Otak Kita itu Penipu

perceptionYa, anda tidak salah baca. Otak kita itu adalah ‘penipu’ paling ulung, kita pun dibuat tak berdaya dengan ‘tipuan-tipuan’ yang muncul dari pikiran kita.

Dalam sebuah sesi terapi fobia, saya pernah meminta seorang klien bercerita tentang rasa takutnya terhadap balon. Ia merasa balon adalah suatu hal yang menakutkan. Hanya melihat gambar balon di HP saja ia sudah memalingkan mukanya. Ada lagi seorang klien yang takut akan ondel-ondel. Jika mendengar musik ondel-ondel, ia langsung memasang kuda-kuda untuk berlari. Ada lagi yang takut dengan cicak, kecoa, dsb. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh mereka inilah yang saya sebut sebgai ‘tipuan’ otak.

Apa yang dialami oleh mereka, sejatinya dialami juga oleh kita. Pernah marah dengan seseorang? Pernah terkesima akan ganteng/cantiknya seorang artis? Pernah begitu emosi karena bos yang tiba-tiba memberikan pekerjaan tambahan? Atau bagi para pelajar, pernah malas begitu diberi tugas oleh guru/dosen?

Untuk lebih mudah memahaminya, mari kita simak cerita singkat ini. Ada sepasang kekasih yang sedang merayakan hari anniversary nya. Mereka sedang berada di dalam mobil dan menuju sebuah restoran. Sang wanita sungguh tak sabar karena ingin merasakan momen kehangatan bersama sang kekasih di atas meja makan. Dalam perjalanannya, mereka menemui kemacetan yang luar biasa. Kemacetan tersebut diperparah dengan hujan lebat yang mengguyur jalanan.  Mobil pun mulai ngadat dan mogok.

Sang wanita pun mulai menggerutu dan jengkel melihat macet parah tersebut. Nama-nama hewan di kebun binatang mulai keluar satu persatu dari mulutnya. Sementara itu sang lelaki di sebelahnya menunjukkan ekspresi yang berbeda. Guratan senyum mulai terlihat di bibirnya. Sang wanita pun heran dengan ekspresi yang ditunjukkan kekasihnya.

“Mengapa kamu justru tersenyum? Makan malam kita terancam batal. Peringatan Anniversary kita akan hancur. Dari tahun ke tahun kita selalu dinner di restoran. Mobil kamu mogok. Macet dan hujan ini menghancurkan semuanya!”

Sang lelaki mengajak kekasihnya keluar mobil untuk mengecek keadaan mobil di bawah guyuran hujan. Sang lelaki semakin mengembangkan senyumnya.

“Wahai kekasihku. Tidakkah kamu pandang ini sebagai sebuah yang unik? Jika selama ini kita mengeluarkan uang banyak untuk makan di restoran, bagaimana kalau kita merayakan anniversary kita dengan cara yang berbeda? Di bawah guyuran hujan. Murah dan romantis”. Sang lelaki pun memegang erat tangan kekasihnya, sembari mengucapkan “Hujan dan mobil mogok ini membawa kita ke pengalaman yang baru. I Love you”.

Saya bukan sedang membuat novel percintaan, tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa sekalipun 2 orang mengalami peristiwa yang sama, mereka memiliki persepsi dan pemahaman yang berbeda terhadap peristiwa tersebut. Sepasang kekasih tersebut dihadapkan pada peristiwa yang sama, tetapi mereka berdua memiliki tanggapan/response yang berbeda. Sang wanita beranggapan bahwa hujan, macet, dan mobil mogok sebagai sebuah hambatan dalam memperingati anniversary mereka, sementara sang lelaki menggambil hikmah positifnya. Ia beranggapan bahwa hujan, macet, dan mobil mogok ini membawa mereka pada sebuah pengalaman yang baru, di mana mereka memperingati hari anniversary dengan mengucapkan ‘I Love You’ di bawah guyuran hujan. Pengalaman sama dengan tanggapan yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda pula; Sang wanita dengan rasa jengkel dan menggerutunya, sementara sang lelaki dengan senyum yang mengembang.

Begitulah otak kita. Mengutip Teddy Prasetya, Founder of Indonesia NLP Society, dalam bukunya (NLP: The Art of Enjoying Life), Apa yang terjadi dalam kepala kita hakikatnya adalah PERSEPSI yang kita miliki terhadap suatu peristiwa. Atau Totok Pdy (Buku Saku NLP), Realita (sebuah peristiwa atau pengalaman) sebetulnya bersifat NETRAL, namun karena pemikiran kitalah, maka realita tersebut menjadi memiliki makna. Setiap orang memiliki cara yang unik dan berbeda dalam memberi tanggapan/response terhadap peristiwa yang dialami. Perbedaan cara berpikir inilah yang membuat otak kita membuat persepi-persepsi terhadap apa yang kita lihat, dengar, rasakan (internal representation). Hal-hal inilah yang membuat kita sering ‘tertipu’ dengan persepsi yang dibangun oleh otak kita. Orang yang fobia dengan balon, ondel-ondel, cicak, kecoa, dll disebabkan oleh persepsi yang dibangun oleh pikirannya. Begitu juga dengan bos yang galak, terkesima dengan ganteng/cantiknya seorang artis, guru/dosen yang membosankan, teman yang tidak solid, orang tua yang menyebalkan, dsb.

Saya rasa semua manusia ingin bahagia dalam menjalankan hidup. Dan sekarang menjadi pilihan bagi kita. Mau mengarahkan persepsi-persepsi yang dibangun oleh pikiran kita tersebut ke arah yang memberdayakan dan membuat kita enjoy menjalani hidup, atau tetap terlena dengan ‘tipuan –tipuan’ yang justru membuat hidup kita seolah-olah susah dan menderita.

Salam Damai,
Ewaldo Reis Amaral
Our Performance Depends on Our Response

Fobia: Imajinasi Vs Logika
Belajar Hipnotis sampai BISA’ hingga ‘GRATIS Terapi’ :  Di Sini

               

2 thoughts on “Otak Kita itu Penipu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s