika kita fokus membaca dan memahami paragraf-paragraf di atas (lagi), tentu kita paham bahwa itu semua adalah persepsi kita. Mari kita coba untuk mencari alasan-alasan mengapa penjahat melakukan kejahatan. Bisa saja untuk menghidupi istrinya, untuk membayar uang sekolah anaknya, bahkan bisa saja agar dicap jagoan oleh teman-temannya sesama penjahat. Nah, dari sini kita belajar bahwa semua perilaku (sebenarnya) didasarkan pada niatan yang positif. Niatan positif itulah yang perlu dibawa pada actionatau tindakan yang positif pula.

Ketika bertemu dengan seorang teman di sebuah Mall dan ia tidak menegur anda, apakah dia langsung dapat kita cap sebagai teman yang sombong? Sekalipun ia tidak menegur anda, ia juga punya niatan yang baik; mungkin sedang fokus dengan barang-barang yang ingin ia beli untuk ulang tahun ayahnya, mungkin ia sedang memperhatikan jalannya agar tidak terjatuh karena Mall yang begitu padat. Di kantor, jika ada bos kerjaannya marah mululu, tentu kita paham bahwa itu hanya persepsi kita. Kita dapat menggantinya dengan cara yang sama seperti kondisi supir metro mini yang ngeselin, pencuri yang berniatan baik, serta teman yang sombong. Bukankah bos marah juga karena ada niatan baik di dalamnya? :)

So, apakah penjahat itu baik? Saya tidak mengatakan demikian. Penjahat hanya salah memilih tindakan yang ia lakukan, karena sebenarnya ia memiliki alasan/motivasi yang (sebenarnya) baik. Memilih tindakan atas niatan/motivasi yang baik itulah yang menjadi tanggung jawab kita. Dan, karena sudah mengetahui bahwa setiap tindakan didasari oleh motivasi yang baik, tidak sewajarnya jika kita langsung menghakimi seseorang tanpa mengetahui alasan-alasan (motivasi) di balik itu. Lebih parah lagi jika kita tidak membantunya untuk menemukan tindakan yang tepat atas niat baik tersebut.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral
Niatan positif akan sia-sia ketika tindakan positif tidak menyertainya.

Belajar Hipnotis sampai BISA’ hingga ‘GRATIS Terapi’ :  Di Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s