Perihal Mendengar (II)

 2 telinga dan 1 mulut. Hal tersebut sudah cukup menjelaskan  fungsi telinga untuk mendengar seharusnya lebih banyak daripada mulut. Mendengar lebih banyak dan berbicara lebih hemat. Akan tetapi yang sering kita alami dan hadapi sekarang adalah banyaknya kerja mulut tidak sebanding dengan kerja telinga. Jumlah telinga yang 2 buah kalah dengan jumlah mulut yang hanya 1.

Yuk, Mendengar

Yuk, Mendengar

Layaknya sebuah gelas. Ketika gelas tersebut sudah penuh maka kita tidak bisa mengisi gelas tersebut dengan air yang baru. Kita harus mengeluarkan air dari gelas tersebut sebelum menuangkan air baru. Jika kita tetap memaksa menuangkan air baru ke dalam gelas, maka air baru tersebut akan tumpah dan menjadi tak bermakna. Begitu pula kita ketika menggunakan telinga sebagai alat pendengaran.

Jumlah 2 telinga yang Tuhan berikan kepada kita menjadi suatu keharusan bagi kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar pun haruslah dicerna dengan otak bukan hati. Mendengar pun harus dengan tulus dan tidak  ngeyel. Ketika mendengar ada baiknya kita seperti gelas kosong tersebut. Kita kosongkan dulu “gelas” sudah kita punya. Biarlah apapun yang dikatakan orang kita dengar dan kita terima. Tidak memotong pembicaraan orang dan tidak menjadi orang yang sok tahu.

Dengan mengosongkan gelas kita sendiri, kita dapat menjadi pendengar yang baik. Komunikasi yang baik dan efektif pun akan tercipta. Orang yang menjadi lawan bicara pun akan terasa nyaman berbicara dengan kita. Secara tidak langsung pun, lawan bicara kita akan mengosongkan gelasnya juga. Dan pada saat itulah, kita mengisi air kita ke gelas yang menjadi lawan bicara kita.

Tidak memandang siapa pun yang menjadi lawan biacara kita. Kalau yang berbicara kepada kita orang yang lebih tua atau atasan, biasanya akan kita dengar dengan baik. Jika yang berbicara kepada kita adalah orang yang lebih muda, orang yang pengetahuan dan pendidikannya di bawah kita atau bahkan bawahan di kantor, sudah sepatutnya kita mendengarkan dengan baik dengan mengosongkan “gelas” kita juga. Karena, yang menjadi perhatian kita adalah apa yang dibicarakannya, bukan siapa yang berbicara!

Dan, jika cara-cara membaca yang baik belum ramah kepada diri ini; maka gunakanlah cara termudah untuk belajar, yaitu mendengarkan.
–Mario Teguh-

Semoga Berguna.

Salam Damai,

Ewaldo Reis Amaral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s