Perihal Mendengar

Pernah sakit hati ketika mendengar kata-kata dari orang lain? Pernah merasa kesal kepada orang lain akibat kata-kata yang keluar dari mulutnya terlalu tajam?

Perihal Mendengar

Perihal Mendengar

Mendengar adalah suatu hal yang tak dapat lepas dari kehidupan kita. Setiap hari kita mendengar bunyi atau suara yang ditangkap oleh telinga kita. Ketika berada dalam suatu komuniatas,kita banyak mendengar percakapan dari orang lain. Ketika berada di sekolah ataupun kampus, kita akan mendengar kata-kata dari guru atau dosen dan teman-teman. Ketika berada di kantor, kita akan sering mendengar kata-kata dari bos atau atasan, rekan kerja, hingga bawahan. Kata-kata bisa bernada negatif, bisa juga positif. Kita tak bisa memilih kata-kata apa yang ingin telinga kita dengarkan. Kita pun tak bisa menyuruh orang untuk berkata sesuai dengan apa yang telinga kita ingin dengarkan. Telinga kita hanya bisa menangkap dan menerima kata-kata tersebut. Lalu, jika kata-kata itu terlalu tajam sehingga membuat sakit hati, bagaimana?

Berdasarkan hakikatnya, kita tahu bahwa telinga sangat dekat otak kita (kurang lebih 1 jengkal) dan berada cukup jauh dari hati kita (kurang lebih 2 jengkal). Seringkali kita mendengar kata-kata orang menggunakan hati, bukanlah otak.

Kata-kata yang kita terima melalui telinga memiliki 2 pilihan. Apakah kata-kata tersebut akan dicerna oleh hati atau oleh otak. Menjadi tugas kita untuk memilih bagaimana cara mencerna kata-kata tersebut. Ada orang yang memilih mencerna kata-kata tersebut menggunakan hati, dan banyak juga orang yang memilih mencerna kata-kata tersebut menggunakan otak. Apa perbedaannya?

Mau memilih untuk mendegarkan menggunakan hati ataupun otak tak ada salahnya. Bisa kita telaah satu persatu. Mendengar menggunakan hati berarti melibatkan perasaan di dalamnya. Kata-kata orang yang terlalu tajam akan menyakiti perasaan. Membuat sakti hati, kesal, dan jengkel. Setelah itu membuat hari kita menjadi hancur berantakan. Dan yang paling parah, akan menimbulkan dendam yang tak berkesudahan. Begitu pula dengan kata-kata yang manis layaknya pujian. Mendengarkan menggunakan hati berarti kita ikut larut dalam pujian tersebut. Ada perasaan senang di dalamnya. Membuat kita terlena dan malas untuk bergerak lebih lanjut untuk membuat membuat perkembangan yang lebih baik.

Bagaimana dengan mendengar menggunakan otak? Kita akan lebih berfikir dan mencerna kata-kata yang masuk lebih dalam. Jika kata-kata tersebut cukup tajam dan bernada merendahkan, kita akan berfikir bahwa kata-kata tersebut merupakan masukan yang luar biasa bagi diri kita. Kita akan mengganggap kata-kata tersebut sebagai alat koreksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih berkembang. Jika kata-kata tersebut bernada pujian, kita akan berfikir bahwa orang tersebut luar biasa baiknya dengan pujian yang ia berikan, dan kita juga akan berfikir untuk mengembangkan kompetensi yang kita punya. Kita akan merasa tidak puas diri dan haus akan perkembangan. Kita akan berfikir bahwa kita tak cukup hanya sampai di sini. Kita akan belajar untuk terus mengembangkan diri.

Cara kita memilih mencerna kata-kata yang masuk dalam telinga kita akan menentukan kualitas hidup kita. Pilihan ada pada kita. Mau mencerna kata-kata tersebut menggunakan hati atau otak.

Jadi, masih merasa sakit hati ketika mendengarkan kata-kata orang lain?

How well we communicate is determined not by how well we say things, but by how well we understood. –anonim-

Semoga berguna.

Salam Damai,

Ewaldo Reis Amaral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s