Fobia: Imajinasi Vs Logika

Selamat menyambut hari yang baru!

Beberapa rekan sempat mengontak saya dan mereka meminta saya untuk melakukan therapy session kepada mereka karena mereka memiliki fobia. Artikel hari ini ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan yang memiliki masalah dengan fobia atau ketakutan pada suatu hal, baik itu mahkluk hidup (hewan, tumbuhan) maupun non makhuk hidup (fobia ketinggian, kegelapan, dll).

Menurut Wikipedia, Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti.

Bukankah suatu hal yang aneh ketika ada seorang yang berbadan besar ternyata takut ketika melihat kecoa? Atau ada seorang wanita bergelar Master yang takut terhadap cicak? Atau ada juga seorang lulusan terbaik di universitas yang takut dengan ketinggian? 

Apa yang menyebabkan fobia itu muncul? Fobia muncul karena adanya suatu pengalaman/kejadian terasa dan terekam pada pikiran bawah sadar oleh sang pengidap fobia. Pengalaman tersebut bisa saja dialami langsung ataupun tidak langung (dengar pengalaman orang lain, baca berita, dll) dan dirasakan oleh panca indra pengidap fobia.

Sesuai dengan judul pada artikel ini. Imajinasi Vs Logika. Siapa yang menang? Sudah pasti IMAJINASI!

Imajinasi mengalahkan logika. Dan itulah yang terjadi pada para pengidap fobia. Dikarenakan pengalaman/kejadian masa lalunya, pengidap fobia memiliki imajinasi yang tinggi terhadap ketakutan yang ia miliki. Imajinasi tersebut bermain tanpa kontrol di pikiran sadar dan pikiran bawah sadar pengidap fobia. Yang menjadi pertanyaan, apa yang membuktikan bahwa imajinasi mengalahkan logika?

Contoh simpel! Saya mengajukan pertanyaan ini ke beberapa orang yang saya jumpai. Banyak di antara kita menyukai nasi goreng. Baik, saya akan memberikan anda 1 piring nasi goreng spesial secara cuma-cuma. Tetapi, nasi goreng spesial tersebut akan saya sajikan mengunakan pispot (tempat untuk buang air). Apakah anda masih mau nasi goreng tersebut? Rekan-rekan saya langsung mengerutkan dahi dan mulai menggelengkan kepala mereka. Saya perjelas lagi kepada mereka. Pispot ini adalah pispot yang masih baru dan masih bersih. Tetap saja yang saya dapatkan adalah gelengan kepada dan tanda-tanda bahwa mereka mulai mual. Saya perjelas kembali. Begini, pispot ni pispot yang masih bersih dan telah saya rendam di air yang sangat panas dan dijamin higienis, bagaimana masih mau? Tetap saja mereka menggelengkan kepala.

Sekali lagi, imajinasi mengalahkan logika. Secara logika, pispot yang masih baru dan dijamin higienis ini sebenarnya saja sama dengan piring yang biasa kita pakai ketika kita makan. Yang menjadi berbeda adalah, imajinasi kita tetap saja menggambarkan pispot yang biasa dipakai untuk buang air dan tidak layak menjadi tempat makan!

Hal tersebutlah yang terjadi pada pengidap fobia. Imajinasinya tetap saja menggambarkan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Seorang yang berbadan besar, secara logika ia tentu bisa saja menghindar dari kecoa atau bahkan bisa saja membunuh kecoa tersebut. Akan tetapi yang terjadi, imajinasinya terus menggambarkan kejadian lampau yang pernah terjadi pada dirinya dan kecoa. Maka, terjadilah ketakutan besar terhadap kecoa!

Begitu pula yang terjadi pada orang fobia pada cicak, ketinggian, kegelapan, dll. Dikarenakan imajinasinya terus menggambarkan hal-hal negatif, logika pun tak terpakai. Yang didapat hanya kerugian secara mental, selain anda bisa dikerjain oleh rekan-rekan anda, rasa fobia tersebut bisa menular secara tidak langsung ke anak anda!

Tidak banyak yang bisa saya jabarkan di sini. Pesan saya bagi para pengidap fobia yang ingin melakukan terapi, kontrol imajinasi liar yang bermain-main di pikiran anda. Tingkatkan nilai response/tanggapan anda pada kejadian yang pernah terjadi pada diri anda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di sini: “Sensasi Menyikapi Keadaan Negatif“.

Semoga Bermanfaat.

Salam Damai dan KEEP HIGH OUTCOME!
Ewaldo Reis Amaral

‘Belajar Hipnotis sampai BISA’ hingga ‘GRATIS Terapi’ :  Di Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s